Google+
Loading...
ANALISIS
Penulis: Anil Dawan 08:19 WIB | Rabu, 20 Maret 2019

Di Mana Awal Kekalahan?

Pemenang sejati akan bertanding hingga garis akhir, sedangkan pecundang sejati akan berhenti bertarung jika sudah unggul, padahal pertandingan belum berakhir.
Daud dan Goliat (foto: mybiblestories.blogspot.com)

SATUHARAPAN.COM – Kekalahan adalah probabilitas wajar dari sebuah pertandingan, juga dalam kehidupan. Dalam pertandingan hasilnya kalau tidak menang, ya kalah atau paling tidak seri. Namun, awal dari suatu kekalahan jika ditelusuri adalah ketika terlena setelah unggul sementara. Biasanya terjadi karena tidak menyadari bahwa lawan punya motivasi lebih tinggi untuk mengalahkan setelah tertinggal atau dianggap sepele kekuatannya. Klub-klub sepakbola hebat sering mengalaminya.

Tak hanya sepakbola, kekalahan Goliat Sang Raksasa Filistin yang dipecundangi Daud yang imut-imut merupakan kisah sejarah suci faktual sekaligus gambaran dari pertarungan mental dan iman antara kesombongan dan kerendahan hati. Sikap meremehkan, atau menganggap lawan sepele, merupakan buah dari hati yang sombong, angkuh, dan jauh dari mawas diri. Akhirnya sang raksasa keangkuhan terjungkal, kalah dengan kecerdikan si kecil yang rendah hati dan berani. Pelajaran kehidupan dan iman ini patut direnungkan dalam-dalam.

 

Hingga Akhir Pertandingan

Setiap orang maupun organisasi yang terlalu percaya diri dan meyakini bahwa dia akan menang padahal pertandingan belum usai akan terlena oleh sikap mental tersebut. Pemenang sejati akan bertanding hingga garis akhir, sedangkan pecundang sejati akan berhenti bertarung jika sudah unggul, padahal pertandingan belum berakhir.

Kitab Amsal mengingatkan: ”Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat  dan didikan” (Ams. 1:7).  Ayat ini tidak hanya menegaskan bahwa Tuhan Allah sebagai pribadi yang harus ditakuti dan dihormati, serta dijunjung tinggi. Akan tetapi, kekaguman dan penghormatan setinggi-tingginya kepada Tuhan Allah menjadi dasar untuk membangun pengetahuan, sikap yang mendengar suara Allah/discernment, dan hikmat/mencintai kebijaksanaan.

Menarik disimak, Paulus di akhir-akhir kehidupannya menyatakan: ”Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2Tim. 4:7). Rasul Paulus menggambarkan hidup sebagai sebuah pertandingan.

Dalam menghadapi pertandingan, kita bisa serius berlatih atau bermalas-malasan, dan hasil akhir akan sangat ditentukan dari reaksi kita dan bagaimana kita menyikapinya. Kita bisa saja kalah skor, tetapi tetap mendapat nilai tinggi atau menang dari segi kegigihan hingga akhir pertandingan.

 

Mental meremehkan, mengentengkan lawan

Sikap meremehkan atau menyepelekan lawan adalah sifat yang sangat destruktif. Orang yang suka meremehkan lawan, atau tantangan, akan mematikan potensi dan semangat juang. Motivasi menjadi lembek karena terlalu cepat berpuas diri dan menganggap tidak ada tantangan yang harus dihadapi.

Jika dikaitkan dengan teori motivasi, motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Seseorang yang mempunyai motivasi, berarti mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan.. Motivasi dapat berupa motivasi intrinsik dan ekstrinsik.

Abraham Maslow mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 (lima) tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hierarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting.

Menurut Herzberg, ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktor higiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antarmanusia, imbalan, kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik). Sedangkan faktor motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk didalamnya adalah achievement, pengakuan, juga kemajuan tingkat kehidupan (faktor intrinsik).

Dari berbagai teori motivasi pembanding lainnya, tampak jelas bahwa pencapaian seseorang untuk berkembang dan mencapai tujuan-tujuan hidupnya sangat dipengaruhi oleh motivasi yang dimilikinya. Dan mestinya motivasi itu terus berkembang dan bertumbuh tidak hanya seiring kebutuhan, namun juga perlu direvitalisasi menuju pencapaian hingga terwujud atau tercapai dalam gelanggang kehidupan nyata.

Karena itu, kalimat bijak yang perlu dicamkan adalah: ”Jangan kalah sebelum bertanding, dan jangan merasa menang sebelum pertandingan berakhir. Awasi mental setelah unggul karena itu bisa saja membuat kita lengah dan akhirnya kalah.”

Editor : Yoel M Indrasmoro

TOA
Bank Central Asia
Zuri Hotel
Back to Home