Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 11:03 WIB | Sabtu, 23 Februari 2019

Pameran Perupa Muda "Good Day"

Pameran Perupa Muda "Good Day"
Karya tiga matra berjudul Follow (I Kadek Didin Junaedi) dalam pameran seni rupa "Good Day" di Tembi Rumah Budaya, 21 Februari – 8 Maret 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pameran Perupa Muda "Good Day"
Dua karya I Made Dabi Arsana berjudul Hide and Seek #1 (kiri) dan Tranguility (kanan).
Pameran Perupa Muda "Good Day"
Menikmati Tawa – medium campuran di atas kanvas – 65 cm x 70 cm – Dewa Gede Suyudana Sudewa

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Tiga seniman-perupa muda mempresentasikan karya di Tembi Rumah Budaya. Pameran bertajuk “Good Day” dibuka Kamis (21/2) malam.

Tiga lukisan tunggal dan satu lukisan seri Dewa Gede Suyudana Sudewa mengeksplorasi wajah, empat lukisan I Made Dabi Arsana dengan objek kucing sebagai pengembaraan realis-surealisnya, serta tiga karya tiga matra karya I Kadek Didin Junaedi dalam olah warna eye catching dipamerkan hingga 8 Maret 2019.

Ekspresi manusia melalui rupa wajah adalah ekspresi yang relatif natural. Ekspresi rupa wajah adalah reflektif bagi pemiliknya. Kesedihan, kemarahan, riang-gembira, duka, yang menyelimuti seseorang secara spontan akan terekam dalam rupa wajahnya. Dalam banyak hal, wajah menjadi eksplorasi yang kerap dilakukan seniman-perupa dalam karyanya dengan berbagai teknik, medium, maupun gaya. Membaca wajah manusia adalah menangkap ekspresi sekaligus merekam realitas yang hadir dalam keseharian manusia.

Setidaknya hal tersebut terekam dalam dua karya Suyudana berjudul Tertunduk, dan Menikmati Tawa. Sementara pada karya seri tiga lukisan berjudul Left Side seolah Suyudana sedang menawarkan dua hal yang tersembunyi pada satu wajah.

Realis-surealis terekam dalam empat karya Dabi dengan objek utama binatang kucing. Tanpa makhluk lain, karya Dabi menjadi paradoks realitas kesunyian atas perilaku kucing yang justru selalu berada di sekitar kehidupan manusia: keramaian. Dua karya berjudul Seek and Hide #1-2 Dabi menghadirkan kesunyian dan misteri dalam balutan warna yang soft-pastel. Bahkan dalam karya berjudul Tranguility, kesan misterius masih terekam pada kucing kecil berbulu putih dengan bola mata hitam.

Mencuri fokus, itulah yang terekam dalam karya Didin Junaedi. Karya tiga matra Didin menjadi daya ganggu di antara dua gaya lukisan. Warna cerah dan bentuk serta dimensi yang cukup besar menjadi pembeda di antara karya lukisan dalam citraan soft-pastel dan gelap. Meski begitu, karya Didin tidak hanya sekadar menjadi pembeda. Ada tawaran menarik dalam tema yang kuat dari ketiga karyanya: Kekang, Kendali, dan, Follow. Dalam perkembangan dunia yang terhubung dan tidak berjarak, tiga karya Didin menjadi gambaran realitas hari ini.

Sebelum internet menjadi pengalaman sehari-hari, lanskap yang terjadi untuk menyematkan nilai-nilai simbolis pada sebuah karya atau pada diri perupanya, merupakan jalan panjang. Berpameran di galeri seni, misalnya, adalah salah satu pintu yang harus dijelajahi untuk menambah modal sosial.

Realitas kehadiran dunia berjejaring (online-internet) dalam seni rupa menjadi penting. Setidaknya dengan kehadiran dunia tanpa batas dalam jejaring internet setiap seniman bisa memiliki virtual art gallery yang bisa diakses oleh masyarakat dunia di belahan dunia manapun. Saat ini banyak seniman muda dari Yogykarta yang menawarkan ide-karya segarnya melalui internet, entah sebatas sebagai ruang ekspresi, presentasi-apresiasi, ataupun masuk dalam pasar.

Pameran seni rupa "Good Day" berlangsung yang dibuka oleh pengajar seni rupa ISI Surakarta Theresia Agustina Sitompul Kamis (21/2) malam berlangsung di TeMBI Rumah Budaya Jl Jalan Parangtritis Km 8.4 Bantul hingga 8 Maret 2019.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home