Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Melki Pangaribuan 14:30 WIB | Kamis, 04 Agustus 2016

Likas Tarigan Istri Pahlawan Nasional Djamin Ginting Meninggal

Presiden Joko Widodo menyerahkan plakat gelar Pahlawan Nasional atas nama Djamin Ginting kepada Ibu Likas Tarigan (istri Djamin Ginting). (Foto: medanbisnisdaily.com)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Likas boru Tarigan, istri dari pahlawan nasional, almarhum Djamin Ginting, meninggal dunia pagi tadi (4/8) di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta.

Informasi tentang meninggalnya beliau diperoleh dari jejaring Persatuan Intelegensia Sinar Kasih (PISKA) hari ini.

Kabar tentang meninggalnya beliau juga ramai dibicarakan di medsos. Menurut salah seorang tokoh Karo yang tinggal di Jakarta, Amir Sembiring, upacara pemakaman rencananya akan dilangsungkan pada Sabtu, (6/8) di rumahnya, Jalan Ginting No 72, Bintaro Pesanggrahan, Jakarta Selatan. .

Likas Tarigan lahir di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara, 13 Juni 1924. Suaminya, Letjen TNI (Purn) Djamin Ginting, diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 7 November 2014

Ibunda dari Riemenda J. Gintings, Riahna J. Gintings, Sertamin J. Gintings, Serianna J. Gintings dan Enderia Pengarapen J. Gintings ini menamatkan sekolah dasar dan sambungan di Sibolangit (1932-1937). Kemudian melanjutkannya ke Sekolah Guru di Padang Panjang (1937-1941).

Ia pernah menjadi guru di Pangkalan Brandan (1941-1944), di Kabanjahe (1944-1945), ketua Pandu Kabanjahe (1946) sebelum kemudian menjadi anggota MPR dari Golkar selama dua periode (1978-1983, 1983-1988).

Menurut catatan Wikipedia, ia juga pernah menjadi Pengurus Pusat PEPABRI dan komisaris PT Amal Tani.

Di masa hidupnya ia juga sempat membangun gedung wanita Karo dan membantu membangun gedung untuk beberapa sekolah.

Kisah hidup Likas telah difilmkan dengan judul 3 Nafas Likas pada 2014 silam yang diperankan oleh Atiqah Hasiholan. Film tersebut disutradai oleh Rako Prijanto.

2014 silam, Likas juga sempat menerima gelar pahlawan nasional untuk suaminya yang diberikan Presiden Joko Widodo di Istana Negara. "Terima kasih Pak Joko Widodo. Empat puluh tahun saya menunggunya. Baru kali ini jadi kenyataan," kata dia, ketika menerima plakat tanda jasa atas nama suaminya dari Jokowi.

Suaminya, Djamin Ginting, lahir di Desa Suka, Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, 12 Januari 1921. Beliau meninggal di Ottawa, Kanada, 23 Oktober 1974 pada umur 53 tahun.

Djamin Ginting dikenal sebagai tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Tanah Karo dan namanya diabadikan dalam sebuah jalan yang menghubungkan Medan dan Brastagi, Sumatera Utara.

Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah, Djamin Gunting bergabung dengan satuan militer yang diorganisir oleh opsir-opsir Jepang. Pemerintah Jepang membangun kesatuan tentara yang terdiri dari anak-anak muda di Taneh Karo guna menambah pasukan Jepang untuk mempertahankan kekuasaan mereka di benua Asia. Djamin Ginting muncul sebagai seorang komandan pada pasukan bentukan Jepang itu.

Dia bercita-cita untuk membangun satuan tentara di Sumatera Utara. Di kemudian hari anggota pasukan Djamin Gintings ini muncul sebagai pionir-pionir pejuang Sumatera bagian Utara dan Karo, seperti Kapten Bangsi Sembiring, Kapten Selamat Ginting, Kapten Mumah Purba, Mayor Rim Rim Ginting, Kapten Selamet Ketaren, dan lain-lain.  

Dalam rangka menghadapi gerakan pemberontakan Nainggolan di Medan (Sumatera Utara), sebagai Panglima TT I, Letkol Inf Djamin Ginting melancarkan Operasi Bukit Barisan. Operasi ini dilancarkan pada tanggal 7 April 1958. Dengan dilancarkannya operasi Bukit Barisan II ini, maka pasukan Nainggolan dan Sinta Pohan terdesak dan mundur ke daerah Tapanuli.

Di pengujung masa baktinya, Djamin Ginting mewakili Indonesia sebagai  Duta Besar untuk Kanada, tempat dia mengembuskan nafas terakhir.

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home