Loading...
EKONOMI
Penulis: Eben Ezer Siadari 10:16 WIB | Jumat, 24 April 2015

Jepang Menolak Tawaran Tiongkok Pimpin AIIB

PM Jepang, Shinzo Abe (kiri) dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping (Foto:indianexpress.com)

BEIJING, SATUHARAPAN.COM - Pemerintah Tiongkok sempat menawari Jepang posisi Wakil Presiden Direktur  Asia Infrastructure Investment Bank (AIIB) dengan harapan negara itu ikut bergabung. Namun, Tokyo menolaknya dan memilih berada di kubu AS yang enggan bergabung dengan bank bermodal awal US$ 100 miliar itu. Dengan demikian negara  Matahari Terbit tersebut kehilangan kesempatan emas.

Hal ini terungkap dalam sebuah ulasan di media Jepang, Nikkei, pada 20 April lalu dan dilansir kembali oleh media Tiongkok, wantchinatimes.com. Dalam laporannya Nikkei mengatakan, Jin Liqun, mantan wakil menteri keuangan Tiongkok dan kepala interim AIIB, telah menyampaikan harapan kepada Takehiko Nakao, Presiden Asian Development Bank (ADB) agar Jepang bisa bergabung dengan AIIB. Sejauh ini, Jin, mantan wakil presiden ADB, dianggap kandidat yang paling mungkin untuk posisi presiden pertama AIIB.

Jin berbicara dengan Nakao di guest house milik pemerintah, Diaoyutai, di Beijing pada tanggal 22 Maret, sembilan hari sebelum tenggat waktu untuk aplikasi anggota pendiri AIIB. Pejabat Tiongkokitu  menambahkan bahwa ia bersedia untuk menjelaskan kasus tersebut secara langsung kepada pemerintah Jepang jika diperlukan.

Jin mengusulkan untuk menawarkan Jepang jabatan wakil presiden dan jabatan direktur yang akan mewakili Jepang. Namun, Jepang memilih untuk berada di pihak AS, menjauh dari AIIB dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab tentang struktur dan organisasi standar pinjaman. Dengan demikian Jepang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan posisi peringkat teratas di lembaga keuangan baru itu.

"Tidak mungkin bagi Jepang untuk merangkul ide itu dengan segera," kata Nakao kepada rekan-rekannya setelah berbicara dengan Jin, Nikkei mengutip informasi dari berbagai sumber.

Pada musim gugur 2014, Jin dilaporkan meminta pejabat keuangan Jepang untuk merekomendasikan ahli untuk AIIB pada pertemuan pribadi.

Jin, ekonom alumni Boston University dan mantan wakil presiden ADB yang pernah membantu presiden Haruhiko Kuroda,  tahu dengan baik bahwa Tiongkok membutuhkan orang lain selain dirinya sendiri untuk membentuk sebuah lembaga internasional. Dia ingin memiliki sumber keahlian dari Jepang, kata laporan itu.

Negara-negara Asia Tenggara juga menyerukan agar Jepang bergabung. Sebuah sumber diplomatik di Beijing mengatakan banyak negara mengharapkan Jepang untuk bertindak sebagai penyeimbang Tiongkok.

Yoshihide Suga, kepala sekretaris kabinet Jepang, mengatakan dalam konferensi pers pada 16 April bahwa Jepang bekerja sama dengan G7 sehubungan dengan AIIB. Di antara negara-negara G7, Inggris, Jerman, Prancis dan Italia berencana untuk bergabung dengan AIIB sebagai anggota pendiri. Total jumlah anggota pendiri saat ini mencapai 57 negara.

Seiring dengan keberadaan AIIB yang menjadi lebih berpengaruh, dengan lebih banyak negara yang ikut bergabung, AS akan terpinggirkan di lembaga keuangan baru itu jika tidak ambil bagian.  Namun, AS baru-baru ini menyatakan bahwa mereka menyambut pembentukan AIIB.

Jepang akan emutuskan apakah akan bergabung AIIB melalui pertemuan puncak dengan AS akhir bulan ini. Perjanjian pendirian AIIB sendiri akan dirampungkan dan ditandatangani oleh anggota pendirinya bulan Juni nanti.

Menteri Keuangan Jepang Taro Aso dan Menteri Keuangan Tiongkok Lou Jiwei, serta pejabat keuangan lainnya direncanakan bertemu pada 6 Juni mendatang, dan kemungkinan pembicaraan tentang AIIB akan masuk dalam agenda.

Di Jakarta, pada hari Rabu (22/4), Presiden Tiongkok Xi Jinping mengadakan pertemuan dengan PM Jepang, Shinzo Abe, di sela-sela acara peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika. Namun, pertemuan itu hanya berlangsung 30 menit dan tidak ada pernyataan resmi mengenai isi pertemuan itu.

“Relasi Tiongkok dan Jepang jauh dari bagus," kata said Shi Yinhong, profesor Hubungan Internasional pada Renmin University di Beijing. “Xi masih memiliki ketidakpercayaan yang besar terhadap Abe, dan Abe tidak mempercayai Xi," kata dia, sebagaimana dikutip oleh nytimes.com.

Editor : Eben Ezer Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home