Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Reporter Satuharapan 16:49 WIB | Rabu, 08 Agustus 2018

Jokowi Bandingkan Antek Asing dengan Blok Mahakam-Freeport

Presiden Jokowi memberikan sambutan pada acara Pembukaan Pendidikan Kader Ulama (PKU) XII, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8). (Foto: Humas/Anggun/Setkab)

BOGOR, SATUHARAPAN.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengklarifikasi tuduhan yang sudah menjurus fitnah dan dinilainya membahayakan negara ini, yaitu yang berkaitan dengan antek asing.

“Antek asing, bagaimana antek asing? Yang namanya Blok Mahakam, yang dulu dimiliki oleh Prancis dan Jepang, 100 persen sekarang kita berikan ke Pertamina,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada Pembukaan Pendidikan Kader Ulama (PKU) XII, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8) pagi.

Presiden Jokowi menegaskan, bahwa Blok Mahakam yang tadinya dikelola oleh Chevron telah diambil alih pemerintah 100 persen, dan selanjutnya pengelolaannya diberikan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu PT Pertamina (Persero).

Presiden juga menyebut contoh pengelolaan tambang emas, PT. Freeport Indonesia, di Papua, yang menurutnya sulit sekali, selama 40 tahun Indonesia hanya diberikan 9,3 persen, dan semuanya diam saja.

“Saya negosiasi, menteri-menteri 3,5 tahun, alot sekali. Jangan dipikir negosisasi seperti itu mudah, sangat alot sekali. Untuk minta, saya sampaikan jangan mundur minta mayoritas 51 persen. Saya sudah sampaikan, jangan mundur. Ditawar 30 persen, enggak. Saya sampaikan 51 persen mayoritas,” ungkap Presiden Jokowi.

Namun saat sudah tanda tangan yang namanya head of agreement, kesepakatan, Presiden Jokowi mengkritisi suara yang muncul yang dinilainya malah jelek semuanya.

“Saya enggak mengerti gimana kita ini sebetulnya. 40 tahun 9 persen pada diam. Begitu ada kesepakatan head of agreement 51 persen tidak didukung penuh,” ucap Presiden Jokowi seraya menambahkan, mestinya seluruh rakyat mendukung penuh, hingga nanti betul-betul bisa dikelola bangsa ini.

“Begitu dibilang antek asing,” ujar Presiden Jokowi. (Setkab)

 

Editor : Melki Pangaribuan

Back to Home