Google+
Loading...
HAM
Penulis: Dewasasri M Wardani 11:58 WIB | Rabu, 24 April 2019

PBB Adakan Pemungutan Suara Terkait Isu Kekerasan Perempuan

Nadia Murad Basee Taha (kanan) mendengarkan Amal Clooney, pengacara HAM Internasional, berbicara dalam sidang Dewan Keamanan PBB mengenai kekerasan seksual yang digelar di markas PBB, pada Selasa, (23/4) . (Foto: Voaindonesia.com)

NEW YORK,SATUHARAPAN.COM – Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengadakan debat terbuka mengenai dampak kekerasan seksual dalam konflik.

Pengacara HAM dan aktivis Amal Clooney, serta pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Nadia Murad dan Denis Mukwege Mukengere, termasuk di antara pembicara tamu di PBB, New York pada Selasa (23/4).

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengatakan kepada DK, bahwa "kekerasan seksual sengaja digunakan sebagai taktik perang untuk meneror orang, menjelek-jelekkan komunitas, dan membuat masyarakat tidak stabil sehingga mereka sulit pulih selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun".

Ia juga mencatat pentingnya organisasi dipimpin perempuan. Pemungutan suara mengenai rancangan resolusi itu dilakukan pada Selasa (23/4), meskipun ada tentangan dari anggota tetap dewan, Rusia dan AS. Sembilan puluh negara anggota diperkirakan akan berpartisipasi.

Sementara itu pada bulan lalu, aktris dan aktivis Angelina Jolie mengingatkan bahwa dunia “akan tetap terjebak pada siklus kekerasan dan konflik” selama tidak mengedepankan isu kesetaraan bagi perempuan.

Dalam pertemuan tingkat menteri tentang upaya PBB memelihara perdamaian dunia hari Jum’at (29/3), Angelina Jolie – yang juga dikenal sebagai Utusan Khusus UNHCR – mengatakan ada begitu banyak contoh di seluruh dunia tentang perempuan yang berhasil dan memberi inspirasi, “tetapi mayoritas perempuan dan anak perempuan masih menjadi korban perang.”

Ditambahkannya, jika mereka yang terkena dampak masalah itu dapat memberikan solusi, “maka mayoritas perunding, menteri luar negeri dan diplomat dunia adalah perempuan.”

Angelina Jolie menggarisbawahi bahwa hubungan kekuasaan yang tidak sama telah membuat banyak perempuan di dunia berada dalam posisi subordinat. (Voaindonesia.com)

 

Editor : Melki Pangaribuan

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home