Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Sotyati 23:49 WIB | Minggu, 29 Juli 2018

50 Tahun PPK Tabitha, Impikan Rumah Duka Sendiri

Pengurus dan manajemen Perkumpulan Penghiburan Kedukaan (PPK) Tabitha bergambar bersama dalam perayaan syukur 50 tahun di Jakarta, 27 Juli 2018. (Foto: Sotyati)

SATUHARAPAN.COM – Perkumpulan Penghiburan Kedukaan (PPK) Tabitha menggelar perayaan ungkapan syukur ulang tahun ke-50 di Grand Ballroom Holiday Inn Jakarta Kemayoran, Jumat 27 Juli 2018.

Sebagaimana diungkap dalam sambutan-sambutan, yang dikemukakan langsung ataupun melalui tayangan video, suka-duka dilalui PPK Tabitha dalam perjalanannya hingga menginjak usia 50 tahun. Diakui, tidak mudah melalui dan mencapai usia saat ini, tanpa penyertaan Tuhan.

Awalnya didirikan karena adanya kebutuhan pada pelayanan diakonia, terutama melayani keluarga kurang mampu, kini PPK Tabitha, seperti disampaikan Ketua Umum PPK Tabitha, Tan Tiong Gie, dalam perbincangan dengan Satuharapan.com, berkembang melayani lintas agama. Dalam sambutannya, ia menyampaikan unit pelayanan di bawah Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sinode Wilayah Jawa Barat ini mampu berkembang secara profesional, yang dikelola secara kristiani.

Keberhasilan itu diraih, seperti pengakuannya, tidak lepas dari tim yang solid, baik di kepengurusan ataupun manajemen, melalui kerja sama yang bagus. Sumber daya manusia yang profesional, ia menggarisbawahi, termasuk salah satu penentu keberhasilan, “Tentu yang mau melayani, mengingat ini kerja pelayanan 24 jam.”

Mengusung moto pelayanan “Sobat di Kala Duka”, PPK Tabitha kini telah memiliki lebih dari 21.000 anggota. Uniknya, seperti dikemukakan Tan Tiong Gie, hanya sekitar 30 persen dari jumlah itu jemaat GKI. Sebagian besar justru berasal dari luar GKI, termasuk juga Buddha, Konghucu, bahkan Islam.

Berkaitan dengan pelayanan bagi non-Kristen itu, Pdt Imanuel Kristo, Ketua I Pengurus PPK Tabitha, mengatakan gereja memang memiliki komitmen pelayanannya terbuka untuk semua orang dalam rangka kesungguhan berbagi ruang.  

PPK Tabitha menyediakan pelayanan paripurna, mulai dari peti jenazah berbagai jenis sesuai kebutuhan, pelayanan dekorasi dan bunga, catering, foto dan video liputan, iklan duka cita. Pelayanan lain adalah penjemputan jenazah hingga pengantaran ke peristirahatan terakhir dengan mobil jenazah, standar hingga eksklusif, diserta pengawalan mobil dan motor voorijder.

Berkaitan dengan relasi inklusif, PPK Tabitha bekerja sama dengan partner-partner dari keyakinan lain.   

Kebijakan CSR

Memasuki usia emas ke-50 PPK Tabitha, Tan Tiong Gie menyatakan tekadnya untuk terus maju di tengah persaingan ketat usaha sejenis, dengan mengikuti dinamika perubahan. Ia mengungkapkan masih ada beberapa “pekerjaan rumah” yang harus dikerjakan. Selain terus berbenah, yang paling penting adalah mewujudjan mimpi memiliki rumah duka dan krematorium sendiri.

“Memang hampir mustahil membangun rumah duka di Jakarta, karena adanya peraturan dalam radius 500 meter dari rumah duka tidak boleh ada sekolah, tempat ibadah, dan tidak boleh ada keluarga atau warga yang menolak,” ia menjelaskan.

Hingga saat ini, selain bekerja sama dengan rumah duka dari rumah sakit-rumah sakit di Jakarta seperti RS PGI Cikini, RSAB Harapan Kita, Rumah Duka Bandengan, Rumah Duka Oasis Lestari, Rumah Duka S Fatmawati, Rumah Duka Sentra Medika Cibinong, PPK Tabitha mendapat kepercayaan mengelola penuh Rumah Duka RS Husada Jakarta Pusat. PPK Tabitha juga terus memperluas peluang kerja sama itu.

Satu hal yang menggembirakan, seperti juga dikemukakan Ketua Umum Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah (BPMSW) Gereja Kristen Indonesia Sinode Wilayah Jawa Barat Pdt Sheph Davidy Jonazh, sejak dua tahun lalu PPK Tabitha memulai menerapkan kebijakan corporate social responsibility. “Dana CSR ini 50 persen diberikan ke sinode, dan 50 persen dikelola sendiri,” kata Tan Tiong Gie.  

Dana yang dikelola sendiri, seperti dikemukakan Daniel S Rochmadi, GM PPK Tabitha, salah satunya adalah untuk pengembangan usaha finishing peti jenazah.

Membantu Jemaat Miskin

Pendirian PPK Tabitha tidak dapat dilepaskan dari nama Liman Suhendra, anggota pengurus Klasis GKI Jabar (klasis belum dibagi wilayah seperti saat ini, Red), dan Pdt Lukito Handoyo (alm).

Liman menyampaikan gagasan betapa perlu gereja-gereja membantu jemaat miskin yang mengalami kedukaan. Ia mengusulkan gereja menyediakan peti mati gratis bagi anggotanya yang tidak mampu membeli.

Gagasan itu diterima. Yayasan Pemakaman Kristen (YPK) Tabitha pun resmi berdiri pada tanggal 23 Juli 1968. Pdt Lukito Handoyo mengusulkan nama Tabitha, atau Dorkas dalam bahasa Yunani, untuk yayasan yang baru dibentuk itu, dengan mengambil nama perempuan di dalam Alkitab yang banyak berbuat baik dan memberi sedekah.

Pada tahun 2003, Yayasan Pemakaman Kristen Tabitha berganti nama menjadi Perkumpulan Penghiburan Kedukaan (PPK) Tabitha. Misinya, mengurus jenazah dari tempat wafatnya sampai pemakaman atau krematorium, sehingga keluarga yang berduka terbantu pada saat yang berat itu. “Seiring kemajuan di semua bidang, PPK Tabitha pun dituntut untuk menjadi badan yang profesional dalam menjalankan misi,” kata Tan Tiong Gie.

Ke depan, ia memimpikan dukungan penuh dari gereja-gereja di lingkungan GKI. “Gereja-gereja harus berkomitmen, terutama untuk kepengurusan, dengan mengirimkan orang-orang yang memang mempunyai komitmen melayani,” katanya.  

Dalam khotbah hari Minggu (22/7) menyambut ulang tahun PPK Tabitha di GKI Cawang, pelayan firman Pdt Alexander Urbinus menggarisbawahi bahwa dalam melakukan pelayanan, seseorang harus memiliki kepekaan dan empati, agar pelayanan kita tidak membuat orang lain atau diri kita menjadi tawar hati. 

Berkaitan dengan harapan, Ketua Umum BPMSW GKI Jabar Pdt Sheph Davidy Jonazh mengatakan, “Di dalam usianya yang menginjak 50 tahun, PPK Tabitha harus tetap menjaga jati dirinya sebagai lembaga pelayanan yang didirikan oleh GKI untuk melayani keluarga yang mengalami kedukaan, khususnya warga jemaat diakonia, dengan penuh kasih.*

Editor : Sotyati

Back to Home