Loading...
BUDAYA
Penulis: Sotyati 17:35 WIB | Jumat, 03 Juni 2016

“Sarung Is The New Denim”

“Sarung Is The New Denim”
Peserta berkreasi dengan sarung di sela-sela acara Muffest 2016 di Plaza Selatan, Senayan, 28 Mei. (Foto: Sotyati)
“Sarung Is The New Denim”
Desainer (kir-kanan) Sofie, Deden Siswanto, Ali Charisma, bergaya dengan sarung. (Foto: Dok Deden Siswanto)

SATUHARAPAN.COM – Sarung selama ini hanya dikenakan di saat-saat khusus, di acara-acara keagamaan, perayaan atau juga upacara adat. Namun, beberapa tahun belakangan ini, sarung mulai diperlakukan sebagai produk mode yang fleksibel, yang mengikuti tren, dan bahkan mengikuti selera global.

Dengan sedikit pengembangan dan modifikasi, tanpa mengubah bentuk dasarnya yang silinder, sarung dapat tampil menjadi alternatif gaya urban kontemporer yang menarik. Dina Midiani, desainer dari Indonesian Fashion Chamber, mempromosikan sarung layak sebagai produk mode di sela-sela berlangsungnya acara Muslim Fashion Festival (Muffest) 2016 yang berlangsung di Plaza Selatan, Senayan, Jakarta Selatan, 25 – 29 Mei lalu.

Di Mini Stage, pada 28 Mei, Dina menjelaskan pentingnya Indonesia harus mempunyai suatu gaya jika hendak membidik impian menjadi pusat mode dunia pada 2025. Sarung, menurutnya, adalah produk yang perlu dipamerkan ke dunia, mengingat sarung dijumpai hampir di seluruh pelosok Nusantara.

Walau sarung bukan asli Indonesia, seperti dikemukakan desainer Ali Charisma dalam acara temu pers menjelang berlangsungnya Muffest 2016, mengingat ada negara lain yang memiliki ciri khas sarung seperti Laos dan Kamboja, Indonesia harus memulai mendorong agar sarung diterima dunia. Salah satu alasan mengapa memilih sarung adalah karena sarung bisa dipakai maskulin dan feminin.

Di Mini Stage itu juga, Dina memperlihatkan beberapa busana berbahan sarung kreasinya. Ia bahkan mempersilakan peserta talkshow yang ingin mencontek kreasinya.

Desainer Dwi Iskandar, yang menemani Dina, memberikan contoh mengenakan sarung dengan memberikan sentuhan  lain untuk tampil lebih gaya. Desainer yang menetap di Bali itu memperlihatkan ikat pinggang khusus kreasinya, yang dapat dipakai di luar lipatan sarung, untuk memberikan kesan lebih gaya.

Dina dan Dwi, kemudian menantang peserta talkshow untuk menampilkan kreativitas mengolah sarung, yang disediakan Sarung Cap Mangga, menjadi busana aneka gaya. Masing-masing kemudian memamerkannya di hadapan khalayak dengan cara seperti model memeragakan busana di panggung peragaan busana.

Pada hari terakhir berlangsungnya Muffest, Dina mengimbau peserta pameran, pengunjung, pelaku produk kreatif, mengenakan busana bergaya sarung. “Kita kampanyekan ‘sarung, my new denim’. Kalau Indonesia mau menjadi pusat mode dunia, kita harus punya suatu gaya,” katanya.

Jika Jepang memiliki kimono yang sangat terkenal di penjuru dunia, atau Tiongkok terkenal dengan pakaian tradisionalnya, cheongsam, bukan mustahil Indonesia juga dapat dikenal melalui sarung.

Dina, dan kawan-kawan dari IFC, tidak pantang menyerah untuk mempromosikan sarung Indonesia.  

Gerakan sosialisasi sarung  secara terbuka dimulai pada November  2012, ditandai dengan ratusan orang menari bersama-sama dengan memakai sarung di Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta, di acara Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2012.

Memopulerkan sarung sebagai item fashion yang dapat diterima dunia sebagai tren, menjadi misi baru Dina dan kawan-kawan.

Ide itu muncul didasari pemikiran bahwa sarung adalah harta lokal yang tidak hanya akrab di negeri ini, namun juga dimiliki negara-negara Asia dan Pasifik. Sarung yang berbentuk silinder sederhana adalah gaya khas berpakaian Timur. Dengan diangkatnya gaya sarung sebagai tren, diharapkan negara lain yang memilikinya akan menyambut ide itu sehingga dunia pun akan menoleh dan mengapresiasinya.

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home