Loading...
SAINS
Penulis: Sotyati 10:53 WIB | Rabu, 25 November 2015

Universitas Muhammadiyah Malang Juarai Kontes Bangunan Gedung

Tim “Candra Surya” dari Universitas Muhammadiyah Malang meraih gelar juara umum dalam Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) di Universitas Kristen Maranatha, Bandung, 19-22 November lalu. UMM meraih waktu tercepat, paling indah, dan tahan goncangan gempa, yang mengantar UMM meraih gelar juara di tiga kategori sekaligus, yakni kreativitas dalam rancang bangunan, kesesuaian implementasi, dan metode pelaksanaan konstruksi. (Foto: umm.ac.id)

BANDUNG, SATUHARAPAN.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menggondol gelar juara umum dalam Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) di Universitas Kristen Maranatha, Bandung, 19-22 November lalu. UMM menggeser dominasi juara bertahan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan tim tuan rumah.

Perebutan Piala Reka Cipta Griya Indonesia dari Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi RI itu, seperti dikutip dari situs resmi umm.ac.id, berjalan kompetitif. UMM harus bersaing dengan 32 proposal yang masuk dan menjadi 10 finalis yang harus melakukan presentasi di Bandung.

Mengandalkan bangunan miniatur bernama “Candra Surya”, UMM berhasil menyingkirkan kesembilan finalis dari berbagai kampus besar di Indonesia, seperti ITS, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Brawijaya (UB), dan Politeknik Bandung.

Dekan Fakultas Teknik UMM, Ir Sudarman MT, mengatakan kemenangan itu merupakan buah dari persiapan matang setelah tahun lalu UMM gagal meraih gelar juara. “Tahun lalu kami tuan rumah, tetapi belum beruntung. Kami pelajari kelemahan dan mempersiapkan dengan lebih matang. Alhamdulillah tahun ini kami juara,” katanya.

Dosen pembimbing Tim “Candra Surya”, Ir Lukito Prasetyo MT, mengatakan kemenangan UMM dipicu keunggulan presentasi, metode pelaksanaan, dan estetika. Bangunan miniatur yang dirancang UMM meraih waktu tercepat, paling indah, dan tahan goncangan gempa, yang mengantar UMM meraih gelar juara di tiga kategori sekaligus, yakni kreativitas dalam rancang bangunan, kesesuaian implementasi, dan metode pelaksanaan konstruksi. “Kekuatan kami pada teknik sambungan antara kolom dan fondasi,” Lukito menjelaskan.

Secara teknis, kata Lukito, semua finalis memiliki ukuran bahan dan kekuatan balok yang sama. Namun, teknik sambungan itulah yang membedakan ketahanan sebuah bangunan. “Kalau terlalu kuat bisa saja, tetapi terlalu mahal. Jadi harus bisa membuat yang lentur dan tidak mahal,” ujar dosen teknik sipil itu.

Tim KBGI UMM terdiri atas Mahatma Aji Pangestu, Dedy Anggara Putra, Ridho Suryawaldi, 15 kru lain. Tim itu memiliki waktu tiga bulan mempersiapkan rancangannya.

Selain memperoleh piala,  sebagai juara umum tim juga memperoleh hadiah sejumlah Rp 12,5 juta dan uang pembinaan Rp 5 juta.

Sementara itu, dalam waktu bersamaan, UMM juga mengirim tim untuk Kontes Jembatan Indonesia (KJI). Dalam kontes itu, UMM meraih gelar juara kategori pengerjaan tercepat untik jembatan busur Tim “Surya Wirasena”. Sebelumnya, UMM juga menjuarai KJI, yakni meraih gelar juara pada kategori jembatan baja dua tahun berturut-turut 2009-2010, dan jembatan busur tahun 2011. (umm.ac.id)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home