Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Trisno S Sutanto 05:43 WIB | Senin, 10 Juni 2019

Bahasa

Saya sering merasa, Indonesia adalah ”laboratorium Pentakosta” paling menakjubkan!
”Veni Creator Spiritus”, sumber gambar: Blog Bishop Douglas J. Fisher

SATUHARAPAN.COM – Tentu saja, bahasa adalah alat komunikasi yang mampu menyatukan orang dari berbagai latar belakang berbeda. Contoh paling bagus adalah ”mukjizat” bahasa Indonesia. Bayangkan jika tidak ada bahasa Indonesia, maka tak terbayangkan sama sekali anak yang lahir di Aceh mampu berkomunikasi dengan anak Papua, dan keduanya merasa sebagai bagian dari kesatuan yang disebut Indonesia itu.

Namun, mungkin tidak banyak yang sadar, bahasa juga semacam penjara yang memisahkan. Setiap orang hidup di dalam penjara, yakni bahasa yang membentuk—kalau istilah ini boleh dipakai—horizon kehidupannya. Bahasa membentuk dan menandai horizon itu. Seberapa luas atau sempit horizon kehidupan seseorang, jelas ditandai oleh seberapa kaya atau miskin perbendaharaan kosa kata bahasanya. Itu sebabnya ada pepatah, ”buku adalah jendela dunia”. Ketika membaca buku, menemukan kosa kata baru yang makin memperkaya bahasanya, maka horizon seseorang makin meluas seluas dunia kehidupan.

Dan salah satu problem besar dalam filsafat kontemporer adalah bagaimana orang dari berbagai horizon bahasa itu dapat saling memahami. Hans Georg-Gadamer pernah mengibaratkan pemahaman bersama itu seperti fusi horizon-horizon (Horizontverschmelzung), semacam peleburan ketika seseorang mengalami horizon kehidupannya makin diperkaya dan diperlebar karena perjumpaan yang dibawa oleh horizon lain, entah lewat buku yang dibacanya, atau orang lain yang ditemuinya.

 

Dua Cerita

Akan tetapi, esai ini bukan traktat filosofis tentang Gadamer atau soal fusi horizon. Saya meletakkan problem bahasa di awal untuk memahami dua cerita yang sangat memikat dari Alkitab. Keduanya sudah sangat dikenal, sehingga tidak perlu dikisahkan ulang di sini.

Pertama, cerita tentang menara Babel (Kej. 11:9). Saya tidak tahu siapa pengarangnya. Boleh jadi ini cerita rakyat yang turun-temurun untuk menjelaskan mengapa masing-masing suku atau kelompok memiliki bahasa sendiri-sendiri yang membuat proses saling memahami sangat sulit, kalau bukannya mustahil.

Dan cerita itu diawali dengan praandaian menarik: di seluruh bumi waktu itu orang memiliki bahasa dan logat yang sama. Kesamaan bahasa dan logat itu membuat mereka mampu melakukan apa saja, termasuk membuat menara yang ujungnya menjangkau langit. Ini semua, menurut cerita menarik itu, konon membuat Tuhan sendiri merasa khawatir.

Lalu Tuhan mengambil langkah drastis: Ia turun dan mengacaubalaukan bahasa mereka, ”sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing”. Tindakan drastis itulah yang menjelaskan makna ”Babel” (dari kata kerja balal, ”mengacaubalaukan”, ”membuat bingung”). Sejak saat itu pula, begitu menurut akhir cerita, suku-suku dan bangsa-bangsa manusia terserak ke seluruh dunia dengan bahasa masing-masing yang menjadi penjara mereka, karena mereka ”tidak mengerti lagi bahasa masing-masing”.

Cerita kedua bergerak sebaliknya dan, konon, berlangsung limapuluh hari setelah Paskah, sehingga dikenal sebagai ”Pentakosta” (Πεντηκοστή, Pentekoste). Lagi-lagi, ceritanya (Kis. 2:1-13) sudah sangat dikenal, karena dibacakan dan dirayakan setiap tahun sebagai hari turunnya Roh Kudus dan hari lahir Gereja.

Saya tidak tertarik membicarakan peristiwa "ajaib" itu, tentang turunnya lidah-lidah api yang disertai tiupan angin keras. Atau tentang glossolalia (γλωσσολαλια, ”bahasa lidah”) maupun xenolalia (ξενολαλια, ”bahasa asing”) yang pengertiannya sampai sekarang masih membingungkan para ekseget dan menjadi topik perdebatan sengit di kalangan gereja-gereja Protestan.

