Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 11:34 WIB | Rabu, 06 Maret 2019

“Sumatra 1947”, Sumatera dalam Rona Monochrome

“Sumatra 1947”, Sumatera dalam Rona Monochrome
Pameran foto warna-warni kehidupan "Sumatra 1947" berlangsung 2-10 Maret 2019 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No. 2 Yogyakarta. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
“Sumatra 1947”, Sumatera dalam Rona Monochrome
Repro foto aktivitas perempuan nelayan di pantai Tapanuli bersumber dari buku "Tanah Air Kita" karya N.A. Douwes Dekker.
“Sumatra 1947”, Sumatera dalam Rona Monochrome
Surat/Aksara Batak.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Delapan puluhan foto yang bersumber dari tiga buku Sumatraantjes, Tanah Air Kita, Pusaka-Art of Indonesia/from the Collection of National Museum, dan Gedenkboek van Nederlandsch-Indie, 1898-1928 dan dicetak ulang dalam berbagai ukuran di atas kertas, beberapa koleksi benda seni, dan buku  kuno, dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Pameran dibuka Sabtu (2/3) malam.

Pameran bertajuk “Sumatra 1947” merupakan rekaman foto kehidupan sehari-hari di daratan Pulau Sumatera sebelum masa kemerdekaan dalam lanskap sosial, penanda daerah  (landmark) maupun lanskap alam. Selain dari buku Pusaka-Art of Indonesia/from the Collection of National Museum, keseluruhan foto dalam rona monochrome/hitam-putih, tanpa nama fotografer, dan dipotret sebelum Indonesia merdeka.

Pameran  tersebut merupakan rangkaian pameran Seri Lawasan-Sejarah yang secara berkala dihelat oleh Bentara Budaya Yogyakarta sejak berdiri tahun 1982. Dalam pameran Seri Lawasan ada dua kategori lawasan yang dipamerkan di BBY. Pertama adalah benda-benda yang bertalian dengan tradisi dan budaya seperti  keris, batik, dan topeng, artefak-buku-buku/barang cetakan kuno, dan yang kedua adalah benda-benda rumah tangga yang mempunyai nilai edukasi di zaman dahulu, seperti radio tabung gramaphone, dan alat transportasi masa lalu seperti sepeda onthel dan sebagainya yang dipakai oleh masyarakat Indonesia di zaman dahulu.

Manuskrip

Salah satu repro foto yang bersumber dari buku Pusaka-Art of Indonesia/from the Collection of National Museum, menggambarkan peramu etnis Batak (Sumatera Utara) biasa disebut datu. Datu tidak hanya mengobati penyakit, namun diyakini memiliki kemampuan meramal masa depan. Dalam buku tersebut resep yang dibuat oleh datu lebih menyerupai masukrip yang biasa dituliskan di kulit kayu, bambu, dan tulang atau tanduk kerbau.

Manuskrip tersebut merefleksikan gambaran peradaban suku bangsa Batak yang mengandung nilai tradisional, sastra klasik,4 dan lainnya. Manuskrip merupakan buku atau teks yang berisi tentang hal-hal yang bersifat rahasia, serta umumnya berisi tentang ritual, simbol, mitos, pengobatan (haubatan), pertanggalan hari baik dan hari tidak baik (parhalaan), porsili dan biasa disebut dengan istilah pustaha laklak.

Proses pembuatan pustaha laklak dimulai dari pencarian bahan baku laklak (sebagai media yang ditulisi) terbuat dari kulit kayu alim/gaharu (Aquilaria) atau kulit kayu pohon terep, sejenis pohon sukun (Artocarpus altilis) yang masuk dalam famili/suku Moraceae. Kulit kayu dikupas dari pokoknya sehingga menghasilkan kupasan—kulit dalam yang telah dipisahkan dari kulit luar yang kering—yang dapat mencapai panjang 7 meter dengan lebar sekitar 60 cm. Ukuran ini tergantung pada besar/diameter pohon.

Selanjutnya permukaan kulit kayu yang masih kasar itu dihaluskan menggunakan sebilah pisau. Setelah dihaluskan, maka kulit kayu itu diketam menggunakan parang, dan kemudian digosok dengan jenis daun yang kasar agar permukaan kulit kayu tadi menjadi lebih halus. Laklak yang sudah bersih dan halus dilipat menyerupai akordeon, dan dipukul-pukul dengan palu kayu dan sisi-sisinya dipotong dengan pisau agar menjadi lebih lurus dan rapi. Laklak yang sudah kering siap ditulisi.

