Loading...
RELIGI
Penulis: Bayu Probo 12:41 WIB | Rabu, 06 Agustus 2014

Kristen Timur Tengah Doa dan Puasa untuk Perdamaian Gaza

Kristen Timur Tengah Doa dan Puasa untuk Perdamaian Gaza
Dua pemuda gereja membawa plakat dengan bendera Palestina (bawah), Irak (kanan), dan Dewan Nasional Suriah dalam ibadah di Gereja Beit Hanina, Jumat (1/8). (Foto-foto: Facebook Christian Palestina)
Kristen Timur Tengah Doa dan Puasa untuk Perdamaian Gaza
Salib Kristus diarak ke altar.
Kristen Timur Tengah Doa dan Puasa untuk Perdamaian Gaza
Jemaat beribadah di Beit Hanina.

YERUSALEM, SATUHARAPAN.COM – Di tengah konflik Israel dan Hamas, doa dan puasa terus diadakan dalam beberapa hari ini di semua komunitas Kristen setempat. Doa-doa dipanjatkan agar “Allah memberikan hadiah perdamaian” di kawasan itu.

Pada Jumat (1/8) malam, di paroki St James di Beit Hanina, ibadah untuk perdamaian dan pengakhiran perang diselenggarakan Uskup William Shomali, Patriark Vikaris Gereja Latin Yerusalem. Paginya—seperti biasanya tiap Jumat—Pastor Mario Cornioli, imam di Beit Jala, Tepi Barat, merayakan misa di bawah pohon-pohon zaitun di Lembah Cremisan dan kemudian bersama-sama dengan jemaat membacakan doa di depan tembok pemisah yang dibangun oleh Pemerintah Israel.

Sebelumnya, pada Rabu (30/7), Uskup Agung Maroun Laham, Patriark Vikaris wilayah Jordan Gereja Latin Yerusalem, merayakan misa untuk perdamaian di Gereja Our Lady of Nazareth di Sweifieh. Dalam homilinya Uskup Agung mengatakan, “Malam ini kita di sini, berdoa bagi Gaza, Palestina, Irak, Suriah, Mesir, dan Libya. Kita berdoa setiap hari, kami yakin bahwa Bapa kita yang di surga mendengar suara kami dan melihat apa yang terjadi.“

Sementara itu, di Mesir, Patriark Koptik Ortodoks, Tawadros II menyerukan kepada orang-orang Kristen Koptik untuk bergabung dengan puasa 15 hari, 7-22 Agustus, memohon untuk mengakhiri penderitaan rakyat Gaza. Sementara Gereja Katolik di Mesir sudah mulai berpuasa, yang akan berlanjut sampai 15 Agustus untuk berdoa bagi orang-orang yang menderita dari Timur Tengah.

Yayasan di bawah kepausan, Bantuan kepada Gereja yang Membutuhkan (Aid to the Church in Need/ACN), seiring dengan Patriark Babel Gereja Khaldea, Louis Raphael I Sako, menyerukan “semua orang yang berkehendak baik” untuk bergabung dengan Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian di Irak Selasa, 6 Agustus.

Intoleransi di Pakistan

Di sisi lain, kekristenan di Pakistan pun sedang mengalami penindasan. “Terorisme dan intoleransi agama adalah tulah terburuk yang menimpa Pakistan,” kata Pastor Bernard Inayat, Rektor Seminari Santa Maria di Lahore, Senin lalu.

“Gereja di Pakistan merespons tantangan ini: melalui Yayasan Caritas di Islamabad-Rawalpindi, di Utara, yang dipengaruhi oleh aliran pengungsi dari Waziristan Utara akibat serangan anti-teroris tentara. Kami menginginkan perdamaian. Dan, sebenarnya Islam adalah agama yang mencintai perdamaian. Seluruh negeri mendukung upaya militer untuk memberantas terorisme,” Ps Inayat menambahkan.

Yayasan Caritas Internasional adalah perserikatan dari 164 organisasi bantuan bencana, pembangunan dan pelayanan sosial yang beroperasi di lebih dari 200 negara dan teritori di seluruh penjuru dunia—termasuk Pakistan. Secara umum dan khusus misi mereka adalah untuk berkarya membangun dunia yang lebih baik, terutama bagi kaum papa dan pihak yang tertindas.

Organisasi pertama Caritas dimulai di Kota Freiburg, Jerman, pada 1897. Organisasi Caritas lainnya segera menyusul di Swiss (1901) dan Amerika Serikat (Catholic Charities, 1910). Presiden Caritas Internasional saat ini adalah Kardinal Óscar Andrés Rodríguez Maradiaga dan Sekretaris Jenderalnya adalah Lesley-Anne Knight.

Pastor Bernard melanjutkan dengan mengatakan bahwa, pada saat yang sama, “ada mentalitas Taliban dalam masyarakat, yang intoleran dan berprasangka, yang harus diubah. Banyak madrasah dan masjid mengajarkan bahwa orang non-Muslim adalah kafir, meningkatkan intoleransi dan kekerasan.”

Menurut Bernard, dengan tujuan mengubah sikap ini, upaya dialog antar-agama penting. Namun, berkat pengabdian banyak pemimpin Katolik Pakistan dialog kehidupan dengan umat Islam sedang berlangsung.

“Untuk alasan ini, kami mengelola pertemuan dan acara untuk menunjukkan betapa kami memiliki kesamaan. Kata-kata dan gerak tubuh berdampak pada masyarakat. Kami akan terus membangun jembatan dan untuk menabur benih yang dapat tumbuh untuk mengubah mentalitas ini,” kata Ps Bernard.  “Bahkan sekolah mengalami prasangka yang kuat terhadap kelompok minoritas dalam kurikulum sekolah dan buku pelajaran. Jadi, kami bekerja untuk mengubah isi buku-buku sekolah ini. Yang penting adalah selalu berdialog dengan para pemimpin sipil dan agama,” ia mengakhiri pembicaraan. (christianpakistan.com/wikipedia.org)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home