Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 21:09 WIB | Sabtu, 20 Juli 2019

Pameran Presentasi Karya “Series of Mini Exhibition”

Pameran Presentasi Karya “Series of Mini Exhibition”
Karya-karya Oscar Artunes dalam pameran “Series of Mini Exhibition” bagian pertama di Artspace @Helutrans, komplek Jogja National Museum Jl. Prof. Ki Amri Yahya no. 1. Gampingan Yogyakarta. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pameran Presentasi Karya “Series of Mini Exhibition”
Original – variabel dimensi – cat glazur di atas Bayat Earthenware – Buntari studio – 2019.
Pameran Presentasi Karya “Series of Mini Exhibition”
Pengunjung sedang mengamati karya Ngakan Putu Agus Arta Wijaya berjudul “Oversize” (kiri) dan “Balance and Harmony” (kanan).

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Selama dua minggu lima seniman-perupa dan satu studio seni mempresentasikan karya terbaru di Artspace @Helutrans, Kompleks Jogja National Museum. Pameran bertajuk “Series of Mini Exhibition” bagian pertama dibuka pada Senin (15/7) malam.

Rismilliana Wijayanti dari Incopro yang menginisiasi pameran tersebut menjelaskan bahwa gagasan untuk pameran kecil berangkai adalah untuk showcasing karya terbaru seniman yang diundang berpameran.

“Beberapa seniman menghadirkan olahannya atas ide-ide baru, beberapa yang lain menggunakan media yang diakrabi untuk menampilkan ide baru. Ini jadi menarik karena gagasan dan ide ini akan diuji ketika disejajarkan dengan kerja-kerja seni seniman lainnya di dalam satu wadah ruang pamer yang sama, ataupun ketika diadu dengan banyak pameran di rentang waktu yang sama,” tutur Rismilliana dalam keterangan tertulis yang diterima satuharapan.com, Minggu (14/7).

Pameran “Series of Mini Exhibition” terbagi dalam tiga putaran. Pada putaran pertama yang berlangsung 15-30 Juli 2019 menghadirkan seniman musik Oscar Artunes, perupa muda Ngakan Putu Agus Arta Wijaya (NPAAW), seniman foto-videografi Arif Hanung TS, perupa muda Rizal Hasan, ilustrator buku Saiful Bachri, serta studio keramik Buntari.

Arif Hanung TS dalam goresan abstraknya mencoba membangunkan ingatan kerinduan pada tempat masa kecilnya dalam realitas hari ini: Majenang, Cilacap. Dengan latar belakang seniman foto-video Hanung mengalihmediakan ingatan masa kecilnya ke dalam goresan abstrak di kanvas.

Citraan bentang alam pegunungan dalam 20 karya lukisannya berona pucat adalah gambaran refleksi Hanung pada alam masa kecilnya yang coba direka ulang pada hari ini. Kenangan, konflik, dan juga mimpi dielaborasi dalam beberapa karya series-nya berjudul My Problem My Adventure, Pieces of Peacefullness, juga karya tunggal lainnya Facing Up, Sideway, The Mover. Beberapa waktu lalu Hanung memamerkan karya lukisan monochrome hitam-putih dengan mengambil inspirasi karya film berjudul Into The Wild.

Melalui riset literatur, ilustrator buku Saiful Bachri membuat drawing series dengan objek sembilan jenis lebah madu yakni Apis cerana, Apis nuluensis, Apis dorsata, Apis laboriosa, Apis koschevnikovi, Apis nigrocincta, Apis mellifera, Apis andreniformis, Apis florea. Kesembilan jenis lebah tesebut dibuat dalam objek tunggal dengan proporsi sebenarnya. Sementara pada karya drawing Flying in Peace series, Saiful menambahkan objek manusia dalam ukuran mini di atas burung serak jawa (Tyto alba) yang sedang terbang.

Dalam dua tahun terakhir bersama Buntari studio, seniman keramik Sidik Purnomo mengeksplorasi material gerabah Bayat dengan eksperimen temperatur pada batas maksimalnya. Melalui eksperimen yang tidak henti Buntari menghasilkan keramik-keramik unik dari material earthenware (tanah liat sedimen) dari Pager Jurang, Bayat-Klaten yang selama ini hanya sampai 'batas' untuk pembuatan gerabah (pottery).

“Pada karya berjudul Original, material gerabah tersebut saya bakar hingga temperatur 1.150-1.200 0C. (Hasilnya) tidak sampai meleleh. Justru muncul warna baru cat glazur yang lebih gelap,” jelas Sidik kepada satuharapan.com saat pembukaan pameran, Senin (15/7) malam.

