Google+
Loading...
EKONOMI
Penulis: Reporter Satuharapan 18:28 WIB | Minggu, 05 Mei 2019

Pengunjung Membludak, Banyuwangi Perpanjang Agro Expo Tamansuruh

Salah satu sudut Agro Expo di Desa Tamansuruh, Glagah, Banyuwangi, yang berhasil menyedot perhatian pencinta pariwisata. (Foto: IDN Times Jatim/Beautiful Banyuwangi)

BANYUWANGI, SATUHARAPAN.COM – Agro Expo yang digelar Pemkab Banyuwangi sejak 25 April, resminya sudah berakhir 4 Mei. Itu pun perpanjangan waktu, karena seharusnya berakhir Rabu (1/5). Namun, karena antusiasme yang luar biasa dari masyarakat, pengunjung yang datang mencapai 9.000 orang per hari, membuat pelaksanaan Agro Expo diperpanjang.

Selama bulan Ramadan ini, Agro Expo dibuka tiap akhir pekan, Jumat, Sabtu, dan Minggu.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, mengaku tidak menyangka minat masyarakat untuk berkunjung ke Agro Expo sangat besar. Padahal lokasinya cukup jauh apabila dibandingkan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya.

“Awalnya kami mengira tidak akan banyak orang yang datang, karena lokasinya yang jauh. Tapi ternyata lokasi di dataran tinggi membuat pemandangannya lebih bagus, sehingga menarik banyak kunjungan wisatawan,” kata Anas, Kamis (2/5), seperti dilansir situs banyuwangikab.go.id.

Tahun ini wisata edukasi Agro Expo dilangsungkan di Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, yang berada dataran tinggi 500 m dpl. Berada di kaki Gunung Ijen, lahan Agro Expo ini mencapai 10,6 hektare. Tahun-tahun sebelumnya Agro Expo digelar di areal persawahan di pusat kota.

Dari lokasi di Desa Tamansuruh itu, pengunjung disuguhi pemandangan Gunung Ijen dan Selat Bali dari ketinggian, menambah keindahan kawasan Agro Expo yang menampilkan ratusan jenis tanaman pertanian yang ditata cantik.

Dengan daya tarik tersebut, lanjut Anas, Pemkab Banyuwangi tengah mengkaji untuk melanjutkan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata pertanian dan alam dengan konsep Nomadic Tourism.

Konsep Baru

Nomadic tourism merupakan konsep baru yang dikenalkan Kementerian Pariwisata pada tahun 2018, yakni menyediakan fasilitas di kawasan destinasi wisata yang sulit terjangkau dengan konsep kontemporer, baik di segi amenitas maupun akses.

“Kami akan konsep menjadi nomadic tourism. Bisa jadi turis sewa tempat semacam camping ground semalam yang murah. Apalagi lokasinya yang berada di jalur Gunung Ijen. Misalnya wisatawan yang mau ke ijen, bisa menginap di tempat itu dengan tarif Rp 50. 000, kemudian naik ke Ijen. Tinggal nanti ditambah fasilitas-fasilitas pendukung yang unik,” Anas menjelaskan.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan, mengaku tidak menyangka Agro Expo ramai peminat.  “Ini di luar ekspektasi kami. Sebelumnya kami prediksi sekitar 6.000-7.000 pengunjung seperti di Agro Expo tahun sebelumnya. Ternyata di sini sampai 9.000 pengunjung,” kata Arief.

Agro Expo tahun ini mengangkat tema creative agriculture. Beragam aneka tanaman pertanian unggulan daerah mulai hortikultura, tanaman pangan, perkebunan hingga peternakan dan semua produk olahannya di tampilkan di ajang itu.

Aneka tanaman dan buah eksotis asal Banyuwangi juga turut dipamerkan dalam expo tersebut, mulai dari padi hitam, durian merah, nangka merah, dan semangka merah dan kuning nonbiji.

Juga ada hamparan bunga-bunga cantik warna-warni yang menjadi spot selfie Instagrammable.

“Semua tanaman di lahan agro expo ini ditanam dari bibit hingga tumbuh besar bahkan berbuah sejak tiga bulan terakhir,” kata Arief.

Lahan yang digunakan agro expo tahun ini adalah lahan pertanian yang sudah tidak produktif lagi.

Editor : Sotyati

Back to Home