Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 09:33 WIB | Sabtu, 11 September 2021

Taliban Bunuh Warga Sipil di Provinsi Panjshir

Pejuang Taliban di atas kendaraan Humvee berparade di sepanjang jalan untuk merayakan setelah AS menarik semua pasukannya keluar dari Afghanistan, di Kandahar pada 1 September 2021 setelah militer Taliban mengambil alih negara itu. (Foto: dok. AFP)

KABUL, SATUHARAPAN.COM-Para pejuang Taliban memperketat kendali mereka atas wilayah Panjshir dengan menolak makanan penduduk dan mengeksekusi warga sipil, kata saksi mata kepada Washington Post.

Para saksi mengatakan kepada Washington Post bahwa Taliban membunuh setidaknya delapan warga sipil yang “bukan pendukung perlawanan atau Taliban.”

Kelompok itu mengumumkan pekan lalu bahwa Panjshir, benteng terakhir gerakan perlawanan anti-Taliban dari kelompok Front Perlawanan Nasional Afghanistan (NRF), berada di bawah kendali kelompok itu.

Namun, pemimpin perlawanan, Ahmad Massoud, bersikeras pertarungan berlanjut dan menyerukan pemberontakan nasional. Seruan Massoud disambut dengan protes di seluruh negeri untuk mendukung gerakannya.

Tetapi Taliban melarang protes tersebut, dan PBB mengatakan kelompok itu melakukan kekerasan dalam upayanya untuk membubarkan mereka.

Juru bicara hak asasi PBB, Ravina Shamdasani, dikutip Al Arabiya, mengatakan Taliban menanggapi dengan peluru tajam, pentungan dan cambuk dan menyebabkan kematian sedikitnya empat pengunjuk rasa.

Sejak menguasai Afghanistan pada 15 Agustus, Taliban melancarkan kampanye pesona untuk merehabilitasi citra garis keras mereka dari era 1996-2001. Namun, para aktivis dan jurnalis mengatakan kenyataan di lapangan sangat berbeda.

Dan aktivis perempuan dan mantan pemimpin politik perempuan mengatakan mereka memperkirakan akan diperlakukan sebagai warga negara “kelas dua”.

Ketika Taliban mengumumkan kabinet mereka awal pekan ini, semuanya laki-laki dan Kementerian Urusan Perempuan dibubarkan.

Kelompok tersebut juga telah melakukan pembalasan terhadap jurnalis, dengan Reporters Without Borders mengatakan jurnalis perempuan sedang dalam proses "menghilang" dari Kabul.

Juga, sebuah outlet berita Afghanistan mengatakan dua jurnalisnya dipukuli dengan cambuk oleh Taliban karena meliput protes. Gambar-gambar di media sosial menunjukkan punggung dan kaki mereka dipenuhi memar dan bekas merah darah.

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home