Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Reporter Satuharapan 23:54 WIB | Kamis, 17 Januari 2019

Dari Pameran “Semesta Kita” Menuju Festival Bebas Batas 2019

Sebuah karya Anfield Wibowo berjudul "The Sacred Riana" yang akan dipamerkan dalam pameran seni rupa di Bentara Budaya Bali (BBB), Jumat (18/1). (Foto: Bentara Budaya Bali)

GIANYAR, SATUHARAPAN.COM - Pameran seni rupa di Bentara Budaya Bali (BBB) kali ini mengetengahkan tajuk “Semesta Kita”, menghadikan 63 karya terpilih dari empat seniman muda berbakat. Pembukaan akan berlangsung pada Jumat (18/1), pukul 19.00 WITA di Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, bypass Ketewel, Sukawati, Gianyar, Bali. 

Rujukan tematik pameran ini digagas dan dirancang dengan tujuan utama memberi ruang kreativitas seluasnya serta apresiasi sewajarnya bagi para kreator yang selama ini terpinggirkan oleh berbagai alasan, termasuk juga faktor-faktor yang bersifat “kebutuhan khusus”.

Para kreator peserta pameran ini, Aqillurachman Prabowo (14), Naripama Ramavijaya (16), Raynaldy Halim (21) dan Anfield Wibowo (13), boleh dikata adalah anak-anak dengan “kebutuhan khusus”. Mereka adalah insan-insan penyandang disabilitas yang berbeda-beda, mengalami disleksia, autis, dan sebagainya. Akan tetapi hal itu tidak menghalangi mereka meluapkan bakatnya di dalam proses cipta yang intens dan total. Karya-karya mereka terbukti tidak kalah cemerlang dan gemilang. 

Adapun eksibisi ini akan berlangsung hingga 27 Januari 2019 mendatang. Pembukaan dimaknai pula pertunjukan seni oleh KoBaGi, pemutaran video, serta pentas keroncong oleh OK Raos Seni. 

Wicaksono Adi, selaku kurator pameran, mengungkapkan dalam pengantarnya bahwa karya-karya para seniman pameran ini adalah perwujudan ekspresi perasaan dan imajinasi masing-masing. Dari karya-karya yang ditampilkan, tampak bahwa pada seniman muda ini memiliki kemampuan dasar seni rupa seperti fungsi garis, warna dan komposisi.

“Tentu, dalam konteks karya-karya penyandang disabilitas, kita dapat mengatakan bahwa melalui karya-karya tersebut kita dapat mengenali dan kemudian menyelami dunia mereka secara lebih dalam. Yaitu dunia yang ”berbeda” dengan yang kita alami. Lebih jauh, karya-karya mereka adalah semacam gambaran dari dunia yang nyaris tak tersampaikan, suatu semesta yang ”unspoken”, ungkap Wicaksono Adi. 

Lebih lanjut ia menambahkan bahwa dalam pameran ini publik bebas memberi tafsir terhadap karya-karya empat seniman muda tersebut. Dengan demikian diharapkan publik akan mendapatkan pengayaan cara pandang, bukan hanya cara pandang terhadap dunia kaum disabel itu sendiri tapi juga pengayaan cara pandang terhadap realitas atau dunia dan kehidupan yang sedang kita jalani.  

Dengan kata lain, dunia seni, termasuk seni rupa masa kini, layak dikedepankan untuk memberi ruang kreasi dan apresiasi yang sama dan setara bagi kreator siapa dan manapun juga, tidak terkecuali yang dipandang “berkebutuhan khusus”. 

Menuju Festival Bebas Batas 2019

Pameran “Semesta Kita” digagas sedari tahun 2017 oleh Amalia Prabowo, Kanoraituha Wiwin, Wicaksono Adi dan Bentara Budaya Bali. Pameran ini sekaligus merupakan rangkaian menuju Festival Bebas Batas 2019 yang diinisiasi oleh Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. 

Festival Bebas Batas merupakan festival pertama di Indonesia yang menampilkan karya-karya seni brilian dari para seniman disabilitas. Dimulai pada tahun 2018, festival ini dirancang untuk menyempurnakan Asian Para Games yang diselenggarakan di Jakarta pada Oktober 2018, terselenggara atas kolaborasi antara Galeri Nasional Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Art Brut Collective, dan British Council Indonesia. 

Festival ini adalah gagasan yang lahir dari pemikiran sekelompok seniman, kurator, dan aktivis, salah satunya seniman Hana Madness, yang mengunjungi the Unlimited Festival di London pada 2016 dan terinspirasi untuk membuat festival dengan semangat yang sama di Indonesia.

Melalui Semesta Kita, yang dihadirkan bukan semata peristiwa kesenian dan ruang apresiasi yang bersifat sesaat, melainkan juga yang utama adalah mendorong rekahnya kepedulian bersama bagi segenap masyarakat, pemangku kepentingan dan tokoh-tokoh kompeten lainnya; guna membangun Gerakan Kesadaran  Baru yang secara aktif dan berkelanjutan memperjuangkan kesamaan memeroleh penghagaan atau apresasi serta kesetaraan dalam kebebasan berekspresi bagi pihak mana pun, terutama para kreator yang selama ini mengalami stigmatis dan terpinggirkan.  

Sebagai bagian dari upaya penyadaran dan gerakan kepedulian, Semesta Kita ini juga dimaknai dengan Timbang Pandang yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (19/01). Menghadirkan narasumber Wicaksono Adi (Kurator), Dr. I Wayan Kun Adnyana (Seniman, Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar), Komang Rahayu Indrawati, S.Psi, M.Si, Psi. (Psikolog, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana), serta para pegiat dan pemerhati seni, guna berbagi pemahaman perihal pencapaian karya empat perupa muda ini, sekaligus mengkritisi berbagai kategori dalam seni yang dirasa tidak lagi selaras dengan nilai-nilai kekinian. 

Di samping itu, akan dikedepankan pula pendalaman tentang Art Brut, seni-seni terpinggirkan atau outsider art, berikut dinamika seni kontemporer yang semakin lintas batas, melampaui segala yang dulu dianggap telah baku.

Sebagai catatan, dalam semangat yang sama, di penghujung tahun 2014, Bentara Budaya Bali menghadirkan peristiwa seni yang terbilang tidak biasa, pameran dua perupa, Dwi Putro (51) dan Ni Nyoman Tanjung (92). Walau sudah mencipta ribuan karya, Dwi Putro Mulyo atau yang lebih dikenal dengan Pak Wi dari Jogjakarta serta Ni Nyoman Tanjung asal Banjar Besang, Desa Ababi, Karangasem, Bali, tak serta merta diakui karyanya sebagai hasil cipta kesenian. Mereka memang tergolong sebagai seniman- seniman outsider art, sebuah istilah yang dikemukakan oleh kritikus seni dari Inggris, Rogers Cardinal pada tahun 1972, sewaktu menanggapi karya seni dari Afrika yang mengejutkan dunia denga keunikan dan keautentikannya. (PR)

 
UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home