Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Reporter Satuharapan 18:13 WIB | Selasa, 14 Agustus 2018

Belajar Membuang Kecurigaan di Sekolah Musim Panas Antaragama

Zahraalsadat Rooholamin dari Iran dan Esther Macheka dari Zimbabwe, bertemu enam minggu dalam sekolah musim panas antaragama yang diselenggarakan Institut Ekumenis di Bossey. (Foto: Peter Kenny/WCC)

SATUHARAPAN.COM – Sekolah Musim Panas Antaragama 2018 di Institut Ekumenis Bossey (Ecumenical Institute di Bossey - World Council of Churches/WCC) itu hanya berlangsung enam minggu. Namun, dalam waktu yang terbilang pendek itu, mahasiswa Kristen, Yahudi, dan Muslim yang mengikutinya, mengemukakan kesan berhasil membuang wasangka terhadap yang lain.

Penanaman tiga pohon menjadi bagian dari upacara kelulusan pada 9 Agustus lalu. Penanaman pohon itu menyimbolkan “merawat ciptaan” dan mencerminkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDGs) untuk 2030, yang terkait dengan tahun ini.

Direktur Bossey Ecumenical Institute, Fr Ioan Sauca, menyerahkan kepada 12 mahasiswa surat tanda kelulusan yang menyebutkan mereka telah menyelesaikan kursus, Sertifikat Studi Lanjutan dalam Studi Antaragama, yang diakreditasi oleh Universitas Jenewa.

Ia mengatakan kursus itu adalah kursus ke-13 yang diselenggarakan oleh Institut Bossey, yang dimulai pada tahun 2006 oleh yayasan Islam, Yahudi, dan Kristen.

“Orang-orang mengkhawatirkan kursus ini akan mencairkan identitas, sekaligus ada prasangka ada agenda tersembunyi untuk mengubah keyakinan orang," kata Sauca. Namun, ia menambahkan, “Kursus ini justru membuat orang lebih baik - Muslim, Yahudi, ataupun Kristen.”

Ia mengingatkan, ruangan yang digunakan sebagai tempat upacara adalah tempat bersejarah. Di ruangan itu Paus Fransiskus bersantap siang ketika mengunjungi Dewan Gereja Dunia  atau WCC satu bulan yang lalu, sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-70 WCC.

Mengumpulkan Beragam Orang Bersama

Direktur Sauca menjelaskan bagaimana kursus dengan beragam orang dari beragam latar belakang itu berjalan, dan bahkan ada pernikahan yang dihasilkan darinya.

“Tetap berhubungan adalah kuncinya, dan ketika Anda melihat satu grup dalam masalah, berbicaralah,” Sauca menggambarkan.

Pyry Paulasaari, mahasiswa Kristen dari Finlandia, membacakan pernyataan perdamaian atas nama ke-12 siswa yang mewakili tiga agama Abraham dari 11 negara itu.

“Kesempatan untuk hidup dalam kedekatan semacam itu memungkinkan hubungan yang mendalam, melampaui konteks budaya dan agama yang berbeda.”

“Apakah di dalam kelas atau di luar kelas, dibudayakan di antara peserta pemahaman satu sama lain yang lebih mendasar, serta saling menghormati dalam berbagai konteks, dan berusaha untuk meningkatkannya melalui dorongan iman yang mengubahkan,” bunyi deklarasi.

Pdt Dr Benjamin Simon, profesor Missiologi Ekumenis mengatakan, “Setiap pagi kami memulai hari dengan ‘spiritual sharing’– saat ketika kami belajar banyak tentang satu sama lain secara rohani.”

Ia mengatakan, setiap hari siswa membaca ayat-ayat dari Kita Suci tiga agama, yang berhubungan dengan topik dan kemudian mendiskusikannya.

Teolog Independen

Mahasiswa lain adalah Shimon Weinbach, 25 tahun, Yahudi Ortodoks yang dibesarkan di Amerika Serikat, namun tinggal di Yerusalem. Mahasiswa yang menyebut dirinya teolog independen itu mengemukakan kesan, “Ini adalah tiga minggu terbaik dalam hidup saya.”

Weinbach berbicara tentang studi agama-agama dan bagaimana mereka berhubungan dengan SDG, juga kunjungan ke masjid, sinagoga, dan gereja Lutheran di Jenewa, serta kunjungan ke PBB dan Palang Merah, dan menyaksikan dari dekat bagaimana mereka bersinggungan dengan komunitas berbasis agama dan komunitas lain.

“Kemampuan untuk bersentuhan dengan orang-orang yang tahu tentang teologi Kristen, tidak hanya di kelas, sangat menarik. Ini juga pertama kalinya saya bertemu orang Iran, dan kesan saya sangat positif dan terkejut juga melihat betapa kami memiliki kesamaan,” katanya.

Sebagai putra seorang rabi, Weinbach mengatakan sangatlah istimewa mendapatkan kesempatan untuk memiliki “ruang lingkup yang lebih dekat pada isu-isu global dan melihat bagaimana sebuah dialog diperlukan”.

“Saya juga mengalami bahwa yang lain tidak mengganggu iman saya, dan bahkan pertemuan itu dapat membuat iman saya lebih kuat,” ia menambahkan.

Peneliti Sosiologi Iran

Zahraalsadat Rooholamin, 27 tahun, Muslim Syiah, adalah peneliti sosiologi dan mahasiswa pascasarjana dari Teheran, Iran.

Ia mendengar tentang kursus musim panas itu dari seorang teman yang berkunjung ke Jenewa dan merekomendasikannya untuk mengikuti kursus itu.

Rooholamin mengucapkan terima kasih secara khusus kepada para profesornya, Pdt Dr Benjamin Simon dan Pdt Dr Simonne Sinn atas dedikasi dan pendampingan mereka, “Pengalaman yang indah. Saya bisa memberi kesempatan orang lain mengenal Islam dengan baik, dan menjalin banyak persahabatan. Percakapan-percakapan dan dialog sangat fantastis.”

Esther Macheka, istri seorang pendeta di luar Kota Harare di Zimbabwe, mengatakan di negaranya yang mayoritas Kristen, orang-orang dari agama lain adalah minoritas. Tetapi, di Zimbabwe ada juga keyakinan tradisional yang kuat.

“Dengan belajar melawan prasangka buruk terhadap agama lain, saya dapat menghubungkannya dengan prakonsepsi yang mungkin saya miliki untuk Pentakosta yang mengikuti jalan yang berbeda bagi kita Protestan tradisional,” kata Macheka. Ia mengucapkan terima kasih kepada Persekutuan Gereja-gereja Methodis di Amerika Serikat yang memungkinkan ia dapat mengikuti kursus itu. (oikoumene.org)

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home