Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Martin Lukito Sinaga 00:00 WIB | Rabu, 04 Januari 2017

Providentia Dei

SATUHARAPAN.COM - Dalam perenungan diri Jacob Oetama kala ia berusia 85 tahun, yang tertera dalam buku Kompas Way (2016), dicatatkannya bahwa seolah-olah penyelenggaraan ilahi bertemu dengan segala kepekaan dan upaya kerja bersama rekan wartawan Kompas, dan lalu hal itu membuahkan hasil menggembirakan. Malah, dalam perjalanan naik-turun harian tersebut, semakin disadarinya bahwa providentia dei (penyelenggaraan Ilahi) yang dengan cara tertentu menetapkan nasib dan masa depan harian nasional itu.

Dengan perenungan HUT 85 Jakob Oetama di atas, kita pun diundangnya berteologi -khususnya di awal tahun 2017 ini-, melakukan pewiwekaan (Ingg.: discernment) iman atas berbagai peristiwa hidup. Hal ini mirip dengan yang dianjurkan oleh kitab Bhagawad Gita, bahwa mengejar kebijaksanaan dengan rendah hati, namun teguh bertanya-tanya akan memberi sepintas petunjuk mendalam tentang hidup. Juga pas dengan usulan Alkitab yaitu surat 1 Yohanes: agar kita menguji roh, sehingga selanjutnya mampu membedakan (discern) mana yang palsu dan mengecoh. Dengan sebentuk wiweka, kita sesungguhnya sedang berupaya menjernihkan apa gerangan peristiwa yang berkelebatan di hadapan kita, dan oleh tilikan iman, kita pun bisa berharap kiranya sebentuk keyakinan dapat kita raih.

Maka kita tentu bertanya, apakah di tahun baru 2017 ini, penyelenggaraan ilahi masih berlangsung dalam hidup kita? Atau sebenarnya kita hanya melewati waktu dan peristiwa dalam ketiadaan fondasi apapun, lalu mengulang secara tak berkesudahan berbagai peristiwa secara menyesakkan, seperti eternal recurrence-nya Nietzsche? Sehingga waktu dan peristiwa hanyalah berisikan permainan kekuatan yang saling berbenturan, seenaknya, dan pihak yang berkuasa akan secara sewenang-wenang memainkan kesukaannya, lagi dan lagi tanpa peduli akan nasib kita?

 

Sudut Pandang Iman

Dalam tradisi agama-agama, selalu ada masa menyiapkan diri sebelum dianggap dewasa dan mandiri, dan persiapan itu antara lain ditandai dengan proses belajar. Belajar memahami apa yang sungguh mendasar dalam iman, yang dengannya kita mendapat penjelasan fundamental tentang peristiwa hidup kita sendiri. Semua orang percaya memulai dirinya selaku katekisan, murid yang sedang magang rohani, agar pengertiannya nanti cukup memadai selaku orang percaya yang dewasa. Dan salah satu yang terpenting ialah mengenai pemeliharaan atau penyelenggaran Ilahi dalam hidup manusia.

Dalam tradisi Katolik dicatat bahwa ciptaan mempunyai kebaikan dan kesempurnaannya sendiri, karena ia ada oleh tangan Pencipta. Namun demikian, ia masih "di tengah jalan" [in statu viae] menuju kesempurnaan terakhir. Pemeliharaan Allah berarti hal yang terjadi yang dengannya Allah menghantar ciptaan-Nya menuju kesempurnaan tersebut.
Lalu kepada kita manusia Allah memberi kemungkinan untuk mengambil bagian secara bebas dalam penyelenggaraan-Nya tersebut, dengan tentunya menyerahkan tanggung jawab kepada kita. Dan kita pun diberikan akal, dan bebas untuk melengkapi karya penciptaan tersebut, selaku teman sekerja Allah.

Dalam pengertian kaum Protestan, ada penekanan pada unsur masa depan dari penyelenggaraan Ilahi ini. Kata kerja Latin dari providentia ialah providere: memandang ke depan, artinya bahwa Allah terlebih dahulu menyediakan sesuatu di depan. Maka ada unsur proses yang akan ditempuh manusia dalam menemukan penyelenggaraan Ilahi tersebut. Tapi kita tidak berhadapan dengan sebentuk fatalisme di sini, bukan pula seolah kita hidup dalam takdir buta yang sudah ditetapkan sebelumnya. Kiasan menjelaskan hal ini tampak dalam pergulatan Abraham yang dalam keyakinannya akan penyelenggaraan Ilahi bertemu dengan perkara tak tertanggungkan, yaitu mengurbankan anaknya sendiri di bukit Moria. Tetapi dalam pergumulan iman dan dalam kepedihannya (mungkin juga terselip keraguan di situ), Allah memberi jawaban atas perjalanan Abraham: Allah menyediakan di depannya seekor domba sebagai korban, bukan anaknya lagi, dalam arti itulah bahwa Allah menyelenggarakan kehidupan yang sesungguhnya bagi Abraham.

Dengan demikian pengakuan manusia atas penyelenggaraan-Nya berarti juga suatu penerimaan atas kedaulatan Tuhan. Maka memang manusia berdiri, dengan bebas dalam segala ikhtiarnya, dan di tengah itulah ia akan menemukan penyelenggaraan-Nya. Dengan itu semua percakapan iman tentang providentia dei di awal 2017 ini berarti suatu upaya menegaskan hal ini: penyelenggaraan-Nya ialah tentang pemeliharaan Allah yang terus berlangsung di dalam ikhtiar bebas kita, dan hal itu terjadi pada kita seperti fajar yang tersingkap, lalu kita pun menemukan siang yang datang menghangatkan, karena kita telah bangun dan bergegas menyambutnya!

 

Struktur Rahmat

Penyelenggaran Ilahi tadi mesti juga kita hayati, dan selanjutnya memperlihatkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Ada model yang keliru dalam hidup beriman untuk menemukan wujudnya, yaitu kalau mengira sukses material yang bersifat akumulatif yang menjadi buktinya. Seolah Allah ialah Pelayan yang bekerja semata untuk menyelenggarakan dan memenuhi harapan manusia akan Health and Wealth. Berbeda dari sikap keliru itu, tampaknya wujud penyelenggaraan ilahi lebih benar kalau dari tangan kita muncul tanda-tanda “kebaikan bersama” (Common Good). 

Begini kurang lebih maksudnya. Ada kenyataan negatif yang bekerja dalam ketidakadilan dan penindasan, yang membuat manusia tidak menjadi sesama bagi tetangganya, dan membuat sekelompok orang terlantar tak terpelihara. Negativitas itu berfokus pada kuasa mamon, sehingga ia juga bekerja memiskinkan orang lain. Maka di sini penyelenggaraan ilahi akan bekerja sambil memihak: artinya, kita perlu berupaya agar hidup bersama bisa bermuatan belas kasih yang adil, dimana penyelenggaraan-Nya akan mewujud dalam sebentuk struktur rahmat. Struktur itu akan nyata adanya dan berfungsi melawan mamon dan negativitas, kalau dalam hidup sehari-hari kita terwujud 3 hal: mekanisme berbagi, penghargaan pada kesetaraan martabat manusia, munculnya aksi-aksi solidaritas membantu sesama yang lemah. Ke dalam ke tiga hal inilah kita perlu bekerja menyambut fajar penyelenggaraan-Nya, dan dengan keyakinan ini pulalah kita menyambut tahun 2017!

 

Penulis adalah Pendeta GKPS, Dosen di STT Jakarta

     

Editor : Trisno S Sutanto

Back to Home