Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 07:09 WIB | Rabu, 08 Maret 2017

42 Keluarga Hidup di Lokasi Tanah Bergerak

Warga menunjukkan retakan di tengah jalan antarkecamatan di desa Tleter, Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (7/3). Bencana tanah bergerak terjadi di dua desa di kecamatan Kaloran menyebabkan sedikitnya 17 rumah mengalami rusak dan retakan di jalan aspal sepanjang 25 meter. (Foto: Antara)

BATANG, SATUHARAPAN.COM - Sebanyak 42 keluarga Desa Pranten, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, hidup di lokasi rawan tanah bergerak sehingga diimbau waspada terhadap kemungkinan munculnya bencana tersebut.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang, Yesaya di Batang, Selasa (7/3), mengatakan bahwa kerawanan bencana ini karena kondisi struktur tanah Desa Pranten, Kecamatan Bawang relatif terjal dan curam.

"Karena itu tanah bergerak ini rawan longsor di saat hujan deras melanda wilayah tersebut," katanya.  

Menurut dia, selain longsor, selama rentan enam bulan terakhir ini, sejumlah wilayah desa di Kecamatan Bawang, terutama yang berada di lereng pegunungan Dieng juga sudah terjadi bencana kebocoran uap panas di ladang sumur milik PT Geo Dipa Energi (GDE) dan banjir lumpur.

"Pada kebocoran uap panas itu mengakibatkan matinya vegetasi areal pertanian warga dan korosi pada genteng rumah warga yang terbuat dari seng," katanya.

Ia mengatakan, untuk mengantisipasi banjir lumpur susulan ini, pemkab sudah melakukan mitigasi struktural dengan tim teknis dinas pekerjaan umum agar membangun talud dan saluran agar limpasan air dari bukit tidak langsung meluap ke jalan dan permukiman.

Selain itu, kata dia, dalam rangka kesiapsiagaan bencana, pemkab juga mengagendakan kegiatan gladi lapangan untuk simulasi bencana tanah longsor dengan melibatkan ratusan relawan.

"Melalui latihan bersama ini, kami berharap masyarakat bisa memahami langkah yang perlu diambil saat terjadi bencana," katanya. (Ant)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home