Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 09:48 WIB | Minggu, 31 Januari 2021

Virus Nipah di China Diduga Jadi Pandemi Berikutnya

Dokter dan kerabat yang mengenakan alat pelindung membawa jenazah korban virus Nipah yang merusak otak, dalam pemakamannya di sebuah kuburan di Kozhikode, di negara bagian Kerala, India selatan. (Foto: dok. Reuters)

SATUHARAPAN.COM-Wabah virus Nipah di China, dengan tingkat kematian hingga 75 persen, berpotensi menjadi risiko pandemi besar berikutnya, dan perusahaan farmasi raksasa kemungkinan tidak siap, karena saat ini memfokuskan upaya mengatasi COVID-19, menurut laporan Access to Medicine Foundation.

“Virus Nipah adalah penyakit menular lain yang muncul dan menimbulkan kekhawatiran besar. Nipah bisa meledak kapan saja. Pandemi berikutnya bisa jadi infeksi yang resistan terhadap obat,” menurut laporan  The Guardian mengutip Jayasree K Iyer, Direktur Eksekutif Access to Medicine Foundation yang berbasis di Belanda.

Virus ini langka dan disebarkan oleh kelelawar buah, yang dapat menyebabkan gejala mirip flu dan kerusakan otak. Ini dapat menyebabkan ensefalitis, atau radang otak, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Perawatan yang biasa dilakukan adalah perawatan suportif.

Wabah virus Nipah di negara bagian selatan India, Kerala, pada 2018 merenggut 17 nyawa. Pada saat itu, negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk sementara melarang impor buah dan sayuran beku dan olahan dari Kerala sebagai akibat dari wabah di sana.

Saat itu, pejabat kesehatan percaya bahwa wabah Nipah di Bangladesh dan India mungkin terkait dengan minum jus kurma.

Laporan Access to Medicine Index 2021 melihat tindakan dari 20 perusahaan farmasi terkemuka di dunia untuk membuat obat, vaksin, dan diagnostik yang lebih mudah diakses. Ditemukan bahwa penelitian dan pengembangan untuk COVID-19 telah meningkat dalam setahun terakhir, tetapi risiko pandemi lainnya sejauh ini belum tertangani.

“Indeks ini disiapkan selama krisis kesehatan masyarakat terburuk dalam satu abad, yang telah mengungkapkan ketidaksetaraan kronis akses ke obat-obatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, setelah bertahun-tahun mendorong perencanaan akses, kami sekarang melihat pergeseran strategis ke arah ini. Ini secara radikal dapat mengubah seberapa cepat akses ke produk baru dicapai, jika kepemimpinan perusahaan bertekad untuk memastikan orang yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak berada di antrean terakhir,” kata laporan itu mengutip pernyataan Iyer.(The Guardian/Al Arabiya)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home