Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 08:51 WIB | Rabu, 12 Juli 2017

Pementasan Wayang Legenda Momotaro di Studio Kalahan

Pementasan Wayang Legenda Momotaro di Studio Kalahan
Karakter tokoh utama Momotaro yang digunakan dalam pementasan wayang legenda dengan lakon "Momotaro" di Studio Kalahan. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pementasan Wayang Legenda Momotaro di Studio Kalahan
Oei Hong Djien memberikan sambutan penutupan pameran tunggal perupa Heri Dono bertajuk "The Secret Code of Heri Dono" , Jumat (7/7) malam.
Pementasan Wayang Legenda Momotaro di Studio Kalahan
Penonton dan dalang dipisahkan oleh layar.
Pementasan Wayang Legenda Momotaro di Studio Kalahan
Momotaro dan kursi pijat dalam penerangan blencong OHP.
Pementasan Wayang Legenda Momotaro di Studio Kalahan
Momotaro menyerahkan kursi pijat kepada raja raksasa.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Setelah berlangsung selama sebulan, pameran tunggal perupa Heri Dono bertajuk "The Secret Code of Heri Dono" ditutup pada Jumat (7/7) malam oleh kolektor seni rupa Oei Hong Djien di Studio Kalahan yang berada di Dusun Patukan, Ambarketawang Kec. Gamping - Sleman.

Dalam sambutannya, OHD sapaan Oei Hong Djien menjelaskan peran penting Studio Kalahan milik Heri Dono yang meskipun masih relatif baru diaktivasi namun telah memberikan ruang bagi seniman lintas disiplin ilmu membuat pementasan maupun pameran karyanya.

"Dengan adanya Studio Kalahan ini, Yogyakarta menambah aset yang luar biasa. Karena di sini lahir hal-hal baru, yang sangat tidak konvensional. Dan ini saya kira sangat penting untuk reputasi Yogyakarta sebagai pembaharu kehidupan. Majunya Yogyakarta sejak berkembangnya seni kontemporer tidak bisa dilepaskan dari kiprah Heri Dono." kata OHD.

Dalam acara penutupan digelar pertunjukan wayang legenda dengan mengambil kisah cerita rakyat Jepang "Momotaro". Heri Dono bertindak sebagai dalang dengan iringan musik kolaborasi antara musisi Joseph Praba dan Mujar Sangkerta. Dalam pementasan-pementasan wayang legenda biasanya Heri Dono membawakan cerita rakyat Batak "Tukkot Tunggal Panaluan". Pementasan wayang Momotaro menggunakan koleksi wayang kertas karya Heri Dono yang sudah pernah dipentaskan di luar negeri. Pementasan wayang legenda "Momotaro" di Studio Kalahan adalah pementasan yang kedua, dimana sebelumnya dipentaskan berbarengan dengan pameran Heri Dono di Singapura.

"Koleksi wayang legenda Heri Dono dari yang pertama dibuat pertengahan tahun 1980-an masih terawat. Jumlahnya sekitar 60-an koleksi. Beberapa ada yang rusak/hilang saat digunakan perform di luar negeri." kata pengelola Studio Kalahan Agni Saraswati kepada satuharapan.com saat berlangsung Workshop Wayang Selasa (4/7) sore. Agni menjelaskan bahwa koleksi wayang Heri Dono seluruhnya berbahan kertas strawboard (masyarakat awam menyebutnya kertas serobot). Agar tetap awet dan kaku, sebelum pewarnaan Heri Dono melapisinya dengan sejenis resin. Pada awal berkaryanya, Heri Dono sempat membuat beberapa wayang dari bahan kulit.

Menyaksikan pertunjukan wayang legenda "Momotaro" seolah penonton disuguhi sebuah dekonstruksi pementasan wayang dalam banyak hal mulai dari karakter yang digunakan, bahan wayang, peralatan, hingga iringan musik yang digunakan.

Heri Dono memanfaatkan OHP (overhead proyector) menggantikan blencong (lampu sorot). Bagi generasi saat ini mungkin sudah jarang yang mengetahui fungsi OHP sebagai salah satu alat presentasi yang saat ini sudah banyak digantikan dengan LCD projector.

Penggunaan bahan kertas strawboard pada wayang menggantikan kulit seolah menjadi 'kenakalan' Heri Dono. Dengan bahan kertas, memberikan keleluasaan bagi masyarakat banyak untuk bisa menciptakan karakter wayang sesuai keinginannya dengan pengerjaan yang sederhana, cepat, dan bahan yang bisa didapatkan dengan mudah. Penggunaan kertas seolah juga menjadi penjembatan ingatan bahwa ada bahan wayang lain selain kulit yang pernah ada: kertas dan karton. Tertib Suratmo adalah salah satu pembuat karakter tokoh wayang kertas dalam pakem aslinya Ramayana dan Mahabharata.

