Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Reporter Satuharapan 23:43 WIB | Sabtu, 03 November 2018

Membincangkan Potensi Seni Grafis di Bali

Acara Timbang Pandang "Potensi Seni Grafis Bali", yang berlangsung di Bentara Budaya Bali (BBB), 2 November 2018. (Foto: Bentara Budaya Bali)

GIANYAR, SATUHARAPAN.COM - Bentara Budaya Bali (BBB) mengetengahkan sebuah program Timbang Pandang atau dialog seputar Potensi Seni Grafis Bali, Jumat (2/11). Bersama narasumber Wayan Sujana Suklu (perupa, akademisi) dan Made Susanta Dwitanaya (kurator dan pegiat Komunitas Studio Grafis Undiksha), dibincangkan perihal perkembangan seni grafis di Bali seraya membandingkannya dengan dinamika di kota-kota lain di Indonesia, seperti di Yogyakarta ataupun Bandung. 

Disampaikan Made Susanta, dalam konteks seni rupa Bali, aktivitas seni grafis tampaknya masih belum begitu mengemuka jika dibandingkan dengan seni visual lainnya. Agenda-agenda seni rupa di Bali yang khusus menampilkan karya- karya seni grafis masih terbilang langka sehingga pewacanaan tentang bidang seni ini di Bali boleh dikata jarang terdengar. 

Dibandingkan dengan ekspresi seni rupa lainnya, terlebih seni lukis dan patung, seni grafis boleh dikata tertepis, belum memeroleh apresiasi serta publikasi secara lebih memadai, serta terbatasnya animo kolektor dan peminat karya grafis. 

“Padahal seni grafis ini sudah diajarkan di sekolah-sekolah, bahkan diperguruan tinggi, semisal yang pernah saya pelajari di Undiksha Singaraja. Tapi baru sejak tahun 2007 banyak mahasiswa Undiksha yang mulai memilih konsentrasi seni grafis sebagai tugas akhir, di mana kebanyakan mengedepankan  teknik cukil kayu. Selain karena kemudahan memeroleh bahan, saya kira hal ini (pemilihan teknik cukil kayu) ada kaitannya dengan tradisi mengukir yang tumbuh dalam masyarakat Bali selama ini,“ ungkap Susanta.

Kian bertumbuhnya minat  mahasiswadan alumni seni rupa Undiksha terhadap seni grafis,  pada tahun 2014 Susanta dan kawan-kawannya kemudian mendirikan komunitas pegrafis “B-Tjap” atau Buleleng Tjap,  yang belakang  berkembang menjadi Studio Grafis Undiksha. 

Sementara itu, Wayan Sujana “Suklu” mengapresiasi inisiatif dan konsistensi Bentara Budaya dalam menyelenggaraan Kompetisi Triennial Seni Grafis, yang kini telah menginjak penyelenggaraan ke – VI dan dibuka untuk skala internasional. 

“Dengan adanya kompetisi, pameran, juga membuka forum dialog dan workshop grafis, ini merupakan sebuah upaya untuk menjadikan seni grafis lebih meradiasi ke masyarakat. Mungkin hal yang perlu dikelola lebih jauh adalah bagaimana menjadikan seni grafis lebih diminati oleh kolektor,“ ujar Suklu.

Terlepas dari hal-hal teknis atau pembahasan soal konvesi seni grafis, Suklu lebih menyoroti perihal bagaimana medium dan teknik dalam karya seni dapat menjadi konsep penciptaan. 

“Konseptor atau seniman, bertemu dengan medium dan teknik, berelaborasi menghasilkan sebuah karya seni. Ada karya yang memiliki konsep yang bagus, namun secara medium dan teknik tidak bagus atau secara formalisme kurang. Akan tetapi ada pula karya yang luar biasa, tapi secara konsep kurang kuat. Maka diperlukan sinergi antara ketiga unsur itu untuk menghasilkan karya yang masterpiece,” terang Suklu.

Selaras konteks penciptaan dan kompetisi dalam seni grafis, Made Susanta menegaskan bahwa peluang anak muda, khususnya di Bali, sangat terbuka lebar. Terbukti,  sejumlah mahasiswa atau penekun seni grafis di Undiksha berhasil lolos pada penyelenggaraan Triennial Seni Grafis Bentara Budaya ke – III dan ke-IV. Mereka antara lain Kadek Septa Adi, Artana dan Sukertayasa. 

“Asal para pegrafis muda ini mampu menampilkan sebuah karya yang serius dan utuh secara konsep, kemudian diterjemahkan dalam  medium dan sudut pandang yang menarik,” tuturnya. 

Adapun Kompetisi Triennial Seni Grafis diselenggarakan oleh Bentara Budaya sejak 2003. Kompetisi ini digagas sebagai upaya menggalakkan seni grafis konvensional di Indonesia. Bentara Budaya berharap kompetisi pameran grafis ini pada waktu mendatang dapat menjadi salah satu parameter perkembangan dan kualitas seni grafis Indonesia.

Pada penyelenggaraannya yang ke V tahun 2015 lalu, Kompetisi Triennial Seni Grafis Bentara Budaya untuk pertama kalinya dibuka untuk skala internasional, diikuti 197 peserta dengan total 354 karya. Para peserta berasal dari Indonesia,  Amerika Latin, Argentina, Australia, Belgia, Brazil, Bulgaria, Canada, Cina, Italia, India, Jepang, Jerman, Kroasia, Kolombia, Malaysia, Mesir, Peru, Polandia, Serbia, Spanyol, Swedia, Thailand dan Turki. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa seni grafis masih diminati oleh pegrafis dalam maupun luar negeri.

Sebagai Pemenang Pertama adalah: Jayanta Naskar (Pemenang I – India) dengan karya bertajuk “Reinvention of Myself” (teknik colour etching dan intaglio), Puritip Suriyapatarapun (Pemenang II – Thailand) dengan karya bertajuk “Our Whole Life Searching” (teknik lithografi), Muhlis Lugis (Pemenang III – Indonesia) dengan karya berjudul “Addiction” (teknik cukil kayu).

Timbang Pandang ini sekaligus juga bagian dari menyongsong penyelenggaraan Triennial Seni Grafis Indonesia VI – 2018 yang digelar Bentara Budaya, Kompetisi ini terbuka bagi para pegrafis dari Indonesia maupun mancanegara, amatir maupun profesional. Karya seni grafis asli dan belum pernah dipamerkan dan/atau mengikuti acara sejenis/serupa, dibuat tahun 2017 – 2018, serta dibuat dengan memenuhi kriteria teknik grafis seperti cetak datar, cetak dalam, cetak tinggi dan cetak saring. Karya tidak akan diterima dengan teknik monoprint, monotype, handcoloring, stensil, digital, collagraph, proof dan artist proof. Batas waktu penerimaan karya adalah 10 Desember 2018. Untuk informasi dan ketentuan selengkapnya dapat dilihat di: www.bentarabudaya.com. (PR)

 
Back to Home