Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 16:59 WIB | Senin, 29 Januari 2018

Omah Petroek Gelar Dua Acara Seni

Omah Petroek Gelar Dua Acara Seni
Pameran "Nyongsong, Nyingsing, Nyungsung" di nDalem Driyarkaran, Omah Petroek yang berada di Dusun Karangkletak Hargobinangun Pakem Sleman berlangsung hingga 20 Februari 2018. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Omah Petroek Gelar Dua Acara Seni
"Kuda Kesayangan" karya Ekwan Marianto.
Omah Petroek Gelar Dua Acara Seni
Pianis Bagus Mazasupa saat tampil pada Musikono # 6 di pendapa Omah Petroek, Minggu (28/1) malam.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Minggu (28/1) malam Omah Petroek yang berada di Dusun Karangkletak Hargobinangun Pakem Sleman menghelat dua acara seni dalam waktu yang berurutan: pameran seni rupa bertajuk "Nyongsong, Nyingsing, Nyungsung" oleh kelompok Kridaro dan workshop Musikono #6 oleh musisi Bagus Mazasupa.

Pameran seni rupa dibuka oleh pemilik Omah Petroek budayawan Sindhunata di nDalem Driyarkaran. Sembilan seniman-perupa memamerkan karya dalam berbagai medium dan dimensi.

"Pameran ini ("Nyongsong, Nyingsing, Nyungsung") menjadi energi dan semangat baru menyongsong tahun ini. Dengan menyingsingkan (lengan-baju), harapannya muncul kebaruan dalam seni dan perikehidupan yang lebih baik, yang pada akhirnya adalah menjaga nilai kemanusiaan itu sendiri." kata Joseph Wiyono kepada satuharapan.com saat membantu persiapan pameran drawing Hotland Tobing di Bentara Budaya Yogyakarta, Senin (22/1) malam.

Perupa Lukman memamerkan karya lukis dalam ukuran kecil (20 cm x 20 cm) sebanyak dua puluh karya. Dalam dimensi yang tidak terlalu besar, karya Lukman hampir separuh diborong saat pembukaan.

"Lumayan, bisa untuk beli beras." celoteh canda Lukman dengan satuharapan.com di sela-sela acara pembukaan. Lukman menjelaskan bahwa hingga saat ini telah membuat sekitar 500-an karya lukisan dimensi kecil.

Di luar karya Lukman yang menarik lewat tarikan garis abstrak dan beberapa dengan permainan komposisi warna yang kuat, dimensi karya yang tidak terlalu besar berimplikasi pada harga dan keperluan display karya tersebut pada ruangan pembeli nantinya. Bagi kolektor dan pecinta karya seni yang sudah lama mengoleksi karya, kebutuhan space untuk memajang karya tentu bukanlah hal sulit begitupun dengan budget.

Namun tidak demikian bagi pembeli-penikmat karya yang terbilang baru, budget serta kesesuaian dimensi karya tentu menjadi pertimbangan tersendiri disamping apresiasi dan ketertarikan pada sebuah karya. Membeli karya seni tentu untuk dipajang dalam ruangannya yang bisa jadi terbatas. Pada titik-titik inilah, karya seni dalam dimensi kecil memiliki ceruk pasar yang cukup menjanjikan, meskipun tidak serta merta karya seni dalam ukuran kecil pun menjadi terjangkau harganya bagi masyarakat luas karena nilai seni sebuah karya tidak hanya ditentukan dari dimensinya.

Ekwan Marianto mencoba hal baru dengan membuat karya tiga dimensi berjudul "Kuda Kesayangan". Menarik ketika Ekwan mencoba mentransformasi permainan warna dan garis naif karya dua dimensinya ke dalam karya tiga dimensi. Dalam berbagai sudut pandang, "Kuda Kesayangan" justru bisa menjadi eksplorasi pengunjung untuk melihat karya Ekwan dalam berbagai pilihan angle. Sebuah tawaran baru dari Ekwan untuk menikmati karyanya secara utuh tanpa dibatasi bingkai. Dari sudut yang berbeda bisa memunculkan imajinasi yang berbeda pula.

