Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 14:40 WIB | Minggu, 03 Februari 2019

Bentara Budaya Yogyakarta Gelar Pameran “Kosen”

Bentara Budaya Yogyakarta Gelar Pameran “Kosen”
Pameran seni rupa “Kosen” berlangsung 1-6 Februari 2019 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No. 2 Yogyakarta. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Bentara Budaya Yogyakarta Gelar Pameran “Kosen”
Makna Nirmakna – linocut diatas kain kassa – 30 cm x 30 cm ( 4 panel) – Theresia Agustina Sitompul – 2019.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Untuk pertama kali Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) menggelar pameran seni rupa dengan membuka aplikasi (open call) kepada seniman-perupa untuk mengirimkan karya dua matranya dalam dimensi maksimal 60 cm x 60 cm dengan medium bebas. Pameran dengan tajuk “Kosen” dihelat dalam rangka menyambut Imlek tahun ini dibuka oleh kolektor karya seni Oei Hong Djien, Jumat (1/2) sore. Pameran seni rupa “Kosen” berlangsung 1-6 Februari 2019 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No.  2 Yogyakarta.

Tema Kosen secara arti bebas dimaksudkan sebagai semangat yang berani. Seniman-perupa diberikan kebebasan menginterpretasikan tema tersebut termasuk dalam teknik eksekusi karya yang digunakan.

“Proses kurasi yang dilakukan oleh seniman-perupa Putu Sutawijaya cukup ketat. Dari tiga ratusan karya yang dikirim oleh seniman sebanyak dua ratusan, akhirnya dipilih seratus karya. Untuk penyelenggaraan (open call) yang pertama kali ini, lebih ditekankan pada karya dua matra,” jelas pengelola BBY Yunanto Sutyastomo, saat ditemui satuharapan.com di BBY, Senin (28/1) sore.

Dengan antusiasme tersebut Yunanto menjelaskan BBY berencana akan melanjutkan kegiatan tersebut di masa datang dan jika memungkinkan menjadi pameran rutin tematik-berkala.

Sebagian besar seniman-perupa mengaitkan tema karyanya berhubungan imlek dengan objek-figur tentang pecinan, benda-benda, ornamen, maupun simbol tahun ini: babi. Imlek sendiri dalam tradisi masyarakat China adalah menyambut musim semi dengan harapan musim-musim pada tahun tersebut dijalani dengan memberikan kesejahteraan.

Menyaksikan karya yang tersaji dalam pameran “Kosen”, ada harapan dan doa yang sama seperti yang disajikan seniman keramik Dona Prawita Arissuta berjudul “Hope” dalam gaya dekoratif-figuratifnya. Begitupun harapan seniman Gunadi Uwuh dalam karya berjudul “Manekung”.  Dalam kehidupan sehari-hari manekung (Jawa) diartikan fokus pada sesuatu sebagai bagian dari kontemplasi dalam menambah kesabaran serta menenangkan pikiran.

“Saya sengaja memasukkan satu karya dalam warna-ornamen yang cerah-gembira. Sedikit berbeda dengan karya yang saya pamerkan sebelumnya dengan warna matang,” kata seniman grafis dengan teknik relief print Irwanto Lentho kepada satuharapan.com saat pembukaan pameran.

Diakui Irwanto, karya-karyanya dengan warna-ornamen yang cerah-gembira lebih disukai oleh penikmat seni di luar negeri. Saat ini beberapa karya Irwanto masih dipamerkan di Singapura. Sebuah karya dengan kombinasi teknik hardboardcut, stensil, dan pewarnaan (handcoloring) di atas kanvas berjudul “Zhongguo Haizi He Wugui” dalam warna-warna dominan merah terang turut dipresentasikan Irwanto dalam pameran “Kosen”.

Seniman-perupa dengan gaya khas brush stroke-nya I Dewa Made Mustika menginterpretasikan  kosen dalam karyanya berjudul “Senyum Makmur”. Sementara Theresia Agustina Sitompul menuangkannya dalam karya linocut di atas empat panel kain kassa berjudul “Makna Nirmakna”. Menariknya, seniman senior Djoko Pekik justru menampilkan karya yang bermain-main dalam lukisan berjudul “Warok Suro Menggolo” dengan figur warok yang sedang berusaha untuk menjinakkan dua barongsai. Ini di luar kebiasaan Djoko Pekik yang kerap memunculkan objek celeng dalam karyanya, terlebih saat ini memasuki tahun Babi yang masih satu famili dengan celeng.

Editor : Sotyati

Zuri Hotel
Back to Home