Selain simbol-simbol, melalui aksara Batak yang diwujudkan dalam pustaha laklak itu setidaknya telah membuktikan bahwa suku bangsa Batak memiliki akar budaya literasi yang sudah berkembang lama. Tentang aksara Batak, seniman-perupa Hotand Tobing hingga saat ini masih kerap menyisipkan aksara Batak dalam karya-karya drawing-nya.

Bersama repro foto patung Si Baso Nabolon dari buku yang sama disertakan pula Tongkat Batak setinggi 150 cm-an berbahan kayu dengan dua patung di puncak tongkat koleksi dari pengajar Seni Rupa ISI Yogyakarta Edi Sunaryo. Si Baso Nabolon adalah patung yang biasa diletakkan di loteng rumah tradisional sebagai simbol perlindungan terhadap roh-roh jahat serta penghormatan yang tinggi kepada leluhur, sementara patung perempuan sedang memegang payudara menyimbolkan kesuburan.

Dalam konteks ilmu seni rupa Batak dikenal ornamen binatang melata cicak yang disebut dengan gorga boraspati yang selalu berhadapan dengan ornamen empat payudara, yang disebut gorga adop-adopAdop-adop dalam jumlah empat memiliki makna simbol kesucian, kesetiaan, kesejahteraan, dan kesuburan perempuan.

Adaptif terhadap Perubahan

Di Sumatera menetap suku Aceh, Batak, Minang, Palembang, hingga Lampung. Berada di perairan yang mengubungkan berbagai tempat di belahan dunia lain, pergolakan dan pasang-surut peradaban suku-suku di Sumatera selalu dinamis termasuk di dalamnya perebutan kekuasaan antarsuku hingga antarkeluarga kerajaan. Menjadikan laut-perairan sebagai pusat aktivitas membentuk budaya yang lebih terbuka, budaya maritim inilah yang menjadikan mereka sebagai salah satu suku perantau dan relatif lebih terbuka-adaptif terhadap perubahan.

Dalam buku Sumatraantjes: Reise Brieven karya H.G. Zentgraaff en W.A. van Goudoever, terekam pula jejak perkembangan peradaban-pembangunan di wilayah Sumatera dengan foto-foto dokumentasi Kota Palembang yang Kotor, Menara Air Palembang, Penyulingan Minyak, Instalasi Pengeboran Minyak, Sunga Batanghari-Jambi, Potret Figur Suku Kubu, Suasana Upacara Adat di Solok, Pasar di Fort de Kock-Bukittinggi, hingga potret Tuanku Imam Bonjol dan Panglima Polim, termasuk foto-foto perjalanan orang Jawa di Sumatera Selatan.

Sementara pada buku Tanah Air Kita karya N.A. Douwes Dekker terbitan Van Hoeve Gravenhage, foto dua perempuan yang sedang bercengkerama, salah satunya sedang menggendong anak sementara satunya lagi sedang menjalin senar nilon untuk jala, menjadi gambaran dua peran yang berbeda telah dijalani kaum perempuan pada masa itu. Bagi masyarakat nelayan di pantai utara Jawa, membuat dan memperbaiki jalinan jala dengan senar nilon justru kerap dilakukan oleh kaum laki-laki sebelum mereka melaut.

Selain kain songket emas Palembang koleksi Edi Sunaryo, dipamerkan selembar kain batik tulis asal Jambi dalam motif kaligrafi dalam warna indigo/nila yang berkembang sejak pertengahan abad ke-20. Sejarah batik di Indonesia hingga saat ini bisa dikatakan minim. Jika menilik pada Art Dictionary book, hanya ada dua kata yang berasal dari nusantara yakni batik dan bambu (bamboo) sebagai kekayaan salah satu kekayaan dunia. Pada masanya batik lebih banyak berkembang di Jawa. Batik kaligrafi Jambi dengan pola isian yang cukup dinamis dan sudah berkembang sejak pertengahan abad ke-20 tentu tidak datang dengan tiba-tiba.

Pameran foto warna-warni kehidupan "Sumatra 1947" berlangsung sampai tanggal 10 Maret 2019 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No 2 Yogyakarta.

Editor : Sotyati

Back to Home