Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Francisca Christy Rosana 18:51 WIB | Sabtu, 11 April 2015

Tenun Bayan, Karya Perempuan NTB yang Abadi

Kendati harus bersaing dengan produk kain di era modern ini, Marni optimistis kain tenun memiliki pasar yang tak akan pernah mati, bahkan abadi karena memiliki nilai historis yang tinggi.
Denda Marni, perempuan paruh baya asal Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat perajin tenun Bayan dalam Inacraft 2015 di JCC, Jakarta, Sabtu (11/4) siang. (Foto: Francisca Christy Rosana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Indonesia menyimpan tangan-tangan perempuan penghasil karya seni yang patut diakui keelokannya. Melalui alat kayu sederhana, perempuan-perempuan daerah ini berhasil menyulap benang mentah menjadi lembaran kain yang artistik bernama kain tenun.

Denda Marni, perempuan paruh baya asal Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat adalah salah satu pemilik tangan penghasil karya seni bernilai tinggi ini. Kendati harus bersaing dengan produk kain di era modern ini, Marni optimistis kain tenun memiliki pasar yang tak akan pernah mati, bahkan abadi karena memiliki nilai historis yang tinggi.

Kerajinan tenun awalnya merupakan tradisi menenun kain yang digunakan pada tiap acara atau kegiatan adat di Desa Bayan. Para perajin tenun umumnya perempuan dengan usia mulai remaja hingga orang tua. Pembuatan tenun dilakukan secara berkelompok. Perkembangan teknologi informasi serta terbukanya akses pasar menjadikan industri ini justru semakin berkembang.

Dengan mempertahankan motif khas yang merupakan adat istiadat, menjadikan industri ini sebagai salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Lombok Utara. Hasil kerajinan tenun banyak dimanfaatkan untuk selendang, baju, souvenir,dan pakaian adat khas Lombok Utara.

“Pembuat songket turun-temurun, ada hubungannya dengan adat di Bayan. Adatnya masih sakral, untuk ritual.  Kain ini digunakan untuk segenap upacara religi, baik upacara Islam, Buddha, maupun Hindu. Kain ini untuk memenuhi kebutuhan upacara adat,” ujar Marni kepada satuharapan.com dalam Inacraft 2015 di JCC, Jakarta, Sabtu (11/4) siang.

Mengikuti tren perkembangan zaman, penenun pun menyesuaikannya menggunakan warna-warna yang lebih hidup. Kendati demikian, warna alam sebagai warna asli kain tenun tak dikesampingkan. Sementara itu, Marni menjelaskan masing-masing motif memiliki nama dan fungsi yang berbeda.

Tak hanya digunakan untuk upacara adat dan agama seperti kitanan dan pernikahan, kini tenun pun digunakan untuk acara-acara formal seperti rapat dan sebagainya.  

Meski pembuatannya dilakukan secara manual dan memakan waktu yang cukup lama untuk proses produksi, yakni berkisar empat hingga tujuh hari, Marni mengakui kain tenunt tak dijual dengan harga yang tinggi.

Untuk kain berukuran 1,5 meter, ia menjualnya seharga Rp 80.000.

“Untuk kain 1,5 meter ini benangnya sekitar 15 biji, pakai benang khusus. Seluruhnya menggunakan benang khusus. Kalau warna alam pewarnanya dari kunyit, serat kayu, daun tarum, daun jati, banten atau tengir, kami juga pakai kulit mengkudu, dan kulit kayu suren,” ujar Marni yang telah mengikuti ekshibisi Inacraft sejak tahun lalu ini.

Hingga saat ini, kain tenun asli Bayan telah dipasarkan hingga Bogor. Pengiriman pun dilakukan rutin setiap bulan dengan jumlah sesuai pesanan. Marni dengan kelompok usaha kecil menengah (UKM) nya juga bisa dihubungi melalui 081907661868.  

Editor : Eben Ezer Siadari

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home