Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Sotyati 15:09 WIB | Sabtu, 22 September 2018

In Memoriam Pdt Em Kuntadi Sumadikarya: Tangguh di Lapangan

Pdt Kuntadi Sumadikarya (kiri) bersama Jusak I Ismanto, berkunjung ke juru kunci Merapi, Mvah Maridjan (tengah), pada 24 Mei 2006. (Foto: Dok Tim GKI)

SATUHARAPAN.COM – Hari itu, hari Kamis, 9 November tahun 2006. Semilir angin sejuk lereng Gunung Merapi tidak mampu mengurangi sengatan panas sinar matahari siang hari di Dusun Trayem, Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Magelang.

Beraktivitas sejak pagi hari, Pdt Kuntadi Sumadikarya, dalam usia 57 tahun pada saat itu, tidak menampakkan tanda-tanda lelah, setelah secara maraton menempuh perjalanan Jakarta-Magelang-Bantul, Yogyakarta-lereng Merapi. Pada pagi hari, Kamis itu, ia mendapat kepercayaan menandatangani prasasti, acara yang digelar untuk menandai selesainya proyek pipanisasi yang diwujudkan Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia (Tim GKI), dan Yayasan Citra Kasih, bersama warga Trayem dan Gendelan, dusun tetangga Trayem. Ia menjabat Ketua Tim GKI Pusat kala itu.

Semua orang yang terlibat di dalam proyek itu bahu-membahu mengalirkan air dari sumber mata air sejauh 2,75 kilometer, melewati empat jurang, ke bak-bak penampungan di beberapa tempat melalui pipa pralon. Dari bak-bak penampungan, air disalurkan ke rumah-rumah warga di Dusun Trayem dan Gendelan, yang termasuk dalam areal Ring 3, Daerah Bahaya Pertama, dengan jarak radius dari titik kepundan Merapi enam kilometer.

Terwujudnya proyek pipanisasi itu memudahkan warga desa mendapatkan akses air bersih. Sebelumnya, warga harus berjalan kaki sampai ke Tuk (mata air) Tringsing, atau ke Kali Jombrong, sekitar dua kilometer, pergi-pulang, naik-turun tebing, demi mendapatkan air.

Ke Mata Air, Turun Naik Tebing

Pdt Kuntadi tidak sekadar hadir untuk menandatangani prasasti, lalu duduk manis menikmati hidangan yang disediakan. Ia mengikuti seluruh rangkaian acara. Itu termasuk ketika Tim GKI Magelang yang dipimpin Pdt Eka Setiawan Tejo Kesuma dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jl Pajajaran Magelang, bersama Romo V Kirjito dari Stasi Sumber, dan tokoh masyarakat dari lereng Merbabu Mbah Tjokrosudargo, meneruskan perjalanan ke mata air, di Dusun Babadan II, Desa Paten di wilayah kecamatan yang sama.

Mereka akan menanami kawasan sumber air di Dusun Babadan II itu dengan tanaman keras. Dusun Babadan II memang tidak terlalu jauh dari Dusun Trayem, tetapi seperti lazimnya daerah pegunungan, jalannya naik-turun, dan sumber air yang dimaksud berada nun jauh di jurang. Harus menuruni tebing melewati jalan setapak untuk mencapainya.

Tak terkecuali Pdt Kuntadi. Tanpa ragu di siang yang panas itu ia melangkahkan kaki menuruni tebing. Mau tak mau, beberapa orang yang tadinya segan turun pun, mengikutinya, tentu sambil membayangkan betapa berat medan yang harus didaki dalam perjalanan kembali ke Dusun Babadan II.

Bukan hari itu saja aktivitas fisik yang harus dijalani Pdt Kuntadi. Sehari sebelumnya, dalam sengatan panas sinar matahari juga, ia berkeliling Botokenceng, Pleret, Bantul.

Ia melihat dari dekat karya nyata Tim GKI, pembangunan emergency shelter bagi korban gempa, yang melanda Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah pada 27 Mei tahun 2006 itu. Tim GKI membantu pengadaan bahan bagi pembangunan 208 emergency sheter yang dikerjakan warga korban secara gotong royong, berukuran 3,6 kali 5,2 meter, yang dapat dikembangkan jadi hunian tetap.    

Selain 208 rumah yang sudah berdiri, masih dibangun lagi 30 rumah di RT berbeda. Tim GKI juga membangun 70 rumah yang sama di Desa Kelegen dan Sribit, 30 rumah untuk guru-guru Bopkri di wilayah Bantul, serta 30 rumah bagi warga Gereja Kristen Indonesia dan Gereja Kristen Jawa.

“Ini memang perkecualian dari tujuan utama Tim GKI yang didirikan untuk merespons bencana. Tetapi, masih terkait,” kata Pdt Kuntadi kala itu.

Namun,sebelumnya, tak lama setelah bencana melanda, Tim GKI sudah membantu meringankan penderitaan korban gempa di Yogya-Klaten dan sekitarnya dengan mengedrop logistik.

Dari Bencana Galunggung hingga Papua

Berkegiatan fisik, terjun langsung ke lapangan seperti itu, bukan yang pertama kali yang dilakukan Pdt Kuntadi. Tim GKI yang dibentuk untuk merespons bencana, mulai mengulurkan tangan sejak terjadi Bencana Galunggung, tahun 1986.

Gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakkan Aceh dan Nias pada Desember 2004, mendorong Pdt Kuntadi meresmikan pendirian Gerakan Kemanusiaan Indonesia. Aktivitas utamanya tanggap darurat bencana dan tanggap penderitaan massal.

