Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Yan Chrisna 20:23 WIB | Selasa, 16 April 2013

Aleta Baun Pejuang Lingkungan Hidup Menerima Goldman Environmental Prize

Masyarakat adat Mollo, Gunung Mutis, Nusa Tenggara Timur (foto: goldmanprize.org)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Aleta Baun pejuang lingkungan hidup yang lahir di Lelobatan, Mollo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur mendapat penghargaan Goldman Enviromental Prize 2013 atas kegigihan mempertahankan keaslian lingkungan tempat tinggalnya di Mollo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Aleta Baun menerima Goldman Enviromental Prize hari ini di San Francisco Opera House, Amerika Serikat, sekitar pukul 17.00 WIB.

Goldman Environmental Prize adalah penghargaan yang diberikan kepada seseorang yang memiliki komitmen kuat dalam melindungi lingkungan hidup dan yang mengerjakannya langsung pada masyarakat bawah. Goldman Environmental Prize didirikan oleh Richard N. Goldman (1920-2010) and istrinya, Rhoda H. Goldman (1924-1996) pada tahun 1989 di San Francisco, Amerika Serikat.

Aleta Baun atau biasa dipanggil Mama Aleta karena sejak kecil hidupnya dibentuk oleh nilai-nilai ketua suku hingga menjadi pemimpin komunitas suku Mollo, memulai berjuang pada tahun 1990 saat Bukit Anjaf dan Bukit Nausus di daerahnya di kaki Gunung Mutis akan dijadikan tambang batu marmer dan usaha kehutanan. Pemerintah dan pengusaha tambang telah sepakat untuk mengeksploitasi bukit-bukit batu di wilayah Mollo menjadi pertambangan marmer. Sementara bukit-bukit batu menurut adat Timor adalah nama marga. Nama marga ada pada batu-batu itu. Kalau batu nama itu dihilangkan, maknanya sama dengan menghilangkan identitas orang Timor.

Sejak itu Aleta Baun berupaya menyatukan komunitas adat Mollo untuk bersama-sama menolak pertambangan marmer di wilayah mereka. Menurutnya pertambangan itu akan menghilangkan sumber pangan dan identidas warga Mollo.

Perjuangan Mama Aleta dan Masyarakat Adat Mollo selama 11 tahun mulai membuahkan hasil pada 2007, dengan dihentikannya operasi tambang di daerah tersebut. Mama Aleta secara damai menduduki tempat-tempat penambangan marmer dengan aksi yang disebut "protes sambil menenun." Perusakan tanah hutan yang sakral di Gunung Mutis, Pulau Timor akhirnya bisa dicegah.

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menyambut gembira pemberian penghargaan untuk Aleta Baun ini. "Saya gembira, ini penghargaan yang pantas buat Mama Aleta. Beliau merupakan perempuan adat yang menjadi pemimpin dan memilih menggerakkan perempuan di tengah struktur sosial yang lebih banyak didominasi oleh kaum laki-laki. Mama Aleta berhasil menggerakkan masyarakat adat Mollo untuk kembali percaya pada kekuatan ritual sebagai media yang mempersatukan perjuangan bersama antara masyarakat adat dengan para leluhurnya, salah satunya melawan agresi pembangunan yang masuk dalam bentuk tambang marmer. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada keluarga Goldman karena ini kali ketiga pemimpin pergerakan Masyarakat Adat Nusantara menerima Goldman Environmental Prize. Sebelumnya dimenangkan oleh Bapak (alm) Loir Botor Dingit, Kepala Adat Besar Masyarakat Adat Dayak Bentian dari Kalimantan Timur pada tahun 1997 dan Mama Yosepha Alomang dari Orang Amungme di Papua pada tahun 2001" papar Abdon Nababan, Sekjen AMAN.

Back to Home