Bagi saya, untuk keperluan esai ini, cerita yang konon dituturkan Lukas sebagai kelanjutan Injilnya itu, jauh lebih memikat jika dibaca bersama dengan cerita menara Babel di atas. Sebab apa yang dituturkan sama: nasib bahasa, walau arahnya bertolak belakang. Dalam cerita menara Babel, Tuhan mengacaubalaukan bahasa manusia. Saat Pentakosta, yang menarik, Tuhan tidak menyatukan lagi keanekaragaman bahasa itu, namun memungkinkan mereka yang datang dari berbagai bahasa saling memahami.

Lukas menuturkannya dengan memikat. Konon setelah Roh Kudus turun, para murid Yesus ”mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain” (xenolalia tadi). Namun, mereka yang mendengarnya, yang datang dari berbagai latar belakang bahasa, atau bahkan kepercayaan berbeda, justru mendengar dalam bahasa mereka masing-masing, ”yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita”. Dengan kata lain, keanekaragaman bahasa tetap ada, tetapi kemungkinan untuk saling memahami kini terbuka lebar setelah dikacaubalaukan saat peristiwa Babel dahulu.

 

Keesaan dalam Kepelbagaian

Saya sadar, kedua cerita di atas memiliki apa yang oleh para ekseget disebut Sitz im Leben, konteks kehidupan masing-masing yang harus dihormati. Apalagi keduanya—kalau sungguh-sungguh terjadi seperti dituturkan Alkitab—dipisahkan oleh  jarak waktu yang sangat panjang, sehingga tidak boleh dibaca sebagai, katakanlah, cerita bersambung.

Namun sebagai cerita, keduanya mencerminkan pergulatan konkret yang sudah lama membuat orang gelisah saat berhadapan dengan keanekaragaman yang memusingkan. Sang penutur cerita menara Babel, yang tidak kita ketahui identitasnya, hanya berusaha menjelaskan bagaimana keanekaragaman bahasa yang dijumpainya muncul. Ia meletakkan problem itu sebagai, katakanlah, ”kutukan” Tuhan atas kesombongan umat manusia yang berambisi membangun menara sampai langit.

Sementara Lukas punya sudut pandang lain. Sembari menuturkan titik awal di mana gereja, sebagai paguyuban umat beriman, mulai lahir dan berkarya, ia memberi kita insight bagaimana sebaiknya memperlakukan keanekargaman. Alih-alih menunggalkannya, yang berarti juga menghancurkan keanekaragaman, tuturan Lukas justru membuka visi tentang keesaan dalam kepelbagaian, a unity in diversity. Di situ keanekaragaman tetap dihargai, namun orang didorong untuk saling memahami, yakni mendengar dalam "bahasa yang kita pakai di negeri asal kita".

Atau, kalau diungkapkan lewat Gadamer, horizon masing-masing orang atau kelompok memang tetap berbeda-beda. Akan tetapi, kesediaan untuk terbuka dan saling berbagi, memungkinkan fusi berbagai horizon tersebut yang akan saling memperkaya setiap orang. Dan Gadamer, sependek pemahaman saya, tidak pernah mengandaikan adanya atau tercapainya suatu horizon tunggal yang menyatukan keanekaragaman.

Persis dalam artian itu, tuturan Lukas terasa sangat gayut dengan persoalan yang kita hadapi, baik dalam hidup menggereja maupun sebagai bangsa. Dahulu pernah dibayangkan bahwa Gereja Kristen Yang Esa (GKYE) adalah semacam peleburan dari seluruh tradisi gereja-gereja Protestan di Indonesia yang membentuk sejenis super church yang tunggal. Namun, pengalaman mengajarkan, bukan keesaan semacam itu yang mungkin dicapai, melainkan keesaan dalam panggilan bersama, proses saling menerima dan menghargai, serta pemahaman bersama pengakuan iman ekumenis yang diwarisi sejak zaman gereja awal mula.

Begitu juga dalam proses membangsa. Kita mewarisi sejarah panjang bagaimana keanekaragaman (kebhinekaan) dinafikan demi kesatuan (ketunggalikaan). Akan tetapi, kini kita makin sadar, upaya tersebut hanya akan menghancurkan  identitas kita sebagai bangsa yang majemuk. Dan kita harus menempuh kembali jalan panjang dan berliku, yang makin diperumit oleh polarisasi sebagai akibat politik busuk para elite, untuk menemukan kembali keesaan dalam kepelbagaian, Bhinneka Tunggal Ika. Bukankah tanpa ketunggal-ikaan, maka kebhinekaan hanya berarti perpecahan? Namun, tanpa kebhinekaan, ketunggal-ikaan hanya berarti penyeragaman yang memuakkan?

Karena itu, saya sering merasa, Indonesia adalah ”laboratorium Pentakosta” paling menakjubkan! Datanglah ya Roh Pencipta, dan perbaruilah muka bumi!

 Penulis adalah aktivis Paritas Institute, Jakarta

Editor : Yoel M Indrasmoro

Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home