Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Sotyati 14:39 WIB | Jumat, 01 November 2019

Buah Ihau alias Mata Kucing, Kelengkeng Asli Kalimantan

Buah ihau, alias mata kucing, atau kelengkeng kalimantan (Dimocarpus longan ssp malesianus var malesianus). (Foto: jenisfloraindonesia.web.id)

SATUHARAPAN.COM – Ada yang menyebut buah ini buah ihau, ada pula yang menyebut buah mata kucing, dan sebagian lagi menyebut kelengkeng kalimantan. Laman jenisfloraindonesia.web.id lebih tegas menyebut buah ihau adalah kelengkeng asli Kalimantan.

Nama yang terakhir disebutkan itu merujuk pada rasa buahnya yang manis seperti buah lengkeng atau kelengkeng. Buah ini unik. Tulisan tentang buah ihau di laman jenisfloraindonesia.web.id yang diunggah 18 Juli 2018, memasukkannya ke dalam daftar buah yang langka, karena buah ini tidak mudah dijumpai di tempat selain Kalimantan.

Mengutip dari Wikipedia, tumbuhan ini dimasukkan dalam status konservasi “hampir terancam” (IUCN 2.3). IUCN adalah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), organisasi internasional yang didedikasikan untuk konservasi sumber daya alam.

Suatu takson dinyatakan “hampir terancam” (bahasa Inggris: near threatened) menurut IUCN, jika telah dievaluasi berdasarkan kriteria risiko, dan tidak memenuhi syarat sebagai kategori kritis, genting, maupun saat ini dalam kondisi rentan. Kategori ini mendekati persyaratan kategori terancam (kritis, genting, atau rentan) dalam waktu dekat.

Ciri Botani Buah Ihau

Buah ihau atau mata kucing berbentuk bulat berukuran sebesar kelereng, menyerupai kelengkeng pada umumnya. Mengutip hasil penelitian “Potensi Pemanfaatan Nilai Gizi Buah Eksotik Khas Kalimantan Selatan” dari Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, pada pertumbuhannya, buah ini bergerombol pada malainya.

Kulit buah ihau berwarna cokelat muda sampai kehitaman dengan permukaan berbintil-bintil kasar, cirri yang membedakannya dengan lengkeng biasa. Daging buahnya berwarna putih bening dan berair. Rasanya sangat manis dan memiliki aroma harum yang khas.

Bijinya berbentuk bulat, terdiri atas dua keping dan dilapisi kulit biji yang berwarna hitam. Daging bijinya sendiri berwarna putih, mengandung karbohidrat.

Pemanfaatan buah ihau baru sebatas dikonsumsi langsung, berbeda dengan lengkeng yang sudah diolah menjadi berbagai produk seperti sirup, atau dikemas sebagai buah kaleng.

Tanaman ini, mengutip dari Wikipedia, termasuk dalam suku lerak-lerakan atau Sapindaceae. Nama ilmiahnya sama dengan lengkeng, Dimocarpus longan, namun ditambahkan dengan nama varietas, Dimocarpus longan ssp malesianus var malesianus.

Laman jenisfloraindonesia.web.id menyebutkan hutan Kalimantan adalah habitat asli buah ihau, selain dapat dijumpai di beberapa wilayah hutan Malaysia dan Brunei Darussalam. Namun, referensi lain menyebutkan ihau ditemukan juga di Sumatera.

Seperti pohon yang tumbuh di hutan, pohon ihau memiliki batang pohon yang cukup besar dan kokoh tinggi. Penduduk lokal sering memanfaatkannya sebagai bahan bangunan atau perkakas rumah tangga.

Buah kelengkeng asli Kalimantan ini merupakan santapan monyet, burung enggang, dan satwa penghuni hutan Kalimantan lainnya. Biasanya, musim buah ihau jatuh pada bulan Desember-Februari. Tak mengherankan pada bulan-bulan itu buah khas Kalimantan ini mudah dijumpai di pasar tradisional di pedalaman Mahakam.

Di daerah Samarinda juga terdapat buah ihau yang dibudidayakan petani setempat, seperti di Desa Lempake, Kecamatan Samarinda Utara. Buah ihau ditanam di kebun-kebun. Di pasar, harga per kilonya mencapai Rp15.000 hingga Rp20.000. Tidak jarang juga di musim panen buah ini dijajakan di pinggir jalan di Kota Samarinda.

Buah ihau juga dikenal dengan beberapa nama lokal. Masyarakat Tanjungselor, Kabupaten Bulungan, menyebutnya buah mata kucing, merujuk pada isi buah dan bijinya menyerupai mata kucing yang bersinar. Sementara masyarakat Dayak Kenyah yang tinggal di Tering, Kabupaten Kutai Barat, menyebutnya buah duku.

Mengutip dari Wikipedia, buah ihau juga dikenal dengan nama lokal lain, yakni mata kucing (Malaysia), medaru, medaro, bedaro (Sumatera), ihau (Kalimantan Timur), isau, sau, kakus (Serawak).

Potensi Buah Ihau

Seperti halnya suku lerak-lerakan, mengutip dari Wikipedia, biji buah ini yang mengandung saponin, kadang-kadang dimanfaatkan untuk mencuci rambut. Biji, buah, daun, dan bunga lengkeng juga digunakan sebagai bahan obat tradisional, terutama dalam ramuan Tiongkok. Daunnya mengandung quercetin dan quercitrin.

Hasil penelitian Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin berjudul “Potensi Pemanfaatan Nilai Gizi Buah Eksotik Khas Kalimantan Selatan”, yang dimuat dalam Ziraa’ah, Volume 39 Nomor 3, Oktober 2014, menyebutkan daging buah ihau mengandung 76.75 kadar air (% bb), 3.83 lemak kasar, 1.75 protein kasar, 10.80 serat kasar, 0.12 kadar abu, dan 27.27 karbohidrat.

Seperti juga lengkeng, buah ini juga mengandung antioksidan. Antioksidan dalam berbagai penelitian diketahui membantu menurunkan penyakit degeneratif seperti kanker, artritis, arteriosklerosis, penyakit jantung, peradangan, disfungsi otak, dan percepatan proses penuaan.

Sumber antioksidan dalam buah-buahan adalah polifenol dan Vitamin C, Vitamin A, B, dan E dan karotenoid. Hasil penelitian Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin itu menyebutkan buah ihau mengandung  11.67 total asam (mg/g) dan 66.9 Vitamin C (mg/100 g).

Vitamin C antara lain berperan untuk membantu sistem kekebalan tubuh, mendukung sistem kardiovaskular dengan memfasilitasi metabolisme lemak, dan melindungi jaringan dari kerusakan radikal bebas. Sebagai antioksidan, peran utama Vitamin C untuk menetralisasi radikal bebas, karena asam askorbat larut dalam air, dapat bekerja baik di dalam dan di luar sel untuk mengendalikan kerusakan radikal bebas.

Melihat potensi yang dikandungnya, patut disayangkan belum ada penelitian lebih lanjut tentang pemanfatannya secara terbatas.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home