Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 06:01 WIB | Sabtu, 14 Juli 2018

Jujur Melangkah

Amos dan Amazia (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Masih ingat syair ”Belaian Sayang” karya Bing Slamet? Refreinnya demikian: ”Ibu mendo’a, ayah menjaga, agar kau kelak jujur melangkah”. Inilah harapan orang tua terhadap anaknya: jujur melangkah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ”jujur” didefinisikan sebagai lurus hati artinya tidak berbohong, tidak curang, dan tulus atau ikhlas. Jelaslah, juga dalam KBBI, jujur tidak hanya sekadar tidak berbohong, tetapi melangkah pun harus jujur. Tindakan juga mesti jujur.

Namun, bersikap dan bertindak jujur bukan tanpa risiko. Mengapa? Karena dalam dunia yang sekarat ini, jujur melangkah malah terkesan aneh, bahkan pelakukanya bisa dibenci.

Melalui orang suruhannya, Hizkia mengirimkan pesan kepada Raja Yerobeam: ”Amos telah mengadakan persepakatan melawan tuanku di tengah-tengah kaum Israel; negeri ini tidak dapat lagi menahan segala perkataannya. Sebab beginilah dikatakan Amos: Yerobeam akan mati terbunuh oleh pedang dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan” (Am. 7:10-11). Pesan itu gamblang: Amos dianggap telah bertindak makar.

Sejatinya, Amos punya alasan kuat. Di mata Tuhan Israel telah menyimpang dari kehendak Tuhan. Mereka melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Keadaan Israel memang cukup damai dan makmur. Tetapi, yang mengecap kemakmuran hanyalah para hartawan yang memperkaya diri dengan hasil penindasan dan ketidakadilan terhadap orang miskin. Amos menyerukan agar keadilan mengalir seperti air. Ia berkata, “Mungkin TUHAN akan mengasihani orang-orang yang tersisa dari bangsa Israel.” (Am. 5:15).

Apa yang disampaikan Amos memang bukan kabar menyenangkan. Apa yang disampaikan Amos bertentangan dengan pendapat Ahazia, imam di Betel.  Dan sejarah mencatat Amos benar. Dia benar karena sungguh-sungguh memahami dan menjalani tugasnya sebagai pembawa pesan. Dia tidak ingin hanya menyenangkan hati orang. Bagaimanapun, dia pembawa pesan. Dia tidak ingin mengorupsi pesan itu agar diterima pendengarnya.

Amos bukan nabi karena jabatan. Dalam bahasa sekarang, dia bukan pejabat gerejawi. Tetapi, dia menyatakan apa yang benar. Jelas, semua orang percaya dipanggil Tuhan untuk menyatakan apa yang benar. Jangan hanya menyatakan apa yang disukai orang atau ingin memuaskan telinga orang! Namun, katakan apa yang benar, tentunya dengan cara yang santun.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor: Yoel M. Indrasmoro

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home