Loading...
EKONOMI
Penulis: Melki Pangaribuan 19:20 WIB | Jumat, 25 November 2016

Produk Ikan Indonesia Bukukan Rp 131,7 Miliar di Taiwan

Ilustrasi. Pekerja menjemur ikan pari yang diasinkan di Pesisir laut Lasolo, Kanawe Utara, Sulawesi Tenggara, hari Kamis (24/11). Ikan asin pari tersebut selanjutnya dijual disejumlah pasar tradisional di Kendari dengan harga berkisar Rp15 ribu per kilogramnya. (ANTARA FOTO/Jojon)

KAOHSIUNG, SATUHARAPAN.COM – Produk perikanan dan seafood Indonesia semakin diburu pasar global pada saat pameran Taiwan International Fisheries & Seafood Show (TIFSS) 2016 yang berlangsung di Kaohsiung, Taiwan, pada 9-11 November 2016.

Menurut Kementerian Perdagangan (Kemendag), produk perikanan Indonesia berhasil membukukan estimasi kontak dagang senilai  US$ 9,78 juta atau setara Rp 131,7 miliar.

“Permintaan produk perikanan itu tidak hanya datang dari Taiwan, tapi juga Jepang, Australia, India, Malaysia, Singapura, RRT, Kanada, Honduras, dan Filipina,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Arlinda dalam keterangan tertulis di Jakarta hari Kamis (24/11).

Menurut Arlinda, konsumen mencari pemasok baru produk perikanan untuk menjaga keberlanjutan pasokan ikan di negaranya, yang berkurang akibat perubahan iklim dan perbedaan musim panen. Selain itu, Kemendag juga mendorong konsumen membeli produk perikanan langsung dari Indonesia tanpa melalui negara perantara.

“Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi praktek illegal fishing dan mengurangi pencurian ikan. Salah satunya dengan mendorong konsumen yang sebelumnya mendapatkan ikan melalui negara perantara, untuk mulai mendapatkan suplai ikan langsung dari Indonesia,” lanjut Arlinda.

Sejumlah produk yang diminati banyak negara antara lain bandeng, cumi, tenggiri, rajungan, layur, ribbon fish, king fish, lobster, cuttlefish, ikan marlin, ikan wahoo, ikan tuna, gurita, fish seedings, pasteurized crab meat, udang, dan hasil laut olahan.

Paviliun Indonesia yang dibangun atas kerja sama Ditjen PEN dengan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taiwan memiliki luas 72 meter persegi. Aneka produk perikanan dan hasil laut yang dipasok dari delapan perusahaan produk perikanan dan hasil laut ditampilkan di tempat itu.

Kedelapan perusahaan tersebut adalah PT Nusantara Alam Bahari, CV Bintang Mandiri Waskito, PT Samudra Kencana Mina, PT Natural Nutrisi Global, Cahaya Bahari Jakarta, PT Pasific Harvest, PT Sekar Laut, dan PT Sukses Jaya Makmur.

TIFSS 2016 merupakan pameran produk perikanan dan peralatan perikanan berskala internasional yang diikuti 328 peserta lokal dan mancanegara yang menempati 410 stan. Peserta mancanegara berasal dari Korea, Jepang, Vietnam, Indonesia, Malaysia, Peru, Brasil, Amerika Serikat (AS), India, Thailand, Israel, Bahrain, dan Inggris.

Pameran tersebut berhasil menarik lebih dari 8.500 pengunjung dari dalam dan luar negeri.

Dalam lima tahun terakhir, ekspor produk perikanan ke Taiwan tumbuh sebesar 8,76 persen dengan nilai ekspor sebesar US$ 62,33 juta pada 2015. Ekspor produk perikanan ke Taiwan didominasi oleh sotong dan cumi beku, kering atau diasinkan; dan ikan beku.

Produk lain yang diekspor ke Taiwan di antaranya ikan segar, fillet ikan, dan makarel beku.

Buah dan Sayur Indonesia

Di tempat yang sama, Indonesia juga berpartisipasi pada Taiwan International Fruits & Vegetables Show (TFVS) 2016 pada 10-12 November 2016. Animo konsumen cukup positif jika dilihat dari capaian kontak dagang sebesar US$ 1,01 juta atau setara Rp 13,6 miliar.

“Produk yang diminati antara lain buah kaleng, bekicot dalam kaleng, dan sayur mayur berupa kubis, sawi, wortel, jahe, dan kacang hijau. Minat yang tinggi hendaknya diimbangi dengan teknologi penanganan, penyimpanan, serta pengolahan buah dan sayur yang tepat agar dapat memenuhi standar yang diinginkan oleh konsumen dan pasar dunia,” kata Kepala KDEI Taiwan Robert J. Bintaryo.

Promosi tersebut bertujuan memperluas jaringan pemasaran produk buah dan sayuran Indonesia.

KDEI Taipei bekerja sama dengan Ditjen PEN memfasilitasi dua eksportir Indonesia, yaitu PT Inni Pioneer Food Industry dan PT Goexindo Universal Sentosa.

Dalam TFVS 2016, Paviliun Indonesia menampilkan berbagai jenis buah kaleng, buah kering, dan bekicot kaleng serta sayur-sayuran seperti kubis, wortel, jahe, kopi robusta, sawi putih, dan kentang.

TFVS 2016 mengusung tema "Innovative Chain Industry”. Pameran ini dikunjungi sekitar 5.000 konsumen, baik lokal maupun dari seluruh dunia. Sebanyak 183 ekshibitor dari 13 negara, antara lain Indonesia, AS, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Tiongkok Daratan, Thailand, Australia, Korea Selatan, dan Vietnam yang menempati 260 stan dalam area seluas 5.058 meter persegi.

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home