Setidaknya ada tiga aspek eksperimen yang dilakukan Sidik menyangkut temperatur dalam tungku bakar di atas kebutuhan gerabah, pelapisan permukaan dengan menggunakan cat glazur, serta penggunaan teknik tradisional dengan alat putar miring.

"Dengan menaikkan temperatur pembakaran (sampai melewati batas tertinggi) saya berharap hasilnya bisa mendekati keramik serta bisa mengaplikasikan pelapisan permukaan dengan menggunakan cat glazur." jelas Sidik tentang eksperimennya.

Dalam dua karyanya berjudul Past and Recent stories dan Memories left, seniman-perupa muda Rizal Hasan menawarkan metafora beragam objek atas kenangan yang dialaminya dalam kolase series drawing dalam medium cat akrilik-tinta di atas kertas yang dibakar dan di-mix di atas kanvas.

Perupa muda Ngakan Putu Agus Arta Wijaya (NPAAW) mencoba medium baru dalam karya dua matranya. Dengan ciri khas drawing-painting tradisional maupun surealis di atas kanvas yang kebanyakan mengambil objek binatang, pada medium baru kertas NPAAW mencoba menggabungkan drawing-painting dengan cutting paper art dan embose untuk membuka kemungkinan ruang baru atas keterbatasan medium karyanya.

“Tantangannya adalah keterbatasan medium kertas untuk ukuran besar. Sementara ini untuk eksperimen menggunakan kertas ukuran A0 (70 cm x 90 cm). Ada (kertas) yang roll-rollan, tapi harus pesan dulu. Selain cutting paper, saya coba juga pada kanvas,” jelas NPAAW kepada satuharapan.com.

Pada karya berjudul Nekara, NPAAW membuat lukisan abstrak dalam medium cat akrilik dan cat semprot di atas kanvas. Di bagian tengahnya NPAAW membuat lubang berbentuk segitiga. Obyek surealis-ganjil menjadi metafora NPAAW dalam membaca realitas. Karya berjudul GOAT dengan makhluk ganjil kambing gunung berkepala dua dan berkaki enam. NPAAW mengartikan GOAT sebagai greatest of all time. Karya berjudul Oversize dengan drawing gadis Bali yang sedang menyunggi rangkaian janur dalam teknik cutting-paper menjadi ilustrasi cerita pendek di Harian Kompas, Minggu (30/6).

Tidak kalah menarik karya yang dipresentasikan oleh violinist Oscar ‘tunes’ Artunes. Dalam dua puluh lima karya berbagai ukuran dan medium Tunes membuatnya sebagian besar secara on the spots.

“Membuat sketsa, drawing, maupun lukisan saya lebih bebas. Tidak dibatasi aturan-aturan yang ketat dan detail seperti saat bermain musik yang harus memperhatikan tempo, ritme, terlebih saat bermain secara kelompok atau orkestra,” jelas Oscar Artunes kepada satuharapan.com saat pembukaan pameran.

Beberapa waktu lalu Tunes sempat berpameran tunggal mempresentasikan karya on the spots-nya di Pitutur Kopi serta SEPEDA-nya (SEbuah PEsan DAmai) di Kebun Roti.

Meski diakui karyanya lebih banyak dihasilkan secara on the spots dengan pola yang acak dan dibuat secara bebas, justru Tunes lebih banyak berbicara tentang realitas dalam karya dua matranya yang memperhatikan hal-hal detail. Pada karya berjudul Breaking News, Journey, Life Movement, Sinergy 1-3, Tuladha, Bertemu Sahabat, menjadi gambaran kepeduliannya pada hidupan liar yang terancam oleh aktivitas manusia seperti beragam jenis burung, paus biru, gajah.

Tidak semua karya Tunes berbicara tentang realitas. Pada karya Waiting who playing, Variation theme, Responsibilities, Relung-relung, Practice time, Nuswantara, Menyelami diri, Tunes sedang memperbincangkan tentang suasana. Sementara pada karya berjudul Nala Gareng Tunes mencoba membaca metafora menertawakan diri sendiri: tahu diri “hanya” menjadi Punakawan yang hanya menjalani titah nasib yang telah ditakdirkan. Pada karya Nala Gareng Tunes justru sedang bicara tentang detail dalam karyanya.

Pameran “Series of Mini Exhibition” bagian pertama akan berlangsung hingga 30 Juli 2019 di Artspace @Helutrans, kompleks Jogja National Museum Jl Prof Ki Amri Yahya no 1 Gampingan Yogyakarta.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home