Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Irvin Tolanda 07:02 WIB | Senin, 15 Mei 2017

Jadilah Manusia Kuat!

Kekuatan dan kemenangan itu adanya di dalam jiwa.
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM–Kau bisa Patahkan kakiku/Tapi tidak Mimpi-mimpiku/Kau bisa Lumpuhkan tanganku/Tapi tidak Mimpi-mimpiku//Manusia-manusia kuat itu kita/Jiwa-jiwa yang kuat Itu kita/Manusia-manusia kuat itu kita/Jiwa-jiwa yang kuat itu kita.

Adakah orang yang Anda tahu dapat dikategorikan seperti lirik lagu di atas?  Jika pertanyaan ini saya tanyakan pada diri sendiri, maka satu nama yang langsung terlintas dalam adalah Ahok. Alasannya adalah bukan karena ada sentimen-sentimen tertentu, tetapi karena itulah fakta yang saya lihat selama ini.

Dalam sebuah pertandingan tinju, seorang petinju akan dinyatakan menang apabila: 1. Ia berhasil memukul kalah lawannya hingga KO (Knockout) yaitu terjatuh dan tidak dapat bangkit lagi; 2. Ia berhasil mendaratkan banyak pukulan kepada lawannya dan berhasil meraih poin.

Ahok ibarat seorang petinju yang kalah. Dalam Pilkada 19 April lalu ia kalah, juga kalah dalam pengadilan atas kasus penistaan Agama yang didakwakan kepadanya dan harus menerima hukuman penjara selama dua tahun.

Ia kalah karena mendapat begitu banyak serangan dari berbagai arah; kiri, kanan, depan, belakang, atas, dan bawah. Serangan kepadanya datang dari berbagai sisi dan dengan berbagai cara, bukan hanya sejak keikutsertaannya dalam pemilu kemarin, tetapi sejak ia dengan penuh keyakinan melangkahkan kakinya masuk ke dalam dunia perpolitikan Indonesia. Namun, ada hal yang membuat saya berpikir bahwa dia sebenarnya tidak pernah kalah karena dia adalah seorang pemenang sejak awalnya.

Hari itu, saat hakim mengetok palu tanda bahwa ia bersalah dan hukuman dijatuhkan kepadanya, saya melihat bahwa dialah ”manusia kuat” yang pernah ada dan dialah pemenang pertandingan sesungguhnya. Dengan penuh hormat dan kerendahan hati, ia membungkukkan badannya di hadapan para hakim yang baru saja memutusnya bersalah.

Pikir saya: ”begitu kuat dan tegarnya orang ini. Belum pernah kutemui yang seperti ini.” Saat ia turun dari mobil barakuda yang membawanya ke penjara, melihat ke arah wartawan dan kerumunan orang banyak sambil mengacungkan tangan dengan tanda V, seakan ia mau berkata kepada dunia bahwa dia adalah seorang pemenang.

Ia pernah berkata bahwa tanda V yang sering ia buat bukanlah menandakan angka dua seperti angka urutannya dalam pilkada, tetapi tanda itu adalah tanda yang berarti ”Victory”, yaitu kemenangan. Pikirku lagi, “entah apa yang ada dalam pikiran orang ini, saat dunia memandang bahwa ia telah kalah, justru ia menunjukkan tanda kemenangan. Sungguh, yang seperti ini benar-benar belum pernah saya jumpai.”  

Jauh sebelumnya, ia pernah ditanya: ”Jika kita asumsikan bahwa Anda sudah pasti masuk penjara, dan seandainya Anda dapat memutar kembali waktu di mana Anda dapat memilih antara melakukan bisnis atau terjun ke dunia politik, apakah Anda akan melakukan langkah yang sama?”

Dan ia menjawab, ”Sama, karena penjara tidak bisa menahan ide maupun tujuan hidup saya. Kecuali jika saya dipenjara karena korupsi, itu memalukan. Kalau saya dipenjara karena ini (ide dan tujuan saya), saya adalah patriot bangsa ini di zaman pascareformasi. Dan saya tidak pernah menyesal untuk itu.”

Jawabannya senada dengan lirik lagu yang dipopulerkan Tulus: ”Orang-orang bisa mematahkan tangan dan kakiku, tetapi mereka tidak bisa mematahkan mimpi-mimpiku.” Sebab kekuatan yang sesungguhnya dari manusia adalah bukan dari apa yang kasat mata, tetapi apa yang tidak pernah dapat dilihat oleh mata jasmani manusia. Kekuatan itu adanya di dalam jiwa. Ia adalah kekuatan yang tersembunyi yang tidak dapat direnggut oleh siapa pun dan tidak dapat dihancurkan oleh siapa pun. Jika Gatot kaca memiliki otot kawat dan tulang besi, maka Ahok, pada hemat saya, memiliki mental atau jiwa yang terbuat dari baja.

Mari kita belajar dari Ahok karena tidak ada seorang pun yang dapat mengambil kemenangan yang ada di dalam jiwa kita. Jadilah manusia kuat!

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home