Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Reporter Satuharapan 16:54 WIB | Senin, 05 Agustus 2019

Respons Gereja terhadap Kekerasan di AS

Sekretaris Jenderal Dewan Gereja-gereja Sedunia (WCC), Pdt Dr Olav Fykse Tveit. (Foto: Dok satuharapan.com/oikoumene.org)

JENEWA, SATUHARAPAN.COM – Rentetan peristiwa penembakan di Amerika Serikat memicu ratapan, belasungkawa, dan kecaman dari gereja-gereja Amerika Seikat dan Dewan Gereja-gereja Sedunia (World Council of Churches/WCC).

“Kami berdiri bersama Saudara dan Saudari kita di Amerika Serikat dalam masa-masa kesedihan dan kebingungan ini,” kata Sekretaris Jenderal WCC, Pendeta Dr Olav Fykse Tveit.

“Bersama dengan ungkapan belasungkawa, kami bergabung dengan seruan mendesak gereja dan umat gereja, untuk mencari solusi nyata terhadap kekerasan bersenjata di sana,” ia menambahkan.

Lebih dari 30 orang tewas dalam tiga insiden dalam sepuluh hari terakhir di AS. Dalam pembunuhan terakhir, seorang pria bersenjata di Dayton, Ohio, pada 4 Agustus menembak dan menewaskan sembilan orang dan melukai 26 orang (sumber lain menyebutkan 27 orang, Red) di distrik hiburan pusat kota di sana.

Insiden sebelumnya terjadi di El Paso, Texas. Seorang pemuda berusia 21 tahun melepaskan tembakan ke sebuah toko dan pusat perbelanjaan yang menewaskan 20 orang dan puluhan lainnya cedera. Seminggu sebelumnya, festival musim panas di Gilroy, California, terganggu oleh penembakan yang menewaskan tiga orang dan banyak yang terluka.

“Kami tahu,” kata Tveit, “bahwa masalah senjata di AS berbatasan dengan masalah kekerasan, ras, dan polarisasi politik yang lebih besar. Ini bukan hanya masalah legislatif, tetapi juga gereja memiliki peran kunci dalam pendidikan dan advokasi. ”

Solusi legislatif di AS sering terhambat oleh kelompok lobi, yang mengutip hak-hak yang dijamin oleh amendemen kedua Konstitusi AS.

Jim Winkler, Presiden dan Sekretaris Jenderal Dewan Gereja-gereja Nasional di AS, juga mengomentari penembakan itu, dengan menyatakan, “Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk memiliki senjata serbu, yang diciptakan untuk digunakan dalam perang. Ada dukungan publik yang meluas untuk meminta izin memiliki senjata, untuk pelarangan senjata serbu, dan untuk pemeriksaan latar belakang. Satu-satunya alasan pejabat terpilih menolak untuk mengambil tindakan dalam menghadapi keinginan pemilih adalah karena mereka takut akan kekuatan lobi senjata.”

“Kombinasi senjata pemusnah massal yang tersedia dan ideologi nasionalis rasis putih yang beracun adalah resep untuk bencana. Jika kita tidak bisa menghadapi dua kejahatan itu, kekerasan dan gangguan sosial yang jauh lebih besar menunggu bangsa kita,” ia mengingatkan. (oikoumene.org)

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home