Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 14:39 WIB | Sabtu, 01 Mei 2021

Turki Ancam Ambil Tindakan pada AS karena Mengakui Genosida Armenia

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. (Foto: dok. AFP)

ANKARA, SATUHARAPAN.COM-Turki menanggapi keras pernyataan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, bahwa pembantaian orang-orang Armenia di Kekaisaran Ottoman merupakan genosida. Ini "sangat keterlaluan" dan Turki akan menanggapi dalam beberapa bulan mendatang, kata juru bicara kepresidenan Turki pada hari Minggu (25/4).

Biden pada hari Sabtu (24/4) mengeluarkan pernyataan bahwa pembunuhan tahun 1915 itu sebagai genosida. Sebelumnya AS sangat berhati-hati untuk pernyataan itu, terkait hubungannya dengan Turki. Pernyataan Biden menyenangkan Armenia dan warga diasporanya, tetapi semakin memperrumit hubungan antara Washington dan Ankara, di mana keduanya anggota aliansi militer NATO.

"Akan ada reaksi dalam berbagai bentuk dan jenis dan derajat dalam beberapa hari dan bulan mendatang," kata Ibrahim Kalin, juru bicara dan penasihat Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara.

Kalin tidak merinci apakah Ankara akan membatasi akses AS ke pangkalan udara Incirlik di Turki selatan, yang telah digunakan untuk mendukung koalisi internasional dalam memerangi ISIS di Suriah dan Irak. Itu di antara langkah-langkah yang mungkin diambil.

Setelah pejabat Turki lainnya dengan cepat mengecam pernyataan Biden pada hari Sabtu, Erdogan akan membahas masalah tersebut setelah rapat kabinet pada hari Senin (26/4), kata Kalin. "Pada waktu dan tempat yang kami anggap tepat, kami akan terus menanggapi pernyataan yang sangat disayangkan dan tidak adil ini," katanya.

Turki mengakui bahwa banyak orang Armenia yang tinggal di Kekaisaran Ottoman tewas dalam bentrokan dengan pasukan Ottoman dalam Perang Dunia Pertama, tetapi menyangkal pembunuhan itu diatur secara sistematis dan merupakan genosida.

Masalah Hubungan

Selama beberapa dekade, langkah-langkah yang mengakui genosida Armenia terhenti di Kongres AS dan sebagian besar presiden AS menahan diri untuk tidak menyebutnya demikian, tertahan oleh kekhawatiran tentang ketegangan hubungan dengan Turki.

Tapi hubungan itu sekarang sudah bermasalah. Washington menjatuhkan sanksi kepada Turki atas pembelian sarana pertahanan udara Rusia, sementara Ankara marah karena Amerika Serikat mempersenjatai pejuang YPG Kurdi di Suriah dan tidak mengekstradisi ulama Turki yang berbasis di AS yang dituduh mendalangi upaya kudeta 2016, Fetullah Gulen.

Menelusuri perselisihan itu sekarang akan lebih sulit, kata Kalin. "Segala sesuatu yang kami lakukan dengan Amerika Serikat akan berada di bawah pernyataan yang sangat disayangkan ini," katanya.

Kalin mengatakan parlemen Turki diperkirakan akan membuat pernyataan pekan ini. Para pengamat mengatakan anggota parlemen mungkin membalas secara retoris terhadap Biden dengan mengklasifikasikan perlakuan penduduk asli Amerika oleh pemukim Eropa sebagai genosida.

Selain membatasi akses ke Incirlik, Turki juga memiliki opsi untuk mengurangi koordinasi militer dengan Amerika Serikat di Suriah utara dan Irak atau mengurangi upaya diplomatik untuk mendukung pembicaraan perdamaian Afghanistan, kata Ozgur Unluhisarcikli, direktur kelompok penelitian Dana Marshall Jerman di Ankara.

Bukan Waktu Yang Baik

Namun pada kenyataannya, opsi Erdogan terbatas karena ia telah berjuang melawan salah satu tingkat kasus COVID-19 harian tertinggi secara global dan telah melihat mata uang lira jatuh mendekati posisi terendah sepanjang masa terhadap dolar pekan lalu.

"Ini adalah periode yang sulit bagi Turki dan ini bukan saat ketika Turki ingin bertengkar dengan siapa pun, apalagi Amerika Serikat," kata Unluhisarcikli.

Kalin mengatakan para pejabat AS telah memberi tahu Turki bahwa deklarasi tersebut tidak akan memberikan dasar hukum apa pun untuk potensi klaim reparasi.

Namun demikian, Erdogan mengatakan kepada presiden AS ketika mereka berbicara melalui telepon pada hari Jumat (23/4), percakapan pertama mereka sejak Biden menjabat tiga bulan lalu, bahwa akan menjadi "kesalahan besar" untuk melanjutkan pernyataannya.

"Untuk mereduksi semua itu menjadi satu kata dan mencoba mengimplikasikan keterlibatan Turki, nenek moyang Ottoman kami terlibat dalam aksi genosida, sungguh keterlaluan," kata Kalin. "Itu tidak didukung oleh fakta sejarah". (Reuters)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home