Loading...
INDONESIA
Penulis: Sotyati 12:27 WIB | Rabu, 05 Februari 2014

Menag: Kerukunan Beragama Sudah Sejak 600 Tahun Lalu

Menag Suryadharma Ali di Kelenteng Sam Po Kong, Semarang. (Foto: kemenag.go.id)

SEMARANG, SATUHARAPAN.COM - Kerukunan antarumat beragama di Indonesia sudah ada dan terbangun sejak lebih dari 600 tahun yang lalu, kata Menteri Agama Suryadharma Ali saat berkunjung ke Kelenteng Sam Po Kong, Semarang, Senin (3/2).

“Inilah yang sebetulnya ingin digali, bahwa budaya rukun itu ternyata sudah terbangun ratusan tahun lalu,” ia menambahkan, seperti dikutip kemenag.go.id.

Budaya rukun bahkan berkembang di berbagai pelosok daerah. Hal itu ditandai dengan adanya istilah-istilah khusus yang mencerminkan berkembangnya budaya kerukunan.

“Di Maluku ada Pela Gandong. Di Papua, Satu Tungku Tiga Batu. Di Sulawesi Tengah,  Losarara Losabatutu, lalu di Sulawesi Utara ada istilah Kitorang Basudara. Itu adalah budaya-budaya kerukunan yang luar biasa dan muncul sejak dulu,” Menag mencontohkan.

“Bahkan, kalau kita tarik lagi ke belakang, Panglima Cheng Ho sejak 600 tahun yang lalu sudah membawa semangat kerukunan antarumat beragama,” kata Menag.

Setelah sebelumnya mengunjungi Kelenteng Tay Kak Sie, Menag berkunjung ke Klenteng Sam Po Kong untuk membangun kerukunan antarumat beragama, selain mendapatkan informasi mengenai sejarah perjalanan Laksamana Zheng He atau Cheng Ho dari Negeri China sampai Indonesia. Diinformasikan  saat itu Cheng Ho datang  besarta pasukannya, yang dalam bahasa China disebut cimongan, dari sana kemudian masyarakat Jawa menyebutnya “semarang”.

Waktu itu, seperti dikisahkan Menag, masyarakat Semarang umumnya beragama Hindu dan Buddha. Namun demikian, kedatangan Cheng Ho tanpa diwarnai konflik sama sekali. “Tidak ada pertumpahan darah. Jadi banyak pelajaran yang bisa kita dapat dari kedatangan Cheng Ho,” ucap Menag.

“Cheng Ho tidak hanya dihormati masyarakat muslim, tetapi juga  Tionghoa, umat Buddha, Tao, dan juga Konghuchu,” ia menambahkan.

Kepada pengunjung, Menag  berpesan agar kunjungan mereka ke Kelenteng Sam Po Kong bukan untuk mensakralkannya, apalagi meminta-minta sesuatu, namun  juga untuk mempelajari sejarahnya. Dengan demikian, masyarakat bisa lebih mengerti sejarah Islam di Indonesia. Selain itu juga dapat mengerti hubungan antara bangsa Indonesia dengan bangsa Tiongkok.

“Ternyata kita mempunyai jalinan hubungan yang sudah sangat lama,” tutupnya. (kemenag.go.id)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home