Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 06:55 WIB | Kamis, 13 Agustus 2020

Perokok Tiga Kali Lebih Berisiko Terinfeksi COVID-19

Rokok. (Foto ilustrasi: Ist.)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM-Perokok memiliki potensi terjangkit COVID-19 dua sampai tiga kali lebih tinggi daripada yang bukan perokok. Hal ini terjadi karena jumlah reseptor ACE 2 atau tempat duduknya SARS-Cov-2 di saluran pernapasan para perokok lebih banyak daripada yang bukan perokok.

Ketua Umum Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FAPSR, FISR mengatakan hari Rabu (12/8) di Jakarta. Penyebab selanjutnya adalah asap rokok yang dihasilkan oleh perokok dapat menurunkan imunitas tubuh, terutama pada imunitas saluran pernapasan. Padahal sistem imunitas penting sekali dan berperan menghambat terjadinya infeksi virus dan bakteri.

Bahan-bahan yang ada di dalam asap rokok itu terbukti mengganggu proses migrasi berbagai sel-sel imunitas tubuh saat melawan infeksi, dan itu sudah ada risetnya di beberapa jurnal sebelumnya. Ketika seorang merokok terjadi penurunan migrasi sel-sel imunitas dan fungsinya juga menurun.

“Akibatnya ketika terinfeksi akan terjadi kondisi yang lebih luas dan cenderung menjadi lebih berat termasuk pada COVID-19,” kata Agus dalam dialog di Media Center Satuan Tugas Penanganan COVID-19.

Komorbiditas dan Kebiasaan

Penyebab lain adalah menyangkut komordibitas. Orang-orang yang memiliki penyakit komorbid seperti jantung, hipertensi, dan diabetes diketahui berpotensi lebih besar untuk terjangkit COVID-19. Merokok dapat meningkatkan potensi komorbid yang lebih banyak sehingga potensi tertular atau terinfeksi COVID-19 lebih besar.

“Penyakit-penyakit komorbid ini lebih banyak ditemukan pada seorang perokok, akibatnya tentu ketika seorang perokok memiliki komorbid akhirnya menimbulkan risiko terjangkit COVID-19,” kata Agus. 

Kebiasaan para perokok dalam memegang rokok secara berulang-ulang juga menyebabkan transmisi virus ke dalam tubuh jauh lebih meningkat karena adanya inhalasi dari tangan ke saluran pernapasan.

Agus memaparkan bahwa mortalitas yang dimiliki oleh seorang perokok menempati persentasi yang cukup tinggi, sekitar 25 persen dibandingkan mortalitas umum sebesar lima persen.

Sementara itu, Ketua Forum Jogja Sehat Tanpa Tembakau (JSTT) Prof. Dra. RA. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D. juga mengatakan perlunya edukasi untuk menciptakan kesadaran masyarakat akan bahaya merokok di tengah pandemi COVID-19.

“Pemberian edukasi, informasi, dan komunikasi di berbagai media harus ditingkatkan dalam rangka memacu kesadaran masyarakat atas dampak merokok dan penyebabnya bahayanya dari sisi penyebaran COVID-19,” kata Yayi. 

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home