Loading...
OPINI
Penulis: Florianus Geong 00:00 WIB | Senin, 07 Maret 2016

Mahalnya Rasa Bangga

SATUHARAPAN.COM - Kemenpora baru saja mencetuskan ide untuk memotong gaji para Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk mendukung Rio Harianto membalap dalam ajang Formula I. Menpora memulainya dari PNS yang ada di dalam Kemenpora.

Ide pengumpulan dana ini bermula dari besarnya dana yang dibutuhkan Rio Harianto sebagai orang Pertama Indonesia yang membalap dalam ajang formula I itu. Tim Manor yang menggandeng Rio sebagai pembalap mengharuskan Rio untuk menyetorkan dana sebesar 15 Juta Euro atau setara dengan 226 Miliar Rupiah. Sejauh ini Pertamina telah menyediakan dana sebesar 5 Juta Euro untuk sang pembalap. Atas dasar itu, Kemenpora ingin mendukung Rio dengan menambah dana 10 Juta Euro.

Ide ini, selain sangat berlebihan juga menyakitkan. Berlebihan karena pemerintah nekat menggelontorkan dana yang sangat besar itu hanya demi seorang pembalap berlomba. Berlebihan juga karena dana yang dibutuhkan itu akan dikumpulkan dari PNS Indonesia yang setiap tahunnya terus mengeluh kesulitan hidup akibat biaya hidup yang tinggi tidak diimbangi dengan pendapatan dari gaji.

Hal itu juga menyakitkan karena di banyak sudut negara ini ada ribuan anak yang menderita gizi buruk atau tidak bisa sekolah karena ketiadaan biaya. Menyakitkan karena Pertamina memberikan dana 5 Juta Euro sementara masyarakat di Pegunungan Tengah Papua harus membeli BBM yang jadi urusan Pertamina dengan harga yang sangat mahal. Jika untuk seorang Rio, Pertamina bersedia memberikan dana sebesar itu, mengapa untuk ratusan ribu masyarakat Papua Pertamina tidak bisa menyediakan BBM yang berkualitas dan harga yang sama seperti di Jakarta?

Selain aksi Kemenpora tersebut, banyak pihak sinis terhadap pemerintah yang tidak memberikan suntikan dana bagi Rio. Bagi kebanyakan orang seperti itu, Rio adalah suatu kebanggaan dan jasanya selama membalap telah mengangkat nama Indonesia di kancah dunia. Lagu Indonesia Raya pernah dinyanyikan dan bendera Indonesia dikibarkan saat Rio juara. Ini adalah kebanggaan yang luar biasa dan karena itu sebagian masyarakat memandang bahwa Pemerintah wajib mendukung Rio.

Kita tentu tidak ingin mengabaikan peran Rio Harianto dalam mengangkat nama bangsa. Namun kebanggaan karena seorang Rio bisa melaju dalam arena F1 terlalu hina untuk negara besar yang banyak penduduknya sedang berjuang mempertahankan hidup karena kelaparan dan penyakitan. Bahkan kebanggaan jika bendera Merah Putih berkibar dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan ketika Rio juara balapan pun terlalu rendah untuk bangsa yang kebanyakan masyarakatnya sedang menderita ini.

Kita patut mendukung Rio tetapi bukan dengan menggunakan dana negara yang sangat dibutuhkan oleh jutaan penduduk Indonesia yang kelaparan. Kebanggaan seperti itu terlalu mahal untuk bangsa ini. Bahkan kebanggaan seperti itu adalah racun yang mesti dihilangkan karena menjadi juara dalam F1 pun tidak ada nilai tambah bagi masyarakat miskin Indonesia selain mungkin turut berbangga. Sementara Rio bisa memacu mobil mahal dengan bayaran luar biasa mahal untuk kebanggaan sebuah bangsa, sebagian masyarakat Indonesia yang ada di Papua pedalaman misalnya belum pernah melihat apalagi menyentuh wujud mobil angkutan sekalipun hanya rongsokannya. Kemahalan rasa bangga memiliki seorang anak bangsa di lintasan F1 itu terlampau menyakitkan bagi masyarakat Papua yang katanya menjadi bagian dari Indonesia namun harus berjalan kaki seumur hidup.

Dalam konteks seperti itu, mahalnya rasa bangga itu menjadi suatu penghinaan yang sangat menyakitkan bagi masyarakat yang tidak diperhatikan oleh pemerintah. Maka bangsa ini dan terlebih khusus para pejabatnya mesti mengubah paradigma soal rasa bangga. Rasa bangga akan berkibarnya Merah Putih bahkan di seluruh dunia sekalipun karena ada seorang anak bangsa yang menjadi juara mesti diubah pada rasa bangga jika seluruh anak negeri ini bisa mendapatkan pendidikan yang memadai atau mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal.

Bendera Merah Putih hanyalah sebuah lambang bangsa yang tidak ada artinya sedikit pun jika kebanyakan anak bangsa yang dilambangkan oleh bendera tersebut menderita. Artinya bukan seberapa sering bendera Merah Putih itu berkibar dalam berbagai perlombaan yang menjadi penting tetapi seberapa sering Merah Putih itu menunjukkan bahwa negara hadir secara maksimal dalam pelayanan terhadap masyarakatnya.

Bendera itu melambangkan manusia Indonesia. Bendera menjadi tidak bermakna ketika tidak melambangkan manusia di baliknya. Maka adalah memalukan kalau bendera yang adalah lambang itu terus berkibar sementara di banyak daerah negara tidak hadir dalam bentuk pelayanan. Sebab penghormatan terhadap lambang negara berarti penghormatan terhadap setiap anak manusia yang dilambangkan oleh bendera tersebut. Jika yang dihormati hanyalah benderanya sementara manusia yang dilambangkannya dibiarkan mati, sebagai lambang, bendera tersebut kehilangan maknanya.

Maka mari kita berbangga atas negara ini bukan karena benderanya yang terus berkibar tetapi atas manusia-manusianya yang tidak lagi mati karena tidak adanya petugas kesehatan. Mari kita berbangga atas negara ini karena manusia-manusianya bisa mendapatkan pendidikan maksimal. Apa memang saat ini kita pantas berbangga dan mengibarkan lambang negara itu? Mungkin belum saatnya.

 

Penulis adalah alumnus STFK Ledalero

Editor : Trisno S Sutanto


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home