Loading...
EDITORIAL
Penulis: Redaksi Editorial 23:55 WIB | Selasa, 27 Oktober 2020

Sumpah Pemuda dan Pandemi: Sains, Persatuan dan Solidaritas

Foto dokumentasi yang menampilkan peserta Kongres Pemuda Kedua, (27-28 Oktober 1928) di Jakarta. (Foto: dok. Ist.)

SATUHARAPAN.COM-Hari ini, bangsa Indonesia memperingati Sumpah Pemuda, satu momen penting kebangsaan dalam menuju Indonesia merdeka. Peristiwa 92 tahun lalu itu adalah Kongres Pemuda kedua, diselenggarakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta (Batavia).

Peserta yang hadir dalam kongres kedua itu datang dari organisasi pemuda dari berbagai daerah di seluruh Tanah Air:  Pemuda Jawa, Ambon, Sulawesi, Betawi, dan yang lain. Meskipun yang tercatat namanya hanya 75 orang, ada sekitar 750 pemuda yang mewakili pemuda di seluruh wilayah yang ketika itu disebut sebagai Hindia Belanda.

Mereka itulah yang kemudian membentuk Pemuda Indonesia, dan bukan lagi kelompok pemuda Sumatera, pemuda Islam, pemuda Tionghoa, atau pemuda Batak, atau pemuda Kristen.

Sejauh ini ada 13 nama yang disebut sebagai “tokoh” dalam Sumpah Pemuda, dan mereka berasal dari berbagai latar belakang: pelajar, mahasiswa, pejuang pendidikan, cendekiawan, sastrawan, ahli hukum, dokter, komponis, pengusaha, dan tentu aktivis organisasi.

Mereka itu adalah Soegondo Djojopuspito, Moehammad Yamin,Wage Rudolf Soepratman, Amir Syarifuddin Harahap, Sie Kong Liong, Sarmidi Mangoensarkoro, Soenario Sastrowardoyo, Djoko Marsaid, Johannes Leimena, Kartosiewirjo, Kasman Singodimedjo, Mohammad Roem, dan A.K Gani.

Selain usia mereka yang muda dengan semangat perjuangan untuk membangun kebangsaan dan kemudian untuk Indonesia merdeka, ada beberapa hal yang khas dari mereka yang menjadi motor Sumpah Pemuda ini, yaitu perhatiannya pada sains atau ilmu pengetahuan (science), persatuan (unity), dan solidaritas (solidarity).

Sain dan Ilmu Pengetahuan

Para tokoh dan peserta Konggres Pemuda kedua sebagian besar adalah pelajar dan mahasiswa, dan aktivis organisasi. Mereka juga kaum profesional di bidang bisnis, hukum, pendidikan, dan kedokteran.

Dengan kata lain bahwa peserta kongres adalah orang-orang pribumi yang berada di garis depan di bidang sains, ilmu pengetahuan dan teknologi, yang paling maju pada masa itu di Tanah Air.

Ilmu pengetahuan dan wawasan yang mereka miliki itulah yang mampu membuat mereka mengeluarkan gagasan yang brilian dan visi yang jauh ke depan bagi bangsa Indonesia. Bahkan gagasan mereka terus relevan bagi bangsa ini, jauh melampau masa hidup mereka.

Ilmu pengetahuan dan intelektualitas yang dimiliki mereka gunakan untuk membangun visi jauh bagi bangsa Indonesia, menjangkau kepentingan yang lebih luas daripada sekadar kepentingan pribadi atau kelompok, tetapi untuk sebuah bangsa yang besar.

Merefleksikan hal ini, kita yang diwarisi kehidupan dalam Indonesia merdeka ini telah berada pada masa di mana sain, ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang begitu pesat. Para tokoh sumpah pemuda adalah intektual di masa bangsa ini hidup pada era agraris yang tradisional. Jadi, kita di era digital 4.0 semestinya jauh lebih intensif mengembangkan dan menggunakan ilmu pengetahuan yang kita kuasai untuk kemajuan bangsa.

