Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 14:56 WIB | Rabu, 01 November 2017

The Kite, Museum Bergerak ala Kexin Zhang

The Kite, Museum Bergerak ala Kexin Zhang
Lukisan berjudul "The Kite, Flying with You" (tinta-akrilik di atas sutra) karya Kexin Zhang dipamerkan di Galeri Langgeng Jl. Suryodiningratan No.37, Suryodiningratan Yogyakarta hingga 10 Desember 2017. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
The Kite, Museum Bergerak ala Kexin Zhang
Layang-layang naga "New Leading Centipede", tinta di atas kain.
The Kite, Museum Bergerak ala Kexin Zhang
Instalasi teras rumah pecinan pada pameran "The Kite".

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Tiga layang-layang dalam ukuran besar berbentuk naga, kupu-kupu, dan burung berbahan kain dengan lukisan tinta-cat akrilik warna hitam menghiasi lantai dasar dan basement ruang pamer Langgeng art bersamaan dengan foto-foto, video, serta instalasi varied-media.

Pameran multi dimensi tersebut menjadi presentasi karya perupa asal Tiongkok Kexin Zhang dalam upayanya menelusuri lagi rute perjalanan Laksmana Cheng Ho di Thailand, Malaka dan Indonesia sebagai bagian dari momen historis perjumpaan orang Cina dan Jawa.

Kexin menemukan bahwa proses perjumpaan antara Cina-Jawa, Muslim-Budhis, terus berlanjut dan berlangsung hingga kini secara diam dan senyap. Perjumpaan ini membuahkan budaya harmoni yang kokoh. Menarik ketika Kexin menjadikan layang-layang sebagai media presentasi dalam bentuk performance, foto, video dan instalasi ataupun obyek lukisannya.

Pameran yang dibuka pada Selasa (31/10) malam dengan sebuah perform merespon tema pameran tentang layang-layang berupa kolaborasi koreografi Ayu Permata bersama solo-violis Eko Balung dalam persiapan secara spontan beberapa hari sebelum pembukaan. Diskusi-komunikasi melalui aplikasi daring yang dilakukan Ayu Permata dan Eko Balung tanpa latihan menghasilkan sebuah perform koreografi kontemporer dalam iringan repertoar berjudul "Melayang". Pada beberapa sesi tarian, Ayu Permata mengajak pengunjung untuk menari bersama di atas panggung. Sementara Eko Balung membebaskan modus tangga nadanya melayang mengembara ke mana arah angin membawanya.

Ada interaksi dan relasi yang menarik, indah, kebebasan merespon, sekaligus ketegangan pengunjung yang naik disaat dia berkolaborasi dengan penari secara spontan, ataupun ketegangan koreografer atas nada apa yang akan dimainkan selanjutnya sebagaimana relasi layang-layang, pengendali, dan faktor-faktor lain hingga layang bisa terbang sebagai mainan dan hiburan.

Budayawan asal Lasem-Rembang Agik Ns yang turut mendampingi Kexin selama berproses karya di sekitar Lasem kepada satuharapan.com, Rabu (1/11) menjelaskan tentang impresi Kexin terhadap masyarakat Lasem yang secara terbuka menyambut para tamu.

"Pada satu foto (The Kite, Lasem, Indonesia #4), ada simbok yang sedang bersih-bersih rumah. Dihampiri dan diajak ngobrol dalam komunikasi yang terbata-bata tapi pembicaraan berlangsung gayeng, padahal Kexin dalam kostum layang-layang kupu-kupu." kata Agik. Dari obrolan tersebut, Kexin memutuskan untuk membuat karya foto bersama simbok tersebut sebagai salah satu dokumentasi performnce-nya.

Lebih lanjut Agik menjelaskan keterkejutan Kexin pada masyarakat Lasem (Tionghoa, pesantren, dan masyarakat setempat) yang menyatu dalam kehidupan sehari-harinya saat melihat batik Lasem yang kental dengan corak akulturasi. Kexin merekonstruksi perjumpaan tersebut pada lukisan akrilik di atas sutra berjudul "The Kite, Flying with You" dan "The Kite, Lasem".

Menyusuri Ayutthaya (Thailand), Malaka (Malaysia), Semarang, Lasem, Surabaya (Indonesia) dengan persinggahan pada kampung pecinan, pesantren, klentheng, masjid, dengan segala aktivitas masyarakatnya, seolah menjadi perjalanan ziarah Kexin pada rute yang pernah disinggahi Cheng Ho. Terlebih karya layang-layang dengan ornamen pada lukisan panel di lingkaran-lingkaran layang-layang naga mulai dari Budha di Ayutthaya, perkawinan putri Campa dengan raja Cirebon, gugusan armada kapal Cheng Ho, hingga lukisan Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang banyak dijumpainya di klentheng-klentheng di Indonesia.

Pada sebuah bilik, Kexin membuat display ruangan teras rumah pecinan lengkap dengan pintu tua bertuliskan aksara China warna merah, sebuah meja altar lengkap dengan cermin serta dihiasi di kiri-kanan dengan foto dokumentasi proses karyanya. Pada satu dinding terpasang LCD proyektor yang memutar perjalanan Kexin melewati rute Cheng Ho.

Layang-layang adalah mainan tertua di dunia yang hingga kini masih berkembang di berbagai negara. Walaupun belum diketahui siapakah penemu layang-layang, tetapi Tiongkok tercatat sebagai asal muasal layangan pertama di dunia yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 2800-an SM. Pada sisi lain, ahli layang-layang internasional, Wolfgang Bieck, menemukan bahwa layang-layang pertama di dunia adalah kaghati, layangan khas Pulau Muna, Sulawesi Tenggara yang diperkirakan berasal dari masa 9000-5000 SM.

Melihat karya layang-layang yang penuh ornamen serta ilustrasi pada karya foto-video performance, lukisan, dan instalasinya seolah Kexin Zhang membawa museum bergerak-nya melintasi ruang waktu masa lalu dan saat ini.

Pameran "The Kite" akan berlangsung di Galeri Langgeng Jl. Suryodiningratan No.37, Suryodiningratan Yogyakarta hingga 10 Desember 2017.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home