Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 06:17 WIB | Sabtu, 14 April 2018

Kami adalah Saksi

Petrus sungguh mengalami kebangkitan Yesus.
Penyesalan Petrus (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi” (Kis. 3:15). Petrus dengan lugas berkata bahwa dia adalah saksi. Dia sungguh mengenal Yesus Orang Nazaret. Tak hanya mengenal, tetapi dia sungguh mengalami makna pengorbanan-Nya. Inilah keajaiban Paskah. Paskah mengubah Petrus.

Mengapa Paskah mengubah Petrus? Kemungkinan besar, Petrus sungguh merasakan kesetiaan gurunya. Meskipun, Sang Murid tidak setia, Sang Guru tetap setia. Itulah yang dirasakan Simon Petrus. Peristiwa penyangkalan Petrus pastilah melekat erat di benak para murid lainnya. Orang yang pernah berkata, ”Biar mereka semua meninggalkan Engkau, aku sekali-kali tidak!”; toh menyangkal juga. Penyangkalan Petrus bisa jadi juga membuat patah semangat para murid lainnya. Sang Pemimpin saja bisa jatuh, apalagi orang-orang yang dipimpinnya!

Bisa jadi juga penyangkalan itu berpengaruh pada wibawa Petrus di mata para murid lainnya. Mungkin mereka merasa Petrus tak layak lagi menjadi pemimpin. Bukankah pemimpin seharusnya menjadi teladan? Dan Petrus memang tak layak diteladani. Tetapi, kabar yang disampaikan Kleopas dan kawannya yang pulang dari Emaus itu patut kita simak. ”Kata mereka itu: ’Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.’” (Luk. 24:34).

Keempat Injil tidak menceritakan perjumpaan Yesus yang bangkit dengan Simon secara detail. Tetapi, Paulus mencatat: ”bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya” (1Kor. 15:5). Penampakkan Tuhan Yesus yang bangkit kepada Simon tentulah menyiratkan bahwa Sang Guru tak pernah membuang Sang Murid.

Bisa jadi Petrus merasa tak perlu lagi memikul tanggung jawab sebagai pemimpin. Mungkin dia menyesal. Tetapi, apa mau dikata: nasi telah menjadi bubur. Kemungkinan besar Petrus merasa sesak hatinya setelah peristiwa penyangkalan itu.

Namun, Petrus sungguh merasakan kelegaan bahwa Sang Guru tidak mau mengambil tanggung jawab yang telah diserahkannya. Petrus sungguh merasakan kesetiaan Yesus. ”Kami adalah saksi!” tak hanya berarti bahwa Petrus melihat Yesus. Petrus sungguh mengalami kebangkitan Yesus.

Karena itu, Petrus dapat sungguh-sungguh menjadi saksi hidup. Sekali lagi karena dia telah mengalami makna pengorbanan Yesus—kesetiaan dan pengampunan-Nya. Dan hanya orang yang telah mengalami pengorbanan Yesuslah yang sanggup berkurban bagi Allah dan berkorban bagi sesama.

 

Email: inspirasi@satuharapan.c

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home