Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Tjhia Yen Nie 01:00 WIB | Selasa, 16 Mei 2017

Kaum Bumi Datar vs Kaum Bani Serbet

Bukankah keharuman sebuah bunga pasti tercium melalui angin yang bertiup, dan tidak dapat ditutup-tutupi siapa pun?
Media Sosial (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Dua sebutan ini—Kaum Bumi Datar dan Kaum Bani Serbet—sekarang sedang ngetrend di media sosial.  Entah siapa yang memulai, tetapi dua sebutan itu menjadi istilah baru dalam kosa kata media sosial.  Komentar-komentar negatif, bahkan kasar dilontarkan.  Mengapa? Apakah karena di media sosial kita tidak berhadapan langsung dengan orang yang dikomentari, sehingga kita merasa bebas mengatakan seenak jidat kita?

Polesan-polesan terhadap opini disertai meme yang memerahkan telinga membuat gesekan itu semakin panas.  Ada beberapa orang dan media yang jelas-jelas tidak netral, seakan dibuat sengaja untuk memanas-manasi kedua kubu.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita ikut hanyut dalam permainan yang sekarang sedang berlangsung untuk memecah belah bangsa?

”Lihat, aksi seribu lilin yang dilakukan bani serbet rusuh.”

Sedangkan konfirmasi dari teman-teman yang ikut saat itu mengatakan sebaliknya.  Bagaimana ini bisa terjadi?  ”Hoax tuh… biasa deh kaum bumi datar sengaja cari masalah.”

Lalu berita-berita itu saling diviralkan dengan dibumbui ejekan sebagai balas-balasan dalam rangka pembenaran.

Saat Ahok dipidana 2 tahun, kesedihan memasuki sanubari saya.  ”Percuma menjadi orang jujur dan berprestasi di negara ini, seorang Ahok saja bisa dijegal sedemikian rupa.” 

Namun lihatlah, setelah hari-hari berlalu, mata dunia pun menyoroti dirinya.  Seorang Ahok yang prinsip dan nyalinya seteguh perkataannya menginspirasi banyak orang untuk berani bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya.  Tidak bersembunyi atau melarikan diri dengan berbagai alasan, menerima konsekuensi yang kita anggap tidak adil dengan wajah tegar.

Kalau diri kita merasa benar, lalu melakukan hal yang sama dengan kubu yang kita pikir tidak benar.  Bukankah itu sama saja bagi mereka?

Memberitakan kebenaran adalah keharusan, tetapi jangan ikut-ikutan mengejek saudara kita dengan sebutan-sebutan yang kita sendiri tidak mau disebut demikian.  Bukankah keharuman sebuah bunga pasti tercium melalui angin yang bertiup, dan tidak dapat ditutup-tutupi siapa pun?

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home