Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 07:49 WIB | Rabu, 09 Oktober 2019

WHO: Kurang Aktivitas Luar Ruang Ganggu Kesehatan Mata

Seorang gadis kecil di Lima, Peru tengah menjalani tes kesehatan mata. (Foto: dari WHO)

JENEWA, SATUHARAPAN.COM – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan angka yang mengejutkan bahwa sekitar 2,2 miliar orang menderita gangguan penglihatan, terutama terkait dengan kurangnya aktivitas di luar ruang dan berolahraga.

Dalam situs PBB, WHO menyoroti bukti yang menunjukkan bahwa masalah kesehatan mata semakin terkait dengan pilihan gaya hidup, termasuk waktu yang dihabiskan di depan layar monitor.

Anak-anak muda ada di antara mereka yang berisiko, kata Dr Alarcos Cieza dari WHO, hari Selasa (8/10) di Jenewa, Swiss.

Pada anak-anak, katanya, salah satu faktor yang dapat mempengaruhi miopia, adalah tidak menghabiskan cukup waktu berada di luar rumah. “Ini adalah tren yang sudah diamati di beberapa negara, termasuk di China,” katanya.

"Tentu saja, ini adalah tren yang dapat kita prediksi di negara lain jika mereka memiliki kebiasaan sehari-hari seperti itu, terutama pada anak-anak."

Dia mengatakan bahwa pada dasarnya, mata ‘tidak pernah rileks' ketika kita berada di dalam ruangan. Jadi, masalahnya jika kita sering berada di dalam ruangan, lensa di mata kita jarang rileks, kata Stuart Keel, juga dokter dari WHO.

"Ketika Anda berada di dalam ruangan, lensa di dalam mata Anda berada dalam kondisi flex penuh, atau lensa itu tertekuk. Tetapi ketika Anda berada di luar, lensa itu bagus dan santai," katanya menjelaskan.

Dijelaskan bahwa kondisi yang lebih berpengaruh ketika banyak menghabiskan waktu di depan layar monitor.

Kasus di China

Menunjuk data ilmiah baru-baru ini dari China yang menyelidiki "hubungan yang jelas" antara waktu yang dihabiskan di luar ruangan dan timbulnya keterlambatan penglihatan tahap selanjutnya. Dr Keel memperingatkan risiko tentang kegiatan dengan "tugas (melihat) dekat" seperti menonton video di komputer, atau tablet.

Kondisi mata dan gangguan penglihatan tersebar luas, dan terlalu sering mereka yang menderita masih tidak diobati, kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

"Tidak dapat diterima bahwa (di seluruh dunia) 65 juta orang buta atau memiliki penglihatan yang buruk, padahal penglihatan mereka bisa diperbaiki hanya semalam dengan operasi katarak. Atau bahwa lebih dari 800 juta orang berjuang dengan penglihatan buruk dalam kegiatan sehari-hari, karena mereka tidak memiliki akses mendapatkan kacamata."

Pertumbuhan populasi dan penuaan - bersama dengan perubahan gaya hidup dan urbanisasi - juga akan "secara dramatis meningkatkan" jumlah orang dengan kondisi mata, gangguan penglihatan dan kebutaan dalam beberapa dekade mendatang, kata laporan WHO.

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home