Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Sabar Subekti 07:36 WIB | Sabtu, 12 September 2020

Hari Jumat, Warga Ethiopia Rayakan Tahun Baru 2013

Warga Gereja Ortodoks Ethiopia menghadiri ibadah doa untuk menandai hari libur Enkutatash, hari pertama tahun baru dalam kalender Ethiopia, yang secara tradisional dikaitkan dengan kembalinya Ratu Sheba ke Ethiopia sekitar 3.000 tahun yang lalu, di Bole Medhane Alem Ethiopian Katedral Ortodoks di ibu kota Addis Ababa, Ethiopia, hari Jumat (11/9/2020. (Foto: AP)

ADIS ABABA, SATUHARAPAN.COM-Warga Ethiopia pada hari Jumat (11/9) menyambut awal tahun baru mengikuti kalender tujuh tahun di belakang kalender Gregorian yang diikuti sebgian besar di dunia.

Pada hari itu, warga Ethiopia menandai awal tahun baru 2013. “Kalender Etiopia 2012 (atau secara umum tahun 2019) adalah tahun di mana kami mengalami banyak hal. Ada hukuman besar sebagai akibat dari murka (Tuhan),” kata Emkulu Yiheyis, seorang pendeta Ortodoks Ethiopia.

"Tapi itu tidak sebesar yang kami kira, karena kehendak Tuhan lebih mudah terjadi, dan kami ada di sini sekarang. Kami sangat terlindungi dan melewati kengerian yang kami lihat di tempat lain," katanya.

Kasus virus corona hanya dalam beberapa pekan terakhir mulai meningkat pesat di negara terpadat kedua di Afrika. Ethiopia memiliki lebih dari 62.000 kasus yang dikonfirmasi pada hari Jumat (11/9), termasuk hampir 1.000 kematian.

Pemerintah mengakhiri keadaan darurat pada akhir pekan, dan membuka jalan bagi lebih banyak pertemuan publik.

Pada hari Jumat, tahun baru itu, orang-orang berdoa dan bernyanyi di Gereja Bole Medhane Alem di ibu kota, Addis Ababa.

“Virus corona adalah tantangan besar tidak hanya bagi negara kami yang kurang berkembang tetapi juga bagi seluruh dunia,” kata salah satu pengunjung gereja, Girma Megenta.

“Untuk melindungi diri kita sendiri, kita semua perlu bekerja sama. Agar negara kita keluar dari situasi buruk ini, kita perlu mengajari orang lain untuk meningkatkan kesadaran dan menjaga diri kita sendiri. "

Tentang Bendungan dan Pandemi

Sementara pujian terhadap Perdana Menteri Abiy Ahmed, disampaikan warga Ethiopia dengan mulai mengisi bendungan yang dibangun, Mesir mengupayakan agar ada perjanjian yang mengikat secara hukum untuk kedua negara dalam berbagi air sungai Nil.

Pembicaraan tentang bendungan kontroversial Ethiopia itu terus dilakukan hingga hari Selasa (8/9). Orang Etiopia merayakan kemajuan dalam pembangunan bendungan Grand Renaissance Sungai Nil.

Kebaktian Gereja pada tahun baru itu lebih tenang dari biasanya, tetapi di pasar terbuka di  ibu kota yang sibuk, banyak orang menjalani kehidupan mereka seperti sebelumnya. Beberapa tanpa mengenakan masker wajah.

“Apa yang kami lihat di sini sangat membingungkan,” kata salah satu pembeli, Yohannes Adane. “Saya katakan ini, karena virusnya menyebar dan korbannya meningkat… Tapi di sekitar area ini, perlindungan terhadap penyakit masih rendah. Saya menyarankan agar orang-orang berhati-hati dan menjaga jarak. Tapi seperti yang Anda lihat, orang-orang bertindak seolah-olah tidak ada virus corona." (AP)

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home