Persatuan

Pernyataan Kongres Pemuda yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda melontarkan gagasan dalam pernyataan yang sangat kuat di bidang persatuan, yang dilatar belakangi kedasaran, pengakuan dan penerimaan atas kenyataan kebhinekaan bangsa ini.

Pernyataan yang kuat di bidang persatuan itu mencakup: memiliki Satu Tanah Air, hidup sebagai Satu Bangsa, dan berinteraksi dengan Satu Bahasa. Dan itu adalah Indonesia yang menjadi milik bersama, dan habitat bersama bagi seluruh warganya dalam kesetaraan.

Perlakuan diskriminatif, meniadakan kesetaraan bagi setiap warga dalam berbagai hal: kesempatan, hukum, dan menjalani kehidupan yang bermartabat, adalah pengkhianatan terhadap pesan Sumpah Pemuda.

Dalam konteks kita sekarang ini, justru pesan Persatuan ini yang masih harus terus diperjuangkan. Tanah Air kita masih menghadapi pihak-pihak yang ingin memecah belah, sebagai satu bangsa menghadapi masalah-masalah segregasi dan pemisahan, Bahasa Persatuan kita masih harus berjuang sebagai bahasa yang dibanggakan, dan menghadapi munculnya “bahasa kebencian” ketimbang “bahasa persaudaraan.”

Solidaritas

Solidaritas sangat terlihat dalam gagasan terselenggaranya kongres pemuda. Ini bukan hanya terbatas pada kesadaran akan perlunya seluruh kompenen bangsa bersatu untuk berjuang mencapai Indonesia merdeka, tetapi juga dengan penerimaan yang tulus pada semua pihak.

Para peserta kongres yang mewakili berbagai suku dan wilayah tidak dilihat dan dibedakan karena berapa besar kelompok yang mereka wakili. Ini tidak didasarkan pada siapa yang mayoritas dan siapa yang hanya kelompok minor.

Solidaritas yang tercermin pada kongres ini muncul karena kesadaran akan situasi yang sama yang dihadapi: kesengsaraan akibat penjajahan. Kesadaran akan situasi yang dihadapi dan menuntut untuk hidup bermartabat sebagai bangsa, agar kemudian memiliki kekuatan untuk meraih kemerdekaan.

Kesadaran itu muncul dari solidaritas satu sama lain akan nasib yang dihadapi bangsa ini. Sebagai kaum intelektual masa itu, mereka bisa saja memilih untuk membangun zona nyaman sebagai “kaki tangan” kolonial Belanda. Tetapi mereka memilih untuk membangun solidaritas bagi nasib bangsa Indonesia yang lebih luas.

Situasi Pandemi

Situasi yang dihadapi bangsa Indonesia semasa Sumpah Pemuda, memiliki kesejajaran dengan situasi kita sekarang yang menghadapai pandemi COVID-19. Masalah ini bisa menjadi titik awal keruntuhan kehidupan bangsa kita secara ekonomi dan sosial, dan bahkan juga akan berpengaruh secara politik.

Dalam momen ini, para tokoh dan peserta Kongres Pemuda telah memberi teladan dengan perhatian serius pada: sains (ilmu pengetahuan) untuk bangsa, membangun dan menjaga persatuan, dan membangun solidaritas antar warga bangsa, bahkan solidaritan kemanusiaan secara global.

Sain, persatuan dan solidaritas tampaknya merupakan vaksin dan obat yang dibutuhkan untuk mengatasi pandemi dan dampaknya. Vaksin COVID-19 dan obat yang mungkin akan ditemukan di masa depan, adalah bagian dari hasil memanfaat sains untuk bangsa, untuk mengatasi situasi. Tetapi tanpa persatuan dan solidaritas, vaksin dan obat COVID-19 bisa tidak bermanfaat secara maksimal.

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home