Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Adri Lazuardi 17:28 WIB | Selasa, 25 September 2018

Pemimpin = Pelayan

Adri Lazuardi.
SATUHARAPAN.COM - Setiap waktu ada orangnya, dan setiap orang ada waktunya. Pepatah bijak ini sering kali dipakai ketika suatu peralihan jabatan atau tugas terjadi dalam organisasi.
 
Artinya, kita menyadari suatu pergantian kepemimpinan dalam organisasi itu adalah hal yang biasa, bisa jadi suatu rutinitas dan manusiawi. Seharusnya di sana ada kerelaan ketika ada orang lain yang menggantikan dan tentunya juga suatu harapan baru agar organisasi yang ditinggalkan akan lebih baik lagi. Memang perlu suatu jiwa besar untuk sampai pada pemahaman yang benar terhadap kata bijak di atas.
 
Kita akan merasa jengah dan malah tertawa getir ketika ada pemimpin yang masih terus merasa  jadi 'pemimpin' dan berusaha menunjukkan otoritas rasa 'kepemimpinannya', walaupun sebenarnya ia telah 'lengser keprabon'. Perasaan menjadi pemimpin telah menjadikan ia lupa bahwa masanya telah berakhir, telah berlalu, dan sekarang adalah era baru. Ketidakmampuan dirinya menyadari masa yang telah lewat itu, justru akhirnya membuat dirinya kehilangan jati diri sebagai seorang pemimpin, yang pada hakikatnya adalah pelayan (masyarakat). Kalau saja ia lebih mampu menguasai diri dan waktunya, kehadirannya tetap akan menjadi pemimpin walaupun ia sudah tidak lagi memimpin, karena orang justru akan melihatnya sebagai orang bijak yang bijaksana dalam kata, tindakan, dan perbuatan. Itu akan lebih dahsyat ketimbang masih merasa sebagai 'pemimpin'.
 
Di dunia nyata ada banyak contoh jelas, negarawan yang telah pensiun tetapi tetap punya aura dan makna sebagai 'pemimpin' walaupun tidak berkuasa secara juridis. Mantan Presiden AS Bill Clinton salah satunya. Melalui yayasannya, Clinton aktif membantu kegiatan sosial termasuk pascabencana gempa bumi dan tsunami di Aceh. Contoh lain, tokoh terkenal Afrika Selatan Nelson Mandela, setelah pensiun mendirikan yayasan yang berfokus pada pemberantasan HIV/AIDS, pembangunan desa, dan pembangunan sekolah. 
Mereka tetap dianggap 'pemimpin', bukan karena kekuasaannya tapi karena kualitas karakternya. 
 
Indonesia rindu punya banyak 'pemimpin' - yang bukan diakui kepemimpinannya karena kekuasaan yang dibatasi waktu - tapi pemimpin yang berkualitas sebagai pemimpin karena karakternya, itu kepemimpinan yang tak lekang oleh waktu. Selalu berguna, selalu berdampak, dan selalu di hati rakyatnya. 
 
Cibubur 23 September 2018 
16.58

 

Editor : Sotyati

 

Back to Home