Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 09:22 WIB | Sabtu, 02 Maret 2019

Pemuliaan Yesus di Atas Gunung

Kisah Yesus dimuliakan di atas gunung memperlihatkan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus bukanlah kemustahilan.
Pemuliaan Yesus di atas gunung (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (Luk 9:35). Demikianlah suara dari langit yang dicatat Lukas berkaitan kisah pemuliaan Yesus di atas gunung. Kalimat itu sungguh penting. Yang pertama pernyataan dan yang kedua perintah.

”Inilah Anak-Ku yang Kupilih.” Dipilih untuk apa? Sesungguhnya itulah yang dipercakapkan antara Musa, Elia, dan Yesus, yaitu: kematian Yesus yang tidak lama lagi akan dijalani-Nya di Yerusalem.

Kemungkinan besar para murid tak paham dengan jalan yang akan ditempuh guru mereka. Bagaimana mungkin Yesus mati dibunuh? Bukankah Dia yang telah membangkitkan orang mati? Setan-setan saja takut kepada-Nya? Mungkinkan Dia mati? Jawabnya: tentu tidak mungkin. Yang mungkin ialah Yesus menyerahkan diri-Nya untuk dibunuh. Kalaupun Yesus dibunuh, pada hari ketiga Dia bangkit. Bagaimana mungkin itu terjadi?

Kisah Yesus dimuliakan di atas gunung memperlihatkan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus bukanlah kemustahilan. Kisah pemuliaan Yesus di atas gunung merupakan bukti nyata—Yesus adalah Anak Allah. Kisah pemuliaan itu seharusnya mendorong para murid untuk tetap percaya dalam keadaan apa pun juga.

Yang kedua, perintah: Dengarkanlah Dia! Sebenarnya ini merupakan implikasi logis dari pernyataan tadi. Jika Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, maka menjalankan perintah-Nya merupakan hal yang wajar. Yang enggak wajar ialah ketika manusia lebih suka mendengarkan suaranya sendiri.

Lagi pula, Paulus berkata: ”Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2Kor 3:18).

Ketika kita semua berada dalam persekutuan dengan Tuhan, maka kita akan diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. Pada titik ini, hidup mulia itu merupakan keniscayaan. Sebab Tuhan sendirilah yang tinggal dalam diri kita.

Oleh karena itu, Paulus berkata: ”Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati” (2Kor 4:1). Paulus tidak tawar hati karena dia menyadari bahwa pekerjaannya merupakan karunia dari Allah. Dalam BIMK tertera: ”Kami melakukan pekerjaan ini karena kemurahan hati Allah. Itu sebabnya kami tidak putus asa.” Tidak putus asa bahkan ketika orang meragukan pekerjaannya.

Kedua, Paulus menyatakan kebenaran dan bersikap transparan. Paulus siap untuk dinilai publik. Bersikap transparan berarti bersikap apa adanya dan tidak ada yang disembunyikan. Dan itulah prinsip setiap murid Kristus yang hidup dalam kemuliaan Kristus!

 

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home