Tidak seperti pada pertunjukan wayang kulit saat ini, penonton menyaksikan pementasan wayang legenda dengan lakon "Momotaro" dari balik layar (kelir) yang disoroti lampu blencong dari arah panggung pementasan.

Ketika dalam pementasan wayang kulit maupun wayang wong/orang dimana musik pengiring memiliki alur dan aturan tertentu, musik pengiring wayang Momotaro garapan Jopsep Praba dan Mujar Sangkerta lebih banyak improvisasi mengikuti alur cerita dengan memanfaatkan perkusi gamelan sederhana: kenong, bonang, kendhang, dan saron. Pemain perkusi gamelan hanya diberikan alur besar dan diberikan kebebasan melakukan improvisasi mengiringi jalannya pementasan wayang Momotaro. Sepintas terdengar crowded, namun jika dibarengi menyaksikan pementasan wayang secara langsung dengan banyaknya improvisasi yang dilakukan Heri Dono sepanjang pertunjukan mulai dari sentilan tentang perkembangan seni rupa, interaksi langsung dengan penonton, maupun teriakan-teriakan yang datang dari arah penonton, pertunjukan wayang "Momotaro" menyajikan sebuah pertunjukan yang sangat jazzy. Semua terlibat tanpa ada salah satu mendominasinya.

Adanya improvisasi yang menghibur dari para pemain dan interaksi penonton menjadikan pertunjukan yang rencanya berdurasi sekitar 30 menit akhirnya berlangsung hampir 60 menit.

Semua Senang, Semua Menang.

Momotaro adalah cerita rakyat Jepang yang mengisahkan anak laki-laki kuat bernama Momotarō yang berperang untuk membasmi raksasa. Diberi nama Momotaro karena dia dilahirkan dari dalam buah persik (momo), sedangkan "Taro" adalah nama yang umum bagi laki-laki di Jepang.

Heri Dono membagi pertunjukan dalam lima scenes pementasan, diawali dengan pasangan kakek-nenek di sebuah desa yang menemukan buah persik (momo) yang hanyut di sungai. Saat dibelah untuk dimakan, ternyata buah persik tersebut berisi bayi. Bayi laki-laki tersebut akhirnya dirawat kakek-nenek tersebut dan diberi nama Momotaro. Di desa itu Momotaro dengan bimbingan kakek-nenek belajar banyak hal.

Dikisahkan di sebuah kerajaan Takasi Murah, putri raja disandera oleh raksasa. Hasil bumi di seluruh kerajaan diambil oleh raksasa. Mendengar berita itu, berbekal ilmu beladiri dan ilmu perang yang dipelajarinya Momotaro mendatangi raksasa di pulau kerajaannya.

Di tengah perjalanan menuju pulau raksasa, Momotaro secara berturut-turut bertemu dengan anjing, monyet, dan burung pegar. Setelah menerima kue mochi dari Momotaro, anjing, monyet, dan burung pegar akhirnya menjadi sahabat dan pengikutnya.

Dalam perjalanan menuju kerajaan raksasa, adegan-adegan lucu dan satire dipertunjukan Heri Dono lewat interaksi yang dilakukan hewan teman-teman Momotaro.

Di kerajaan raksasa, putri raja Takasi Murah dijadikan tukang pijat dengan cara menginjak-injak badan raksasa saat kelelahan memotong pohon-kayu untuk bahan bangunan yang akan dikirim ke kota.

Saat bertemu dan melawan raja raksasa, Momotaro memenangi peperangan tersebut. Meski memenangi peperangan, Momotaro tetap menawarkan solusi konflik bersama. Momotaro membuatkan kursi pijat untuk para raksasa dan sebagai imbalannya, raksasa melepaskan putri Takasi Murah untuk kembali ke kerajaan.

Saat kursi pijat selesai dibuat dan berfungsi sebagaimana mestinya putri Takasi Murah diantar ke istana kerajaan Takasi Murah dan diserahkan kembali kepada orangtuanya. Momotaro pun kembali ke desa menemui kakek-nenek

Menarik ketika cerita wayang legenda Momotaro dipentaskan di Studio Kalahan, tidak ada yang satupun yang merasa dikalahkan. Semua senang. Semua menang.

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home