Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 11:20 WIB | Jumat, 14 Februari 2020

Nibung, Pohon Multiguna Maskot Provinsi Riau

Nibung (Oncosperma tigillarium). (Foto: seedsofborneo.com)

SATUHARAPAN.COM – Pohon nibung (Oncosperma tigillarium), mengutip dari Wikipedia, adalah tanaman sejenis palma yang tumbuh di Asia Tenggara dan di beberapa wilayah di Indonesia.

Sama dengan palma lainnya, batangnya  tidak atau jarang bercabang, dapat mencapai 25 m. Batang dan daunnya terlindungi duri keras panjang berwarna hitam.

Nibung dapat dimanfaatkan mulai dari batang, buah, hingga daunnya. Batangnya dapat digunakan untuk bahan bangunan (lantai, pipa saluran air, dan sebagainya), dan tongkat.

Salah satu temuan arkeolog menyebutkan batang nibung telah digunakan sebagai bahan bangunan di lahan gambut oleh masyarakat Jambi sejak abad kesebelas. N Rangkuti (2008), dalam artikelnya, “Sepucuk Nipah Serumpun Nibung”, dalam kompas.com pada 25 Juli 2011, menyebutkan arkeolog juga menemukan batang-batang pohon nibung di antara sebaran artefak.

Nibung adalah tumbuhan identitas Provinsi Riau, dan sudah lama menyatu dengan kehidupan masyarakat Riau. Hal ini  terbukti dengan adanya beberapa tempat, yakni Tanjung Nibung, Teluk Nibung, yang mengabadikan nama tumbuhan tersebut. Selain itu keterkaitan ini tampak pula dalam pantun ataupun ungkapan tradisionalnya.

Mengutip tulisan berjudul “Pohon Nibung Simbol Persaudaraan Orang Riau”, dalam alamendah.org, 27 September 2014, disebutkan nibung (Oncosperma tigillarium) ditetapkan sebagai flora khas identitas Provinsi Riau.

Morfologi Nibung

Mengutip uir.ac.id, tumbuhan ini dapat memunculkan anakan yang rapat, membentuk kumpulan hingga 50 batang.

Tipe perakarannya berbentuk akar serabut. Batang dan daunnya terlindungi duri keras panjang berwarna hitam.

Daun nibung tersusun menyirip (pinnatus), dengan tipe daun majemuk dan pertulangan daun sejajar. Buahnya berbentuk bulat, berbiji satu, dan permukaannya halus berwarna ungu gelap.

Tinggi tanaman 9-25 meter, memiliki diameter batang 38-40 cm. Warna daun muda hijau muda kekuningan, warna daun tua hijau tua.

Jumlah anakan per rumpun 12 – 25, warna pelepah daun hijau kecokelatan, warna pucuk hijau kekuningan,  warna bunga kuning, tipe bunga bunga majemuk.

Joko Ridho Witono dalam bukunya, Keanekaragaman Palem (Palmae) di Gunung Lumut Kalimantan Tengah (2004, Penerbit Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/LIPI, Bogor), menyebutkan Indonesia memiliki sedikitnya dua jenis Oncosperma yang tumbuh pada habitat berbeda, yaitu Oncosperma horridum dan Oncosperma tigillarium.

Oncosperma horridum tumbuh di dataran tinggi yang menempati tebing-tebing, sedangkan Oncosperma tigillarium tumbuh di tepi sungai pada zona hutan mangrove belakang mendekati daratan.

Tumbuhan nibung mempunyai karakteristik batang yang khas yang memiliki tekstur yang kuat, kokoh, dan tahan rayap.

Batangnya banyak dimanfaatkan masyarakat di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Di antaranya untuk alat tangkap ikan nelayan, pembuatan jembatan, rumah, kapal, serta pembuatan dermaga.

Pucuk muda tumbuhan nibung juga dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan dan sayuran.

Nibung memiliki nama inonim Oncosperma filamentosum. Nama umum dalam bahasa Indonesia adalah nibung yang berarti duri, untuk duri panjang yang muncul sepanjang batang pohon palem.

Di beberapa bagian Filipina, tumbuhan ini dikenal sebagai anibung dalam bahasa Hiligaynon. Dalam bahasa Inggris, disebut nibong. Selain itu, tumbuhan ini memiliki beberapa nama lokal, seperti nibung (Batak), libung (Aceh), alibuk (Mentawai), hoya (Nias), hanibung (Lampung), kandibong (Sampit), erang, handiwung, liwung (Sunda), gendiwung (Jawa).

Kayu nibung sangat tahan lapuk sehingga dipakai untuk penyangga rumah-rumah di tepi sungai di Sumatera dan Kalimantan. Temuan arkeologi di daerah Jambi menunjukkan sisa-sisa penyangga rumah dari kayu ini di atas tanah gambut dari perkampungan abad ke-11 hingga ke-13. Kayunya juga dipakai untuk jala ikan (di Kalimantan).

