Loading...
EKONOMI
Penulis: Melki Pangaribuan 18:19 WIB | Jumat, 27 Januari 2017

KJRI-ITPC Bina Diaspora Pasarkan Produk Indonesia di Jeddah

Ilustrasi. Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, Srie Agustina didampingi saat meresmikan Kantor Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) Jeddah, Minggu, 3 April 2016 di Jeddah. (Foto: kemendag.go.id)

JEDDAH, SATUHARAPAN.COM – Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Jeddah bersinergi memperkuat pembinaan dan komuniksi para diaspora Indonesia di Jeddah, Arab Saudi.

Mereka dibina secara khusus untuk mempromosikan produk Indonesia melalui sistem penjualan ritel atau eceran di Arab Saudi. Konsul Jenderal RI, M. Hery Saripudin memimpin rapat koordinasi dengan Tim Ekonomi dan Perdagangan KJRI Jeddah dalam menentukan langkah strategis peningkatan ekspor nonmigas ke Arab Saudi di KJRI, pekan lalu.

"Diaspora Indonesia berperan besar dalam mempromosikan komoditas Indonesia secara langsung kepada konsumen akhir, baik orang Indonesia maupun yang berasal dari negara lain seperti negara anggota ASEAN, Pakistan, Bangladesh, dan India," kata Hery, hari Senin (23/1).

Menurut Hery, produk-produk Indonesia seperti makanan, minuman, barang kebutuhan pokok, ikan dan olahan ikan, sayur, buah-buahan, kosmetik dan obat-obatan khususnya obat herbal yang berasal dari Indonesia, sebagian besar dijual dengan sistem ritel.

Hal senada juga diungkapkan oleh Pelaksana Fungsi Ekonomi KJRI Jeddah, Bachtiar Saleh. Menurut dia, diaspora Indonesia yang berada di Jeddah, khususnya yang bergerak di sektor ritel, merupakan ujung tombak pemasaran produk Indonesia di Arab Saudi.

“Dengan peningkatan komunikasi dan pembinaan para diaspora, komoditas Indonesia diharapkan semakin dikenal masyarakat luas," kata Bachtiar.

Berdasarkan data yang dihimpun ITPC Jeddah, penjualan produk Indonesia secara ritel di wilayah Jeddah pada periode 2014-2016 mengalami pertumbuhan sebesar 13,76 persen atau tumbuh 6,88 persen per tahun.

Padahal jumlah toko yang menjual produk Indonesia secara langsung dalam periode yang sama justru mengalami penurunan sebesar 2,08 persen atau turun sebesar 1,04 persen per tahun.

Kepala ITPC Jeddah, Gunawan, menuturkan jumlah toko-toko Indonesia memang mengalami penurunan. Namun, permintaan komoditas Indonesia mengalami peningkatan.

“Dalam satu tahun ada satu toko ritel Indonesia yang tutup,” kata Gunawan.

Penurunan jumlah toko Indonesia ini, lanjut Gunawan, antara lain disebabkan imbas kenaikan harga sewa lahan, program saudinisasi untuk tenaga kasir di toko-toko wilayah Arab Saudi, dan juga pemulangan warga Indonesia yang secara tidak langsung mengurangi jumlah konsumen produk Indonesia.

“Untuk menjaga agar toko Indonesia tetap beroperasi, pengelola toko melakukan perluasan segmentasi pasar, tidak hanya untuk konsumen dari Indonesia, tetapi juga dari negara Asia lainnya,” jelas Gunawan.

Vision 2030 Arab Saudi

Sementara itu, warung atau restoran yang dimiliki diaspora Indonesia di Jeddah pada tahun 2014 hanya berjumlah 12 restoran, tetapi pada akhir tahun 2016 meningkat menjadi 22 restoran atau meningkat 83,33 persen.

Menurut Gunawan, peningkatan ini dipicu gencarnya program pemerintah Arab Saudi melalui Vision 2030. Vision 2030 merupakan program pemerintah Arab Saudi untuk menjalin hubungan yang lebih bebas dan terbuka dengan berbagai negara salah satunya Indonesia.

Melalui Vision 2030 Arab Saudi akan meningkatkan jumlah jamaah haji dan umroh secara intensif sehingga dapat mendorong pengembangan sarana dan prasarana haji seperti pemondokan, perhotelan, sarana perdagangan, usaha suplai makanan, serta keperluan haji dan umroh lainnya.

"Besarnya jumlah jemaah haji dan umrah yang datang ke Arab Saudi mendorong berkembangnya usaha penyediaan pemondokan bagi jemaah, usaha katering, usaha perdagangan makanan dan minuman, souvenir, tekstil dan produk tekstil, dan komoditas lainnya," katanya.

Sektor lain yang juga tumbuh adalah jasa pengiriman barang antarnegara (kargo) yang dikelola oleh warga negara Indonesia (WNI). Pada 2014 belum ditemui perusahaan pengiriman barang yang dikelola oleh WNI.

Namun, pada akhir 2016 terdapat 7 perusahaan yang dikelola oleh WNI. Peningkatan ini juga dipicu oleh peningkatan jemaah haji dan umrah yang berkunjung ke Arab Saudi.

“Para jemaah haji dan umrah dari Indonesia ini melakukan transaksi perdagangan khususnya importasi komoditas dari Arab Saudi seperti karpet turki, buah tin, dan kurma. Komoditas tersebut dikirim ke Indonesia melalui kargo karena jumlah dan volumenya tidak memungkinkan untuk dibawa karena keterbatasan jumlah barang yang dapat dibawa di bagasi atau kabin pesawat,” kata Gunawan.

Sementara itu, untuk usaha salon di Jeddah pada periode 2014–2016 jumlahnya tetap satu perusahaan.

“Kita berharap dengan adanya dukungan pemerintah dan dunia usaha untuk melakukan penetrasi pasar produk-produk kosmetik dan obat-obatan Indonesia dapat meningkatkan jumlah usaha salon dan spa di Arab Saudi,” kata Gunawan. (PR)

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home