Beberapa kali ia ikut terjun ke lapangan. Ia pergi bersama Tim GKI dalam penanganan pascabencana di Aceh dan Nias (2005). Tim GKI bahkan tercatat sebagai anggota Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh dan Nias pada 2005. 

Tim GKI mengulurkan tangan dalam penanganan pascabencana gempa bumi dan gizi buruk di Soe, Nusa Tenggara Timur pada 2005-2006, juga dalam masa tanggap darurat bencana gempa bumi di Alor pada 2006.

Pdt Kuntadi juga terlibat dalam aktivitas tanggap darurat akibat gempa di Serui pada 2010, dan banjir bandang di Wasior, keduanya di Papua Barat.

“Di lapangan, Pak Kun tidak pernah mau diistimewakan. Ketika suatu lembaga asing menyiapkan tempat tidur khusus untuk beliau sebagai ketua sinode, beliau memilih tidur bersama kami, para relawan,” Jusak Indrawan Ismanto dari Gerakan Kemanusiaan Indonesia mengisahkan kepada Satuharapan.com, ketika Tim GKI terlibat dalam penanganan pascabencana gempa bumi dan tsunami Aceh.  

“Begitu juga halnya ketika kami terlibat dalam penanganan pascabencana di Nias, Nusa Tenggara Timur, dan Papua,” Jusak, yang mengaku 11 tahun bekerja bersama Pdt Kuntadi, menambahkan, "Ia bukan tipe orang yang diskriminatif. Orangnya tegas, dan teguh memegang prinsip."

“Pak Kun juga senantiasa mengajarkan kami untuk tidak bersaing. Hal ini tercermin dalam salah satu prinsip Tim GKI, yakni mencari ruang kosong,” Jusak mengenang.

Ia memberikan contoh konkret ketika Tim GKI melayani di Nias, “Saat itu ada kebutuhan dokter, maka Tim GKI mengupayakan dokter-dokter PTT. Saat ada lembaga lain ada yang kirim dokter juga, Tim GKI memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan mengirimkan dokter PTT itu.”

Warisan yang Terjaga

Dalam beberapa kesempatan, Pdt Kuntadi acap membagikan pengalamannya terjun ke lapangan, menggugah orang yang mendengarkannya melakukan hal yang sama. Dalam sebuah perbincangan, ia menceritakan membagikan pengalamannya kepada sekelompok ibu salah satu GKI di Jakarta Pusat.

“Ibu-ibu di gereja itu, berpergian ke luar negeri setiap tahun. Saya katakan, daripada ke luar negeri, dan sudah bosan, coba sesekali ke Papua, sambil melihat apa yang dilakukan ibu-ibu di sana. Siapa tahu bisa membantu, memberikan saran, mengembangkan potensi yang ada,” katanya.

Ia berhasil “ngomporin” ibu-ibu, yang akhirnya terwujud berangkat ke Papua untuk melakukan pendampingan membuat abon ikan. Ia mengatakan, warga gereja yang hidup berkecukupun perlu dilibatkan dan diberi peran dalam misi pelayanan.

Usai melayani sebagai Ketua Umum BPMSW GKI SW Jabar pada 2011 dan kemudian menjalani emeritasi pada 16 Januari 2012, tak membuat Pdt Kuntadi berhenti berkarya. Gagasannya tetap mengalir, melalui berbagi pengalaman secara langsung, melalui tulisan-tulisannya, dan buku-bukunya.

Ia aktif di Oikotree Indonesia, sebuah gerakan bagi mereka yang rindu akan kehidupan beriman di tengah-tengah ketidakadilan ekonomi dan perusakan ekologis. Mengusung “keadilan sebagai jantung iman” (justice at the heart of faith), gerakan itu mencari alternatif-alternatif baru sebagai tanggapan atas masalah sosial-ekonomi dalam konteks yang beragam, serta mendorong tindakan nyata di seluruh tingkatan untuk mengatasi masalah keadilan sosial.

Nama “oikotree” diambil dari penghayatan atas suatu ayat di Kitab Wahyu yang mengacu pada “pohon-pohon kehidupan” dan “daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa”. Gerakan itu terbuka bagi semua orang, denominasi gereja, gerakan masyarakat, dan semua pihak yang peduli pada keadilan serta pemulihan bangsa-bangsa di dunia.

Pdt Arliyanus Larosa, dalam ibadah pelepasan di GKI Gunung Sahari, Jumat, 21 September 2018, sebelum pelaksanaan perabuan jenazah, mengatakan, Pdt Kuntadi tetap “hidup” walau sudah tiada. Gagasannya tetap terjaga, menginspirasi banyak orang.    

Pada masa ketidakberdayaannya, dalam perawatan intensif, Tim GKI yang didirikannya, turut serta dalam pelayanan aksi kemanusiaan bersama di Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang dilanda gempa bumi berturutan pada 29 Jui dan 5 Agustus 2018. Tim GKI mendistribusikan obat-obatan, terpal, pakaian, keperluan mandi, distribusi logistik (beras, susu, biskuit), melakukan pelayanan medis keliling, serta trauma healing anak-anak, di 14 titik pelayanan di Lombok Utara dan Lombok Timur.

Tentu Pdt Kuntadi juga akan senang kalau saja sempat mendengar pipa-pipa yang mengailrkan air dari sumber mata air Babadan II ke tandon air di Trayem "aman" pascaerupsi Merapi 2010. "Aman, menurut warga Trayem, berarti air masih mengair," kata Pdt Eka Setiawan, yang juga mengaku kehilangan tokoh yang menginspirasi. 

Selamat jalan, Pdt Kun… (*)

Editor : Sotyati

Back to Home