Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 13:33 WIB | Kamis, 15 Oktober 2015

Terlalu Banyak Main Video Game Pengaruhi Prestasi di Sekolah?

Rata-rata anak akan menghabiskan hampir 2.000 jam di depan layar, biasanya mereka berusia antara sepuh hingga sebelas tahun. (Foto:.telegraph.co.uk)

IRLANDIA UTARA, SATUHARAPAN.COM - Sebuah penelitian terbaru memperingatkan terlalu banyak bermain game komputer bisa mempengaruhi prestasi anak di sekolah. Biro Anak Nasional Inggris Irlandia Utara pada hari Senin (12/10), menerbitkan hasil riset yang menunjukkan, terlalu banyak bermain game komputer menghambat kemungkinan siswa untuk mendapat nilai ujian yang bagus.

"Keterampilan komputer memang dibutuhkan pada era digital ini, dan bermain komputer bisa membantu anak-anak mengasah keterampilan mereka, selama mereka tidak menghabiskan terlalu banyak waktu bermain game komputer," kata para peneliti.

Studi yang dilakukan di Inggris ini, melibatkan 600 remaja dan berlangsung selama dua tahun. Hasil studi menunjukkan, mereka yang tidak bermain game komputer setiap minggu memperoleh nilai yang lebih baik di sekolah daripada mereka yang bermain dua kali sehari atau bahkan lebih dari itu.

Penelitian itu juga menunjukkan, penggunaan media sosial setiap hari tidak mengganggu nilai di sekolah.

"Media sosial jelas tidak mempengaruhi nilai di sekolah. Saya pikir karena media sosial bagian dari kehidupan anak. Itu cara mereka berkomunikasi, cara mereka terhubung dengan teman-teman," kata Celine McStravick dari Biro Anak Nasional Irlandia Utara.

Orang tua semakin sering mengeluh, karena sulit melarang anak-anak mereka bermain game komputer. Beberapa bahkan mencari bantuan, agar anak remaja mereka tidak kecanduan main game.

Studi ini tidak meneliti kecanduan, tapi menyebutkan game komputer bisa menyebabkan anak-anak tidur sampai larut malam, dan kelelahan, sehingga tidak bisa fokus di sekolah keesokan harinya.

Mark Starkey, pemilik toko game komputer Heart of Gaming di London, mengatakan ada perbedaan antara game yang lama dan baru.

"Game baru yang tersedia saat ini lebih detail dan lebih rumit. Game seperti ini bisa menyita perhatian anak-anak lebih lama lagi, karena anak-anak pasti ingin mengetahui kelanjutan ceritanya. Saat mencapai titik tertentu, mereka akan terus ingin mengetahui kelanjutannya. Sementara game lama, lebih memerlukan koordinasi tangan dan mata, kecepatan, timing, reaksi, daripada imajinasi," kata Starkey.

Industri game mengklaim, tidak ada bukti yang menghubungkan game dan kecanduan. Tapi penelitian baru itu menyebutkan riset tambahan dibutuhkan untuk mengetahui efek bermain game komputer terus-menerus pada prestasi di sekolah.

Anak-anak yang mendapat game baru, akan menyisihkan sedikit waktu pada pekerjaan. Dan, empat bulan kemudian, mereka mendapatkan nilai membaca dan menulis lebih rendah. Guru mereka juga lebih mungkin melaporkan masalah akademik.

Hasil itu konsisten dengan hasil survei pada remaja yang bermain video game di Amerika Serikat. Dalam salah satu sampel yang mewakili remaja Amerika yang berusia 10 sampai 19, anak-anak yang bermain video game menghabiskan 30 persen lebih sedikit waktu untuk membaca dan 34 persen lebih sedikit waktu melakukan pekerjaan rumah.

Kompetensi Sekolah

Tapi apakah semua berita buruk? Tidak. Pencela video game tampak bersemangat untuk mempublikasikan studi yang mendukung pandangan mereka. Tetapi, bukti menunjukkan, tidak ada efek dari video game pada pelajaran sekolah.

Beberapa penelitian menunjukkan, anak-anak yang secara teratur bermain video game berada pada risiko sedikit meningkat untuk mengembangkan masalah perhatian di sekolah.

Dan, jelas, beberapa anak, yang di luar kendali bermain video game begitu sering, permainan mulai mendominasi kehidupan mereka.

Bermain video game action disebutkan mungkin dapat meningkatkan keterampilan spasial visual, dan bahkan mungkin membantu anak-anak disleksia meningkatkan kemampuan membaca mereka.

Jadi, ada manfaat positif terkait dengan video game. Bukan tidak mungkin, efek dari game dalam hal prestasi sekolah, bergantung pada konten permainan.

Erin Hastings memimpin survei dari 70 murid laki-laki usia 6 sampai 10 tahun. Timnya meminta orang tua untuk menggambarkan penggunaan video game dan melaporkan prestasi sekolah anak-anak mereka di sekolah. 

Analisis selanjutnya mengungkapkan, waktu yang dihabiskan untuk bermain dikaitkan dengan kompetensi sekolah rendah, tapi hanya untuk video game kekerasan. Anak-anak yang bermain video game pendidikan (seperti Math Blaster atau Pembaca Kelinci) tidak menderita secara akademis. (voaindonesia.com/parentingscience.com) 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home