Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 23:50 WIB | Rabu, 24 Juli 2019

Jazz Gunung Bromo 2019, Bersaksi untuk Ibu Pertiwi

Ring of Fire project akan Berkolaborasi dengan Didi Kempot dan Ricad Hutapea
Ring of Fire project pimpinan Djaduk Ferianto saat latihan bersama penyanyi campusari Didi Kempot (kaos putih) dan saksofonis Ricad Hutapea di Studio Kuaetnika Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) Dusun Kembaran RT 04 Tamantirto, Kasihan-Bantul, Rabu (24/7). (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Memasuki penyelenggaraan yang kesebelas Jazz Gunung Bromo (JGB) 2019 akan dihelat pada 26-27 Juli 2019. Selama dua hari penyelenggaraan JGB akan menampilkan tiga belas grup/musisi/project di Amphiteater Bromo.

Pada hari pertama penyelenggaraan JGB 2019 Jumat (26/7) akan tampil berturut-turut grup jazz asal Belanda Tristan, Debu, Gugun Blues shelter, Yuri Mahatma quartet, Tompi, dan Idang Rasjidi feat Mus Mujiono dan Sastrani, sementara pada hari kedua Sabtu (27/7) akan tampil Geliga, Nita Aartsen bersama bintang tamu Rene Calvin-Antonio Marcos-Pablo Calzado, Voyager 4 (Prancis), Chandra Darusman projects, Siera Soetedjo, Malang Jazz Community, dan  Ring of Fire project.

Ditemui satuharapan.com di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja Rabu (24/7) siang saat sedang latihan bersama Didi Kempot dan Ricad Hutapea, salah satu penggagas Jazz Gunung Djaduk Ferianto menjelaskan bahwa untuk JGB 2019 mengangkat tema Jazz Bersaksi untuk Ibu Pertiwi.

“Dinamika sosial-politik akhir-akhir ini telah membuat masyarakat terpolarisasi dan terbelah dalam dukung mendukung. Ini tidak sehat. Harus segera diakhiri. Tidak ada lagi kampret-cebong yang selalu hadir dengan ujaran kebencian dan caci maki. Kita tidak ingin terpecah belah, NKRI harus tetap utuh dengan saling menghormati-menghargai. Karena itu melalui Jazz kita bersaksi untuk Ibu Pertiwi. (Sekarang) saatnya kita bangkit agar tetap menjadi satu keluarga besar Indonesia. Pesan dan semangat itu yang kita sampaikan,” jelas Djaduk.

Djaduk sendiri akan tampil dengan Ring of Fire project berkolaborasi dengan penyanyi campursari Didi Kempot dan peniup saksofon Ricad Hutapea. Dalam project Ring of Fire, Djaduk sering membuat eksperimen menggandeng musisi lain dalam warna musik yang berbeda. Saat penyelenggaraan JGB 2012, Ring of Fire menggandeng gitaris Dewa Budjana dan dalang wayang suket Slamet Gundono. Pada JGB 2015 Ring of Fire menggabungkan jazz dan keroncong dengan mengajak berkolaborasi pesinden Endah Laras dan gitaris Tohpati.

“Pada JGB 2019 ini Ring of Fire mencoba menggabungkan jazz dengan campursari. Lagu-lagu Didi Kempot yang penuh dengan semangat optimis kita aransemen ulang dengan sentuhan musik Brasil (Amerika Latin),” jelas Djaduk.

Saat satuharapan.com menyaksikan latihan bersama empat lagu Didi Kempot yang diaransemen ulang, Ring of Fire memberikan warna yang sangat berbeda dari lagu aslinya. Secara keseluruhan komposisi aransemen ulang lagu Didi Kempot dimainkan Ring of Fire project dalam warna musik Amerika Latin rumba. Ada yang diawali dengan permainan perkusi tambuco dalam warna musik rumba bersamaan dengan permainan drum maupun perkusi lainnya. Satu lagu diaransemen dengan warna musik rap/hip-hop dan progressive rock, di saat lainnya dalam aransemen etnik tradisional Reog Jawa Timur dengan memasukkan unsur musik pengiring yang dominan dengan permainan kendang pada intro lagu sementara Djaduk sendiri memainkan alat tiup tradisional slompret bergantian dengan pukulan tambuco.

Satu lagu Didi Kempot diaransemen ulang dalam tempo beat yang agak cepat dengan dominan permainan perkusi dan warna musik rumba. Menariknya pada lagu tersebut dari awal hingga akhir musik dimainkan dalam tempo yang tetap. Lagu ini akan mengajak penonton untuk berjoged pas dengan suasana hawa pegunungan Bromo yang terkenal dingin.

Pada satu komposisi lagu Ring of Fire mengaransemen sebuah lagu jazz standar dalam sajian instrumentalia. Lagi-lagi Ring of Fire menawarkan permainan dan komposisi yang menarik memadukan instrumen tradisional dan modern. Eksperimen yang dilakukan oleh Ring of Fire pada komposisi ini adalah melodi lagu dimainkan dengan menggunakan instrumen berbeda secara bergantian dan sambung menyambung tanpa kehilangan nada yang sedang dimainkan. Mengawali komposisi dengan permainan flute yang dimainkan oleh Ricad Hutapea dalam iringan perkusi dalam tempo musik waltz, Djaduk menyambung dengan permainan seruling bambu melanjutkan nada yang sedang dimainkan Ricad. Saat Djaduk belum menyelesaikan tiupan serulingnya gitaris Ring of Fire memainkan gitarnya dalam nada permainan seruling Djaduk. Hal yang sama dilakukan pemetik bass Ring of Fire Danny Eriawan Wibowo melanjutkan permainan gitar. Pada reffrein lagu permainan seruling Djaduk disambung dengan tiupan saksofon Ricad.

Bersama Didi Kempot, Ring of Fire project membawa vokalis utamannya Silir Pujiwati serta Alit Jabang Bayi yang menyanyikan lirik rap.

“Ini eksperimen yang pertama kali Ring of Fire memainkan komposisi tersebut,” jelas Djaduk kepada satuharapan.com tentang komposisi lagu jazz standar tersebut.

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home