Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 09:01 WIB | Senin, 24 Juni 2019

"Penyingkapan" Dua Perupa

"Penyingkapan" Dua Perupa
Pameran presentasi karya "Penyingkapan" di MDTL, 22 Juni-6 Juli 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
"Penyingkapan" Dua Perupa
Aru – mixed medium – 8x17x7,5 cm - Dwinanda Agung Kristianto – 2019.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Di manakah kamu pernah melihat kepala lele tanpa badan? Kalimat singkat di antara banyak kalimat lain serta goresan-goresan garis membentuk figur-figur naif, yang dituliskan dengan menggunakan pena dan spidol marker pada dua panel karya rontek (round tag) berbahan kanvas, terpajang di dinding Museum dan Tanah Liat (MDTL).

Karya berjudul Selamat Datang di Lapas Bumi Wali yang dibuat seniman-perupa Imam Sucahyo dipresentasikan bersama karya dua-tiga matra dan menjadi pameran berdua dengan Dwinanda Agung Kristianto, berbagi ruang MDTL.

Pameran bertajuk “Penyingkapan” dibuka oleh pengajar seni rupa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya Hari Prajitno, Sabtu (22/6) malam. Dalam sambutannya Hari Prajitno menjelaskan tentang upaya penyingkapan yang dilakukan oleh kedua seniman-perupa.

“Tuhan tidak akan membuat sesuatu yang gagal konsep atau gagal bentuk. Secara umum manusia membagi pengetahuan (secara dikotomis), atas-bawah, laki-laki-perempuan, putih-hitam, pintar-tidak pintar. Dan kecenderungan manusia memilih (yang menarik secara visual), putih, atas, pintar, begitu seterusnya. Lantas bagaimana yang tidak pintar (misalnya)?. Penyingkapan ini mencoba mewadahi yang bawah, tidak pintar, tidak menarik secara fisik (bukan menghadapkan realitas tersebut, namun) dalam rangka memperhatikan yang terbengkelai, yang hilang, yang disepelekan, karena apa yang diciptakan Tuhan itu tidak ada yang sia-sia sehingga bisa memunculkan kesadaran (pada manusia),” kata Hari Prajitno dalam sambutan pembukaan pameran.

Eksplorasi pada lingkungan sekitar menjadi upaya pembacaan kedua seniman-perupa dalam menyingkap proses kekaryaannya. Kardus bekas, potongan-potongan kain, karet gelang, kertas straw board, aluminum foil pembungkus obat, potongan kawat, sumbu kompor, serta barang-barang tidak terpakai yang ada di sekitarnya, digunakan Dwinanda Agung Kristianto sebagai material karyanya.

Dalam karakteristik medium-material tersebut, Agung tidak sedang mengejar artistik kebentukan, namun lebih menawarkan pembacaan realitas yang ada di sekitar. Dari medium-material itulah lahir karya-karya kecil Dwinanda Agung yang secara visual-kebentukan bisa jadi remeh dan tidak menarik  bagi orang kebanyakan.

Dwinanda Agung mencoba menyingkap mahal-mewahnya kertas dari sifatnya yang secara alami mudah rusak, mudah cacat. Menjadi berbeda ketika diperlakukan secara khusus yang bisa jadi berkebalikan dari kodrat sifat kertas itu sendiri. Dalam karyanya, Dwinanda Agung mencoba menyampaikan pesan bahwa realitas kadang luput dari pembacaan kodrat diri manusia itu sendiri.

Berbeda dengan Dwinanda Agung, eksplorasi Imam Sucahyo justru sebaliknya dalam merespons medium-material untuk menangkap ide dan menuangkannya ke dalam karya. Material yang ada di sekitarnya menjadi medium pembebasan penerjemahan karyanya.

Pilihan drawing yang kerap menghasilkan citraan yang impresif dalam material-medium apa pun menjadi penyingkapan Imam dalam karya dua-tiga matra.

Kamu Jangan Tawuran misalnya yang dibuat Imam dengan menggunakan pena dan pensil warna di atas kertas bekas dengan mudah akan ditangkap pesan-pesan yang disampaikan, terlebih ketika Imam menggunakan figur-figur naif serta kalimat sederhana yang mudah dipahami bahkan oleh anak kecil sekalipun.

Begitupun pada karya Imam yang lain berjudul Buyut, Maharani, Kalau Kamu Orang Lain, Happy Birthday to Myself, dalam pesan berbagai arah: orang lain maupun diri sendiri. Penyingkapan menjadi menarik ketika justru menjadi refleksi atas diri sendiri.

Eksplorasi Imam tidak terhenti pada ide, namun berlanjut pada eksperimen alih media karya dua matranya menjadi karya tiga matra dalam material terracota. Figur-figur naif dan ganjil dalam karya dua matranya diubah Imam menjadi karya tunggal patung berbahan tanah liat. Karya tiga matra berjudul Makhluk, Hewan, Dandang Gula (naik mobil-mobilan), ataupun Ini Susu Saya menjadi wilayah bermain-main Imam dalam menyingkap kesederhanaan, ide, kebentukan, bahkan pesan yang ingin disampaikan tanpa dipusingkan adanya realitas berbagai dikotomi dan kecenderungannya.

Pameran presentasi karya dua seniman-perupa Dwinanda Agung Kristianto dan Imam Sucahyo bertajuk "Penyingkapan" akan berlangsung hingga tanggal 6 Juli 2019 di Museum Dan Tanah Liat, Kersan Rt. 5, Tirtonirmolo, Kasihan-Bantul,  Yogyakarta.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home