Pemanfaatan dan Konservasi Nibung

Nibung tumbuh secara alami dan berumpun seperti bambu, merupakan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).

Nibung, mengutip dari unsri.ac.id, tumbuh alami tersebar di wilayah Indocina, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Nibung tersebar secara alami di pantai timur Sumatera, mulai dari Sungai Sembilang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Muara Sabak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, juga Jambi mulai Sungai Indragiri hingga ke pesisir Pantai Bengkalis, Provinsi Riau.

H Siahaan dan AH Lukman dalam studi “Ekologi dan Sebaran Nibung (Oncosperma tigillarium (Jack) Ridl) di Sumatera” (2010, Prosiding Workshop Sintesa Hasil Penelitian Hutan Tanaman, Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor), memperkirakan nibung masih terdapat di hilir-hilir sungai yang bermuara ke Pantai Timur Sumatera. 

Sebaran nibung di Sumatera Selatan khususnya di Kabupaten Banyuasin, hampir semuanya telah mengalami eksploitasi, bahkan overeksploitasi yang menyisakan tunggak, tegakan rusak, serta tegakan yang masih muda. Hal ini mengakibatkan terjadinya kerusakan habitat yang cukup serius di daerah itu.

Pemanfaatan tidak disertai dengan kegiatan pembudidayaan membuat keberadaan nibung di alam semakin berkurang setiap tahun. Nibung merupakan komoditi utama bagi masyarakat di Wilayah Sungsang, Tanjung Lago, dan daerah lain di sepanjang aliran Sungai Musi.

Menurut Sahwalita dan AB Hidayat, dalam studi “Alternatif Budidaya Nibung (Jade) Ridl.) di Areal Hutan Tanaman Rakyat” (2010, Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan Tahun 2009, Penerbit Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor), di Sumatera Selatan tumbuhan nibung tersebar di daerah ekoton, salah satunya di Taman Nasional Sembilang dan sekitarnya.

Pohon nibung telah lama dimanfaatkan terutama oleh nelayan. Hampir semua bagian nibung dapat dimanfaatkan mulai dari batang, buah, hingga daunnya.

Batang nibung digunakan sebagai bahan bangunan dan daunnya digunakan untuk membuat atap rumah dan anyaman keranjang. Bunga pohon nibung digunakan untuk mengharumkan beras, sedangkan umbut dan kuncup bunga dapat dibuat sayur.

Buah nibung dapat dipakai sebagai teman makan sirih pengganti pinang, dan durinya yang disebut “pating” dapat dipakai sebagai paku bangunan sesaji dalam upacara adat.

Karel Heyne dalam bukunya, Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid I (1987, Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan, Jakarta), menyebutkan selain batang, rebusan akar nibung dapat digunakan sebagai obat penurun panas .

Di Wilayah Sungsang dan Tanjung Lago, nibung merupakan komoditi utama bagi masyarakat. Mereka memanfaatkan nibung untuk keperluan perikanan seperti renovasi bagan, kilung, dan sarip. Di daerah pasang surut, nibung diperjualbelikan sebagai bahan bangunan dan tiang rumah.

Saat ini ketersediaan nibung di alam cenderung berkurang akibat aktivitas pemanfaatannya dalam jumlah besar tanpa kegiatan pembudidayaan. Di beberapa hulu sungai di wilayah Taman Nasional Sembilang, tegakan nibung di alam bahkan terlihat sisa-sisa tunggaknya saja. Dengan semakin berkurangnya nibung di alam dikhawatirkan eksploitasi nibung mulai memasuki kawasan hutan.

A Nurlia dan kawan-kawan, dalam penelitian berjudul “Pola Pemanfaatan dan Pemasaran Nibung di Sekitar Kawasan Taman Nasional Sembilang Provinsi Sumatera Selatan” (2013, Penerbit Balai Penelitian Kehutanan, Palembang), mengatakan masyarakat memanfaatkan pohon nibung untuk renovasi bagan, kilung, dan sarip, dengan kebutuhan mencapai 16.325 batang/tahun. Sumber nibung hanya diperoleh dari hutan alam. Budidaya belum dapat dilakukan karena terkendala ketersediaan lahan dan pengetahuan, atau belum adanya kemauan untuk menanam.

Nibung di hilir Sungai Sembilang diperkirakan dipanen 1.500 batang setiap tahunnya, sehingga disarankan perlu ada kebijakan pemerintah dalam bidang konservasi yang ikut melibatkan masyarakat, untuk melakukan pembudidayaan nibung. Di samping itu perlu ada penelitian lebih lanjut untuk menemukan substitusi nibung agar tidak terjadi overeksploitasi dan alih profesi masyarakat nelayan.

 

Editor : Sotyati

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home