Loading...
INSPIRASI
Penulis: Katherina Tedja 01:00 WIB | Senin, 09 Maret 2015

Syukur dalam Sebutir Nasi

Betapa saya kerap lupa bersyukur untuk makanan yang saya santap...
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – ”Jadi berapa harganya?” Saya kembali bertanya untuk mendapatkan penegasan karena pramuniaga toko baru saja mengoreksi harga yang diberitahukannya kepada saya beberapa detik sebelumnya. ”Susah dapatnya, Bu…” tuturnya, seakan mohon maklum.

Ah… Mas Pramuniaga ini… apakah dikiranya saya baru tiba dari Venus sehingga tidak tahu perkembangan yang terjadi di negara sendiri. Namun, persentuhan saya dengan pasar beras, setelah berita beras langka… memang baru pertama kali itu… itu pun disebabkan karena beras saya habis.

Sambil membayar… saya sedikit tercenung… karena meski kenaikan itu masih terbayarkan oleh saya dan sebagian besar bangsa… ada sebagian bangsa, yang mungkin populasinya lebih besar, tidak sanggup lagi membeli beras…

Telah menjadi kenyataan gamblang, bahwa beras telah menjadi makanan pokok populer di negara kita. Ungkapan ”Belum makan, jika tidak makan nasi.” menjadi klise sekaligus harus diakui kebenarannya.

Saya sendiri bukannya tidak pernah mempertimbangkan untuk beralih ke makanan pokok lain atau menggantikan beras dengan makanan lain. Namun, untuk kehidupan di kota—tempat kita harus membayar apa pun yang kita makan, karena tidak menanam sendiri—beras masih menjadi yang termurah, termudah, dan terpraktis… (dibutuhkan lebih dari 2 porsi singkong atau ubi   untuk memenuhi kebutuhan kalori yang dicukupi 1 porsi beras).

Namun demikian, saya tetap yakin… harga beras akan kembali normal. Perkembangan jangka pendek dalam perekonomian selalu tidak terduga. Tetapi, ketika kita memberi waktu dan tidak turut serta dalam menyumbang kepanikan… maka unsur-unsur lain di dalam perekonomian, termasuk gaya hidup dan pendapatan, akan menyesuaikan diri…. Kira-kira demikian pernyataan yang sering saya bagikan di kelas-kelas ekonomi…

Itu juga mengapa pada saat itu saya hanya membeli 1 kilo beras. Benar saja… beras saya belum habis ketika sebuah swalayan menggelar ”operasi pasar” dan memotong harga beras sebesar 30 persen… Tidak mau kalah swalayan lain menyusul memberi potongan 35 persen, ditambah 10 persen lagi dengan persyaratan tertentu. Alhasil… saya dapat membeli beras dengan harga normal.

Malam itu saya membawa piring nasi saya ke depan pesawat televise. Berita tentang operasi pasar sedang ditayangkan… . Semoga saja saudara-saudara saya segera dapat kembali mengenyangkan perut mereka dengan makanan pokok favorit itu… nasi yang layak… dan mengenyangkan….  

Ah… betapa saya kerap lupa bersyukur untuk makanan yang saya santap… menganggap nasi yang saya makan memang wajar-wajar saja harus saya peroleh kapan saja saya menginginkannya….

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home