Pameran yang melibatkan perupa Ahmad Alwi, Bambang HR, Bayu AB, Beni Rismanto, Ekwan Marianto. Ifat Futuh, Meuz Prast, Lukman, serta Joseph Wiyono akan berlangsung sampai 20 Februari 2018.

Musikono #6 : music withouth borders

Di pendapa Omah Petroek, musisi Bagus Mazasupa menggelar program workshop Musikono #6 dalam bentuk pementasan yang melibatkan beberapa musisi diantaranya Iwank Sambo, Nuansa string quartets, Christine Fransisca, serta dua vokalis anak-anak Rembulan dan Nurani.

Musikono adalah sebuah pertunjukan musik keliling (concert tour) yang digagas oleh pianis Bagus Mazasupa dengan diselingi workshop tentang pengetahuan musik di sela-sela konser. Dalam penyelenggaraan sebelumnya, Musikono # 4 dihelat pada tanggal 13 januari 2018, bertempat di Limasan Amarta Dusun Watugedug, Guwosari Pajangan, Bantul Yogyakarta, dan Musikono # 5 tanggal 14 Januari 2018, bertempat di Panggung Puncak Becici, Hutan Pinus Becici Dlingo, Bantul, Yogyakarta.

Mengawali penampilan secara solo piano, Bagus mengundang Christine Fransica membawakan lagu The Lord's Prayer. Sebelum membawakan lagu, Bagus memberikan ilustrasi tentang bagaimana musik menjadi penjembatan serta memiliki bahasa yang tidak berbatas (music without border). Dalam obrolan yang ringan Bagus memberikan gambaran bagaimana musik mampu mengisi ruang-ruang kosong hubungan antar sesama manusia.

"Lagu The Lord's Prayer ini merupakan lagu gereja/kristiani. (Sebagai musisi) tentunya saya bisa memainkan banyak chord lagu kristiani. Saat perayaan natal teman-teman musisi yang beragama nasrani pada mudik. Saya muslim dan biasanya pada saat-saat itu teman-teman musisi nasrani tentu ingin lebih khusyu' menjalani perayaan natalnya. Ya sudah... saya yang memainkan piano mengiringi mereka." jelas Bagus.

Lebih lanjut Bagus melihat inilah sebentuk fungsi seni yang tidak mengenal batas demarkasi secara teknis maupun ranah kehidupan yang lain.

"Bayangkan jika musik (dan juga seni yang lain) memiliki batas, jangan-jangan nanti ada instansi yang mengurusi keimigrasian musik. Saya yang biasa memainkan lagu ballad dan tiba ingin main musik jazz harus mengurus ijin di keimigrasian. Ini belum hal-hal teknis lainnya." kelakar Bagus di tengah pertunjukan Musikono # 6.

Ilustrasi tersebut diberikan Bagus saat menjelaskan tentang sejarah piano, jenis, beda piano dengan instrumen organ/kibor elektrik, bagaimana instrumen piano bekerja yang kurang lebih mirip dengan gamelan bekerja, yang secara keseluruhan disampaikan dalam bahasa yang ringan, sederhana, dan lebih banyak mengajak penonton merasakan langsung dalam suasana yang santai.

Secara keseluruhan Bagus memainkan sepuluh repertoar dalam berbagai genre musik diantaranya Dad's Room (David Benoit), An Actor's Life (Dave Grusin). Pada repertoar Deras Angin karya Sutan Harahap yang kental dengan genre jazz, dengan permainan solo piano lagu tersebut diaransemen Bagus dalam nuansa ballad. Bagaimanapun, warna musik ballad kental dalam permainan solo piano Bagus meskipun dia sempat berguru pada pianis beraliran jazz Josias T Adriaan . Di Sirkus Barock Bagus Mazasupa adalah satu-satunya pianis dan itu sedikit bayak memberikan warna dalam bermusiknya.

Menyajikan pertunjukan musik keliling dalam format edukasi bersama tanpa berjarak dengan penonton yang duduk di atas tikar, Bagus Mazasupa tidak sedang menggurui namun menyampaikan pesan bahwa tanpa batas musik menjadi lebih melembutkan.

 

 

Editor : Melki Pangaribuan

Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home